Jelang Tutup Tahun 2025, Muncul Smartphone Bebas Mata-mata dengan Privasi Tingkat Dewa
Menjelang tutup tahun 2025, ponsel pintar atau smartphone baru hadir yang menawarkan privasi tinggi.
Kali ini, sistem operasi atau OS bukan dari iOS maupun Android melainkan Linux. Jolla, perusahaan teknologi asal Finlandia, baru saja merilis Jolla Phone, smartphone kedua mereka sejak rilis perdana pada 2013.
Perangkat yang rilis pada 9 Desember kemarin itu bukan sekadar gadget, tapi janji kebebasan digital, tanpa modul analitik tersembunyi, tanpa pengiriman data diam-diam, dan dengan tombol privasi fisik untuk mematikan kamera atau microfon seketika.
Sebagai informasi, Jolla Phone berjalan menggunakan Sailfish OS 5, sistem operasi berbasis Linux yang diklaim sebagai salah satu dari sedikit OS seluler alternatif selain Android dan iOS saat ini.
Karena berbasis Linux, Sailfish OS dibangun tanpa integrasi layanan Google secara bawaan dan tanpa pelacakan data tersembunyi, sehingga privasi penggunanya menjadi prioritas utama. Meski demikian, Jolla tetap mempertimbangkan kemudahan bagi pengguna.
Melalui komponen kompatibilitas bernama AppSupport, banyak aplikasi Android tetap bisa dijalankan di Jolla Phone.
Artinya, pengguna tidak harus sepenuhnya kehilangan akses ke layanan populer Android, namun tetap dalam lingkungan lebih privat.
Keunggulan paling menonjol dari Jolla Phone adalah fokus pada privasi. Ponsel pintar ini dilengkapi dengan tombol fisik khusus atau privacy switch, memungkinkan pengguna mematikan fungsi kamera, mikrofon, Bluetooth, atau sensor lainnya secara instan.
Sistem operasi Sailfish OS ini juga dirancang tanpa pelacakan latar belakang atau pengumpulan data pengguna secara default, berbeda dengan praktik umum pada Android maupun iOS.
Dengan demikian, pengguna memiliki ruang privasi lebih besar dan potensi penyalahgunaan data diminimalkan secara signifikan.
Kendati bukan smartphone flagship dengan spesifikasi kelas atas, Jolla Phone menawarkan konfigurasi cukup kompetitif bagi kebutuhan harian, termasuk layar AMOLED 6,36 inci Full HD+, RAM 12GB, dan penyimpanan internal atau ROM 256GB yang bisa diperluas hingga 2TB via microSD.
Sementara itu, sistem kamera belakangnya terdiri dari kamera utama 50MP dan lensa ultrawide 13MP diklaim cukup untuk pengguna kasual dan kebutuhan dokumentasi biasa, seperti dilansir dari GSM Arena, Senin, 15 Desember 2025.
Untuk baterai, Jolla memilih menggunakan baterai dapat dilepas pasang atau removable berkapasitas 5.500mAh.
Sebagai pengingat, fitur baterai itu kini kian langka ditemukan di smartphone modern, dan memungkinkan pengguna mengganti sendiri baterai bila perlu.
Di sisi konektivitas, Jolla Phone mendukung jaringan 5G, dual-SIM, serta konektivitas umum termasuk Wi-Fi dan NFC.
Smartphone ini juga mendukung opsi untuk mengganti penutup belakang dengan varian warna berbeda, memberi fleksibilitas dalam tampilan fisik.
Jolla menetapkan 2.000 unit sebelum 4 Januari 2026 sebagai target awal, dan hingga saat ini, Jolla Phone telah dipesan lebih dari 1.200 unit.
Hal ini menandakan minat cukup tinggi dari calon pengguna yang mendambakan smartphone privat. Untuk pre-order, konsumen cukup membayar deposit sekitar 99 Euro (Rp2 juta).
Bila target tercapai, estimasi harga akhir diperkirakan 499 Euro (Rp9,7 juta). Namun, jika kampanye gagal, konsumen akan mendapatkan pengembalian dana penuh.
Pendekatan ini menunjukkan bahwa Jolla tidak akan menjual secara massal produknya terlebih dulu, melainkan berdasarkan basis komunitas dan minat nyata.
Jolla Phone menunjukkan bahwa masih ada ruang untuk smartphone berbasis Linux dengan nilai privasi tinggi.
Dengan Sailfish OS 5, dukungan Android melalui AppSupport, tombol fisik untuk kontrol privasi, serta hardware fleksibel, perangkat ini menjadi pilihan menarik bagi pengguna yang ingin menguasai kembali data dan kontrol atas ponsel pintarnya.