Bukan Murah, Kini Hunian yang Bisa Jadi Ruang Hidup Lebih Diminati

Ilustrasi rumah/hunian.
Ilustrasi rumah/hunian.

 Kebutuhan hunian bagi mahasiswa dan anak rantau pada 2025 menunjukkan pergeseran signifikan. Tempat tinggal tidak lagi dinilai semata dari harga terjangkau dan ukuran kamar, melainkan dari kualitas pengelolaan, rasa aman, fasilitas penunjang aktivitas, hingga lingkungan sosial yang mendukung keseharian. Perubahan ini sejalan dengan gaya hidup urban yang semakin dinamis serta meningkatnya kesadaran akan kesehatan mental dan produktivitas.

Di kota-kota dengan mobilitas tinggi dan populasi mahasiswa maupun pekerja muda yang besar, hunian mulai diposisikan sebagai ruang hidup yang berfungsi lebih luas. Tidak hanya untuk beristirahat, tetapi juga untuk bekerja, belajar, bersosialisasi, dan membangun rutinitas yang lebih seimbang. Depok dan sejumlah kota besar lainnya menjadi contoh kawasan dengan kebutuhan hunian seperti ini yang kian terasa. Scroll untuk info lengkapnya, yuk!

Perubahan pola kebutuhan tersebut turut mendorong munculnya konsep hunian dengan pengelolaan lebih terstruktur dan fleksibel. Salah satunya terlihat dari pendekatan hybrid stay—harian, mingguan, hingga bulanan—yang dinilai relevan bagi mahasiswa, pekerja remote, maupun perantau dengan kebutuhan tinggal jangka menengah.

Dicky Syan, Co-Founder & CEO Behomy, melihat tantangan anak rantau bukan hanya soal mencari tempat tinggal, tetapi juga soal kenyamanan, keamanan, dan lingkungan yang mendukung keseharian.

“Karena itu, Behomy mengembangkan hunian modern dengan standar layanan yang konsisten, fasilitas yang relevan, dan komunitas aktif agar penghuni merasa lebih ‘pulang’ dan lebih siap menjalani aktivitas,” ujar Dicky dalam keterangannya, dikutip Rabu 17 Desember 2025. 

Dari sisi pengelolaan, hunian modern kini banyak mengadopsi standar layanan yang lebih rapi dan terukur. Penerapan SOP kebersihan, keamanan, serta sistem respons terhadap keluhan menjadi aspek yang semakin diperhatikan penghuni, terutama mereka yang sebelumnya kerap menghadapi masalah di kost konvensional.

Di sejumlah properti yang dikelola secara profesional, fasilitas seperti Wi-Fi, dapur bersama, coworking space, hingga keamanan 24 jam mulai dianggap sebagai kebutuhan dasar. Dukungan sistem digital untuk pembayaran dan penanganan komplain juga dinilai memberikan kepastian layanan bagi penghuni.

“Aku sudah tiga kali pindah kos sebelumnya karena masalah kebersihan dan pengelolaan. Di Behomy semuanya terasa beda. Rapi, aman, nyaman, dan ada sistem manajemen yang jelas. Bahkan urusan pembayaran dan komplain semuanya ditangani dengan sangat baik dan cepat. Rasanya benar-benar seperti punya rumah kedua,” ujar IR, mahasiswa semester enam.

Selain fasilitas fisik, faktor dukungan sosial menjadi perhatian tersendiri bagi anak rantau yang tinggal jauh dari keluarga. Lingkungan yang memungkinkan interaksi sehat dinilai dapat membantu menjaga keseimbangan emosional sekaligus meningkatkan produktivitas.

Karena itu, beberapa hunian mulai menghadirkan program komunitas, seperti kegiatan olahraga bersama, nonton bareng, hingga diskusi dan webinar. Aktivitas ini dirancang untuk menciptakan rasa kebersamaan dan mengurangi isolasi sosial yang kerap dialami mahasiswa maupun pekerja remote.

“Tempat tinggal bukan hanya soal kasur dan tembok. Ketika ada teman buat ngobrol atau olahraga bareng, hidup jadi lebih ringan. Aku jadi lebih produktif dan nggak gampang stres,” ujar AY, pekerja remote dan penghuni.

Dengan tren kebutuhan hunian yang semakin kompleks, fleksibilitas durasi tinggal juga menjadi pertimbangan penting. Skema sewa yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan jangka pendek hingga menengah memberi alternatif bagi mereka yang sedang beradaptasi dengan kuliah, pekerjaan baru, atau proyek sementara.

Ke depan, perubahan cara pandang terhadap hunian mahasiswa dan anak rantau ini menunjukkan bahwa tempat tinggal kian diperlakukan sebagai bagian dari kualitas hidup. Bukan lagi sekadar tempat singgah, melainkan ruang yang mendukung keseharian, relasi sosial, dan produktivitas generasi muda di kota-kota besar.