Diminta jadi Mediator Korsel-Korut, China: Kami Mainkan Peran dengan Cara Sendiri

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Mao Ning
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Mao Ning

 Kementerian Luar Negeri China mengatakan pihaknya akan terus memainkan peran dengan caranya sendiri saat diminta untuk menjadi mediator hubungan antara Korea Selatan dan Korea Utara.

"Menjaga perdamaian dan stabilitas di Semenanjung Korea merupakan kepentingan bersama semua pihak. China akan terus memainkan peran konstruktif dengan caranya sendiri untuk tujuan ini," kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Mao Ning dalam konferensi pers di Beijing, dikutip Kamis, 8 Januari 2026.

Presiden Korea Selatan, Lee Jae Myung

Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung saat bertemu dengan Presiden Xi Jinping pada Senin, 5 Januari 2026 mengatakan bahwa ia telah meminta Xi untuk memainkan peran mediasi dalam perbaikan hubungan Korea Selatan dan Korea Utara dan memulai kembali pembicaraan tentang program nuklir Pyongyang.

Presiden Lee mengatakan penting untuk membekukan program nuklir dan rudal Korea Utara terlebih dahulu guna mencegah perluasan persenjataan nuklir dan proliferasi senjata nuklirnya.

Kepala Negara Korsel itu menilai China memiliki pandangan yang sama dengannya.

Lee juga menyebut bahwa semua saluran komunikasi antara Korea Utara dan Korea Selatan saat ini telah terblokir dan terdapat “nol kepercayaan” antara kedua negara. Ia berharap China dapat berperan sebagai mediator untuk perdamaian di kawasan tersebut.

Xi menanggapi dengan menyerukan agar Seoul menunjukkan “kesabaran” dalam hubungannya dengan Pyongyang mengingat tingkat ketegangan yang tinggi.

Mao Ning juga menyatakan bahwa kedua presiden mencapai pemahaman penting tentang saling menghormati kepentingan inti masing‑masing negara, serta memperkuat koordinasi kebijakan dan kerja sama dalam urusan internasional dan multilateral.

"China siap bekerja sama dengan Korea Selatan untuk mewujudkan kesepahaman penting antara kedua presiden, meningkatkan komunikasi dan koordinasi, memperdalam kerja sama di berbagai bidang, memperluas kepentingan bersama, dan mencapai hasil yang lebih nyata untuk kepentingan kedua bangsa," ujar Mao Ning.

Pada Senin, 5 Januari 2026, Pyongyang mengkonfirmasi telah melakukan uji coba rudal hipersonik, dengan pemimpin Kim Jong Un mengatakan penting untuk "memperluas, pencegahan nuklir" mengingat "krisis geopolitik baru-baru ini" merujuk pada serangan Amerika Serikat terhadap Venezuela dan penculikan Presiden Venezuela Nicolas Maduro.

China diketahui sebagai mitra dagang terbesar Korea Utara dan pendukung diplomatik utamanya.

VIVA Militer: Pemimpin Tertinggi Korea Utara, Kim Jong-un

VIVA Militer: Pemimpin Tertinggi Korea Utara, Kim Jong-un

China sesungguhnya telah mendesak semua pihak yang terlibat dalam masalah di Semenanjung Korea untuk menahan diri, serta dalam beberapa tahun terakhir berulang kali mencegah upaya AS dan pihak lain untuk memperketat sanksi terhadap Korea Utara meskipun uji coba senjatanya dilarang berdasarkan resolusi PBB.

Korea Utara menolak untuk terlibat dalam dialog dengan Korea Selatan dan AS, serta telah mengambil langkah-langkah untuk memperluas persenjataan nuklirnya. (Ant)