Sejumlah Kapal Pesiar China Tak Bersandar ke Jepang, Imbas Ketegangan
Sejumlah kapal pesiar asal China mulai mengubah rute pelayarannya untuk menghindari pelabuhan-pelabuhan di Jepang.
Hal itu terjadi imbas ketegangan diplomatik antara China dan Jepang.
Dilansir dari The Economic Times, kapal pesiar asal China yang rutin berlayar ke Jepang dan Korea Selatan, Adora Magic City menjadi salah satu operator yang menyesuaikan jadwal pelayaran. Pada bulan Desember, kapal pesiar tersebut tak lagi singgah di Fukuoka, Sasebo, dan Nagasaki.
Sebagai gantinya, kapal pesiar Adora Magic City akan memperpanjang waktu bersandar di Jeju hingga 31–57 jam. Durasi ini jauh lebih lama dari singgah biasanya yang hanya sekitar sembilan jam.
Pejabat Provinsi Jeju menyebut operator tidak memberikan alasan resmi. Namun, pihaknya menduga perubahan rute ini terkait memburuknya hubungan Tiongkok–Jepang.
“Sepertinya mereka sedang menyusun rencana cadangan,” ujar seorang pejabat Provinsi Jeju yang enggan disebut namanya.
Sementara itu, Adora Cruises selaku operator kapal pesiar belum memberikan komentar.
Menurut agen tur dan operator pelabuhan di Korea Selatan, ketegangan antara China dan Jepang memicu kekhawatiran yang kemudian berdampak pada sektor pariwisata. Turis China pun mulai mencari alternatif rute dan destinasi yang dinilai lebih aman secara politik.
Lee Yong-gun, CEO agen pelabuhan Korea Selatan Eastern Shipping, mengatakan beberapa operator kapal pesiar China tengah mempertimbangkan untuk menghindari Jepang sepenuhnya.
“Jika hubungan Tiongkok–Jepang semakin memburuk dan Tiongkok mengecualikan produk, budaya, dan pariwisata Jepang, saya perkirakan Korea akan diuntungkan,” ujar Lee Yong-gun.
Bendera China berkibar di Gerbang Xinhuamen kompleks kepemimpinan Zhongnanhai di pusat kota Beijing, China.
Operator kapal pesiar Dream yang berbasis di Tianjin disebut juga ingin mengalihkan rute ke pelabuhan Incheon atau Busan. Namun, waktu penyesuaian tidak memungkinkan dalam waktu dekat.
China merupakan sumber wisatawan terbesar bagi Jepang. Dalam sembilan bulan pertama 2025, tercatat hampir 7,5 juta wisatawan China—sekitar 25 persen dari total turis asing.
Dengan nilai tukar yen yang lemah, pengeluaran turis China di Jepang bahkan 22 persen lebih tinggi dibanding wisatawan dari negara lain.
Ketegangan China-Jepang
Ketegangan China-Jepang berawal dari kemungkinan keterlibatan militer Tokyo jika Beijing menyerang Taiwan.
Sumber ketegangan berasal dari pernyataan Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi dalam sidang parlemen Jepang pada 7 November.
Dalam kesempatan itu, Takaichi menyatakan bahwa serangan China terhadap Taiwan — yang jaraknya hanya sekitar 100 km dari wilayah Jepang — dapat dikategorikan sebagai “situasi yang mengancam kelangsungan hidup Jepang."
Dengan demikian, Takaichi menegaskan akan mengerahkan kekuatan militer Jepang saat Taiwan diserang oleh Beijing.
Ilustrasi pemandangan kota Tokyo, Jepang. Ekonomi Jepang turun 1,8 persen secara tahunan (year on year/yoy) pada kuartal III-2025. Penurunan ini lebih kecil dari perkiraan, dengan konsumsi pemerintah dan swasta membantu menahan pelemahan.
Pernyataan Takaichi segera memicu balasan cepat Beijing. China menuduh Jepang merusak kerja sama perdagangan, menghentikan impor produk laut, hingga membatalkan penayangan film.
Kedua negara bahkan sama-sama memberikan peringatan kepada warganya agar menunda perjalanan ke China maupun Jepang.
Beijing juga memperingatkan Jepang akan menemui “kekalahan telak” jika ikut campur soal isu Taiwan. Pada Kamis, China menunda pertemuan tiga arah dengan menteri kebudayaan dari Jepang dan Korea Selatan yang dijadwalkan akan diadakan pada akhir November.
Ketegangan tersebut turut memperkuat kekhawatiran keamanan di Asia Timur, khususnya terkait status Taiwan yang telah lama menjadi titik panas geopolitik.
Beijing mengeklaim Taiwan sebagai wilayahnya dan tidak menutup kemungkinan penggunaan kekuatan untuk reunifikasi.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com.