Pengakuan Paul Van Gastel Usai PSIM DIhajar Persija
Pelatih PSIM Yogyakarta, Jean Paul Van Gastel, tak bisa menutupi kekagumannya usai merasakan langsung atmosfir Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK). Laga kontra Persija Jakarta menjadi debut sang juru taktik asal Belanda di salah satu kandang paling bergelora di Asia.
Van Gastel bukan nama sembarangan. Dengan pengalaman panjang di Eropa sebagai asisten pelatih di raksasa Turki, Besiktas, serta klub top Belanda, Feyenoord, ia terbiasa menghadapi atmosfer stadion yang panas. Namun GBK tetap memberi kesan spesial untuk pelatih 53 tahun itu.
“Saya menikmati suasana pertandingan ini. Suporternya luar biasa, atmosfernya hebat,” ujar Van Gastel seusai laga, Jumat malam
“Kalau dibandingkan dengan klub yang pernah saya tangani, suasananya sama-sama meriah. Saya suka semuanya.”
Ia juga memberi apresiasi kepada kiper PSIM, Fikri, yang tampil berani di laga besar pertama menghadapi Persija. “Saya menghargai penampilannya. Tidak mudah bermain di pertandingan sebesar ini,” tambahnya.
Sayangnya, malam penuh decak kagum itu tak berakhir manis bagi PSIM. Skuad Laskar Mataram harus mengakui ketangguhan Macan Kemayoran yang menang 2-0 lewat gol Maxwell De Souza pada menit ke-77 dan Allano di masa injury time.
“Persija pantas menang. Kami tidak bermain buruk, tapi juga tidak bermain bagus, terutama di babak pertama,” ungkap Van Gastel.
Kekalahan ini membuat PSIM gagal merangkak ke posisi lebih tinggi di klasemen. Meski begitu, Anton Fase dkk tetap kokoh di peringkat keempat dengan 22 poin capaian yang di luar dugaan banyak pihak.
“Secara umum saya bangga kepada tim. Kami berjuang untuk mendapatkan poin, sayangnya tidak tercapai. Tapi setelah 13 pertandingan, siapa yang menyangka PSIM ada di papan atas. Kami akan pemulihan, evaluasi, dan memulai lagi dari awal," ucapnya.
Atmosfer GBK mungkin meninggalkan kesan mendalam bagi Van Gastel, namun perjalanan PSIM di musim ini jelas masih jauh dari selesai. Macan Kemayoran boleh saja merayakan pesta ulang tahun, tapi Laskar Mataram tetap menyimpan ambisi besar di tangan pelatih yang kini jatuh hati pada panasnya Jakarta