Bata Merah, Bata Ringan, atau Batako: Mana yang Paling Hemat untuk Bangun Rumah?
Membangun rumah membutuhkan banyak pertimbangan, termasuk memilih material dinding yang tepat agar proses pembangunan berjalan lancar dan hasil akhirnya sesuai harapan pemilik rumah.
Setiap material bangunan memiliki karakter yang memengaruhi kecepatan pengerjaan, kebutuhan biaya, serta kenyamanan rumah ketika sudah ditempati dalam jangka panjang.
Karena itu, pemahaman mengenai sifat dasar jenis material menjadi langkah penting sebelum menentukan pilihan terbaik untuk kebutuhan konstruksi rumah.
Bata merah, bata ringan, dan batako sering dibanding-bandingkan karena ketiganya memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing.
Lalu, kalau tujuannya ingin membangun rumah dengan lebih hemat, di antara bata merah, bata ringan, dan batako, sebenarnya mana yang paling menguntungkan untuk dipilih?
Pilih Bata Merah, Bata Ringan, atau Batako?
Dosen Teknik Sipil Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo Edy Purwanto menjelaskan, bata merah, bata ringan, dan batako memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing.
Bata merah kerap dipilih sebagai material untuk membangun rumah karena tidak perlu keahlian khusus untuk memasang, proses pengangkutan mudah karena ukuran material yang kecil, dan mudah untuk membentuk bidang kecil.
Bata ringan juga mudah didapat, tidak perlu perekat khusus, dan tahan panas sehingga bisa menahan api.
Namun, bata merah juga memiliki kekurangan. Material ini sulit menghasilkan pasangan dinding yang benar-benar rapi.
Selain itu, bata merah cenderung menyerap panas saat musim panas dan menyerap dingin saat musim dingin sehingga suhu ruangan sulit dikendalikan atau tidak stabil.
Bata merah juga memiliki kekurangan lain, yakni cenderung boros dalam penggunaan perekat, kualitas yang kurang beragam dan ukuran yang jarang sama membuat waste menjadi lebih banyak, serta butuh plesteran yang cukup tebal agar dingin rata.
Kekurangan lainnya adalah waktu pemasangan lebih lama dan memberikan beban yang cukup besar pada struktur bangunan.
“Batu bata merah harus mempunyai rusuk-rusuk yang tajam dan siku, bidang sisi harus datar, tidak menunjukkan retak-retak dan perubahan bentuk yang berlebihan, tidak mudah hancur atau patah, warna seragam, dan berbunyi nyaring bila dipukul,” jelas Edy kepada Kompas.com, Senin (10/11/2025).
Berbeda dengan bata merah, batako memiliki sejumlah keunggulan, yakni tiap meter persegi pasangan tembok membutuhkan lebih sedikit batako dibandingkan menggunakan batu bata.
Pembuatannya juga mudah dan ukuran dapat dibuat sama, ukurannya besar sehingga waktu dan ongkos pemasangan juga lebih hemat, dan bisa menjadi isolasi udara bagi batako yang berlubang.
Apabila pekerjaan rapi, batako tidak perlu diplester, lebih mudah dipotong untuk sambungan tertentu yang membutuhkan potongan, dan tidak perlu direndam air sebelum digunakan.
Batako juga kedap air sehingga peluang terjadi rembesan sangat kecil, pemasangan lebih cepat, dan penggunaan rangka beton pengakunya lebih luas antara 9-12 meter persegi.
Meski begitu, batako memiliki tiga kekurangan, yakni mudah terjadi retak rambut pada dinding, mudah dilubangi dan pecah karena ada lubang di bagian dalam, serta kurang baik untuk insulasi panas dan suara.
Edy juga menjelaskan, beberapa kelebihan bata ringan, yakni dinding menjadi lebih rapi karena ukuran dan kualitas material yang seragam, tidak memerlukan siar yang tebal sehingga menghemat penggunaan perekat, dan lebih ringan daripada bata biasa sehingga memperkecil beban struktur.
Bata ringan juga mudah diangkut, pelaksanaannya lebih cepat daripada pemakaian bata biasa, dan tidak diperlukan plesteran yang tebal, umumnya ditentukan hanya 2,5 sentimeter saja.
Material tersebut juga mempunyai kekedapan suara yang baik, kuat terhadap tekanan tinggi, dan tahan ketika terjadi gempa bumi.
Kendati demikian, ada beberapa kekurangan di balik penggunaan bata ringan, seperti membutuhkan perekat khusus berupa semen instan dan pemasangannya memerlukan keahlian tertentu karena hasil akhirnya akan sangat terlihat jika dilakukan tanpa teknik yang tepat.
Apabila terkena air, bata ringan membutuhkan waktu lebih lama untuk benar-benar kering dibandingkan bata merah.
Harganya pun relatif lebih mahal dan tidak mudah didapatkan karena umumnya hanya dijual di toko material besar.
Selain itu, penjualannya biasanya dilakukan dalam volume besar, yakni dalam satuan meter kubik (m³).
Edy juga menjelaskan perkiraan harga bata merah, bata ringan, dan batako sebelum seseorang membangun rumah.
Ia menjelaskan, bata merah lokal terbagi menjadi tiga jenis, yakni batu bata welahan dengan harga sekitar Rp 270 per biji, batu bata Magelang Rp 450-550 per biji, dan batu bata Temanggung Rp1.200 per biji.
Sementara itu, harga bata ringan sekitar Rp 9.000-Rp 13.000 per biji.
Kesimpulan
Edy mengatakan, masing-masing bahan memiliki kelebihan dan kekurangan.
Batako adalah jenis material penutup dinding yang paling ringan dan ekonomis berdasarkan tinjauan biaya, namun memiliki kekurangan, seperti tidak terlalu baik meredam suara.
Sementara itu, batu bata konvensional cukup berat sehingga secara tidak langsung mempengaruhi load factor dari struktur bangunan.
Kemudian, bata ringan memiliki keuntungan karena pekerjaan lebih rapi dan presisi, tidak memerlukan banyak mortar untuk spesinya, namun harganya relatif lebih mahal dibandingkan batako dan batu bata biasa.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com.