Peringatan Apple, Pengguna iPhone Tinggalkan Google Chrome
- Apple memperingatkan pengguna iPhone, iPad, dan Mac agar tidak menggunakan Google Chrome, dengan alasan Safari menawarkan perlindungan privasi lebih kuat, mulai dari pencegahan fingerprinting, pemblokiran pelacakan lintas situs, hingga fitur keamanan seperti Private Browsing, Privacy Report, dan Passkeys. Apple juga menilai aplikasi Google mengambil lebih banyak data pengguna dibanding Safari.
- Peringatan Apple muncul di tengah penurunan pangsa pasar Safari di iPhone, yang turun dari 14,37 persen (2024) menjadi 11,49 persen (2025), sementara Chrome stagnan di sekitar 2 persen. Pada saat yang sama, Google kembali mengizinkan fingerprinting dan menambahkan AI Gemini ke Chrome, yang disebut analis dapat memunculkan risiko keamanan baru seperti indirect prompt injection.
- Apple memberikan peringatan bagi para pengguna iPhone, iPad, dan Mac agar sebaiknya tidak menggunakan peramban (browser) internet buatan Google, yaitu Chrome.
Peringatan ini bisa dibilang dicantumkan secara "halus" dan tak langsung dalam situs web resmi Safari.
Di sana, Apple mengeklaim bahwa peramban bawaan (default) mereka menawarkan perlindungan privasi yang lebih baik dibanding Chrome.
Salah satu contoh kekhawatiran Apple adalah soal Fingerprinting. Ini merupakan istilah di mana sebuah browser mengambil banyak data pengguna untuk pelacakan dan perekaman identitas di internet.
Data-data yang diambil bervariasi, mulai dari riwayat penjelajahan, lokasi, penggunaan aplikasi, data personal dan kebiasaan pengguna untuk kebutuhan iklan, dan masih banyak lagi.
"Safari berupaya mencegah pengiklan dan situs web menggunakan kombinasi karakteristik unik dari perangkat Anda untuk membuat 'sidik jari' atau fingerprint guna melacak Anda," tulis Apple di web resmi mereka untuk Safari.
"Untuk memerangi teknik Fingerprinting, Safari menampilkan versi konfigurasi sistem perangkat pengguna yang disederhanakan, sehingga perangkat pengguna di internet terlihat identik dan sulit dibedakan dari pengguna lain," tambah Apple.
Apple juga menyebut Safari memiliki beragam fitur untuk membuat pengalaman menjelajah internet aman dan privat. Beberapa di antaranya seperti:
- Intelligent Tracking Prevention: Safari, dengan bantuan kecerdasan buatan (AI), secara otomatis membatasi pelacakan lintas situs dengan memblokir metode pelacakan yang digunakan pengiklan.
- Private Browsing: Mode penjelajahan yang mencegah riwayat, cookie, dan data pencarian disimpan di perangkat pengguna.
- Privacy Report: Laporan yang menampilkan situs-situs yang dicegah Safari melakukan pelacakan terhadap aktivitas pengguna.
- Fingerprint Defence: Mekanisme perlindungan yang membuat konfigurasi perangkat pengguna tampak lebih umum agar sulit diidentifikasi oleh pelacak.
- Passkeys: Metode login bebas kata sandi yang menggunakan enkripsi aman di perangkat pengguna untuk menggantikan password tradisional.
Google Search di peramban/browser Safari iPhone.
Apple juga menyebut Safari sudah dioptimalkan untuk mendukung beragam aplikasi pihak ketiga, seperti Google Docs, Sheets, Slides, dkk.
Sehingga, pengguna iPhone, iPad, dan Mac tak perlu pakai Chrome untuk mengakses dan membuat dokumen di Google.
Selain Chrome, Apple juga mengimbau pengguna untuk tak mencoba dan mengunduh aplikasi Google. Sebab, aplikasi ini dinilai lebih berbahaya lantaran lebih banyak mengambil data dari Chrome.
Takut kalah saing?
Saat ini, Safari sendiri masih menjadi browser favorit di iPhone dibanding Chrome.
Berdasarkan data GSStatCounter, Safari iPhone memiliki pangsa pasar (market share) 11,49 persen per November 2025. Sementara untuk Chrome for iPhone hanya memiliki market share 2,25 persen di periode yang sama.
Namun jika dilihat seksama dan dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu (November 2024), pangsa pasar Safari iPhone tampak turun.
Kala itu, market share Safari di iPhone mencapai 14,37 persen. Artinya, ada kemungkinan Apple khawatir dan takut pangsa pasar Safari terus turun, dan Chrome semakin populer dan dipakai para penggunanya.
Adapun market share Chrome di iPhone tampak stagnan di sekitar 2 persen. Sehingga, pengguna iPhone boleh jadi memakai browser lain juga selain Chrome.
Secara keseluruhan, menurut data GSStatCounter juga, Chrome untuk Android masih menjadi browser paling banyak dipakai di dunia dengan pangsa pasar 38,98 persen.
Google izinkan Fingerprinting
Ilustrasi sistem operasi (OS) Android dan ChromeOS.
Sekadar informasi, kekhawatiran Apple juga timbul karena Google mengizinkan penggunaan teknik Fingerprinting di Chrome pada awal 2025 ini. Sebelumnya, teknik pengambilan data ini tidak diperbolehkan.
Langkah tersebut dinilai meningkatkan risiko privasi karena metode tersebut menggabungkan berbagai data perangkat menjadi identitas unik yang dapat dilacak lintas situs.
Pada saat yang sama, Google juga mulai mengintegrasikan AI Gemini ke dalam Chrome. Para analis, termasuk Google sendiri, menilai hal ini dapat membuka pintu ancaman baru, seperti indirect prompt injection.
Ini merupakan serangan siber baru, di mana konten berbahaya pada situs web bisa memicu AI menjalankan tindakan tanpa izin, termasuk transaksi keuangan atau pengiriman data sensitif.
Untuk menangani hal ini, Google mengatakan pihaknya menerapkan sistem pertahanan berlapis, sebagaimana dirangkum KompasTekno dari Forbes, Kamis (11/12/2025).
Di antaranya seperti pemblokiran langsung terhadap aktivitas yang tak wajar, mendeteksi akses internet yang mencurigakan, serta penambahan model Gemini kedua untuk mengatasi risiko keamanan di model pertama.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang