Mengenal Kikyō dalam Budaya Jepang, Gimana Kalau Ditumpahkan ke Wastra Nusantara?
Dalam beberapa tahun terakhir, tren mode global semakin terbuka pada eksplorasi lintas budaya. Salah satu konsep yang mulai sering muncul dalam ranah kreatif Jepang adalah Kikyō, sebuah istilah yang sarat makna dan memiliki relevansi kuat ketika diterjemahkan ke dalam desain kontemporer.
Kikyō dalam budaya Jepang merujuk pada gagasan “kembali pulang” setelah menempuh perjalanan panjang, baik secara fisik maupun batin. Istilah ini biasa digunakan untuk menggambarkan momen ketika seseorang kembali pada akar identitasnya dengan perspektif yang lebih matang.
Dalam tradisi Jepang, Kikyō bukan sekadar pulang ke rumah, melainkan pulang ke asal-usul diri, ke nilai yang pernah membentuk seseorang, dan ke ruang simbolik tempat makna terdalam kembali direnungkan.
Konsep ini kemudian meluas dan dimaknai sebagai titik balik spiritual yang menghubungkan masa lalu dengan masa kini melalui pengalaman baru.
Dalam konteks budaya, Kikyō juga sering digunakan dalam seni dan sastra Jepang sebagai penanda jeda emosional—momen ketika seseorang berhenti, menoleh ke belakang, dan membawa pulang pemahaman yang diperoleh dari dunia luar. Karena sifatnya yang kontemplatif, Kikyō menjadi sumber inspirasi bagi banyak praktisi kreatif, termasuk desainer mode yang ingin menyelami kembali akar visual atau tradisi mereka.
Pendekatan inilah yang menjadi landasan salah satu presentasi mode Indonesia terbaru. Desainer mode Indonesia yang dikenal dengan pendekatan kontemporer terhadap wastra dan identitas budaya, Nila Baharuddin, mempersembahkan acara eksklusif bertajuk “Kikyō A Designer’s Homecoming” di Malinda Furniture Gallery Showroom, Indonesia Design District PIK 2.
Acara ini menjadi penanda kepulangannya setelah tampil pada berbagai ajang di Negeri Sakura seperti pop-up store eksklusif di FEELSEEN Ginza, Pameran New Energi di Stadium Nasional Yoyogi, dan juga pop-up store eksklusif di salah satu departemen store high-end di Jepang, Daimaru Tokyo,
Konsep Kikyō, yang berarti homecoming dalam budaya Jepang, menjadi simbol perjalanan artistik dan spiritual Nila. Dalam karya terbarunya, ia menghadirkan dialog yang harmonis antara estetika Jepang dan kekayaan budaya Indonesia. Eksplorasi lintas budaya ini menciptakan ruang artistik baru yang memungkinkan dua tradisi visual bertemu dan saling menguatkan.
Koleksi tersebut menonjolkan permainan struktur, siluet, dan volume. Kepekaan desainnya tercermin melalui eksplorasi struktur dan volume yang terinspirasi arsitektur serta lanskap alam Jepang, dipadukan dengan tekstil dan motif Nusantara yang diolah secara modern.
Komitmennya pada kerajinan tangan yang berkelanjutan menjadikan koleksi ini semakin bernilai, sekaligus menonjolkan karakter perempuan Indonesia yang kuat, lembut, dan ber keanggunan.
Tidak hanya fokus pada presentasi busana, format acara juga memadukan dua disiplin estetika. Kolaborasi dengan Malinda Furniture Gallery, kurator furniture premium yang mewakili lebih dari 30 brand internasional, menghadirkan pengalaman imersif yang menyatukan fashion dengan interior.
Sebagai bagian dari perayaan karya, Pop-Up Store eksklusif juga tersedia bagi pengunjung yang ingin membawa pulang koleksi terbatas dan Japan-exclusive pieces yang untuk pertama kalinya diperkenalkan di Indonesia.
Selain kolaborasi utama dengan Malinda Furniture Gallery, acara ini juga didukung oleh Ekles Clinic, klinik estetika premium yang dikenal dengan pendekatan personalized beauty treatment. Kehadiran Ekles Clinic sebagai sponsor memperkuat komitmen acara ini dalam merayakan estetika, keanggunan, dan ekspresi diri, selaras dengan visi karya Nila Baharuddin yang menonjolkan kecantikan autentik dan kualitas craftsmanship.
Melalui konsep Kikyō, desain wastra Nusantara mendapatkan wadah baru untuk dibaca dalam perspektif global. Hasilnya bukan hanya menunjukkan bagaimana dua budaya bertemu, tetapi bagaimana mode dapat menjadi refleksi perjalanan pulang yang membawa identitas ke tahap yang lebih matang dan relevan bagi zaman.