Program Cek Teman Sebelah Perkuat Budaya Saling Peduli pada Remaja
Menurut studi di jurnal Frontiers Psychology, 5 dari 10 remaja mengaku lebih sering ingat kesalahan teman atau orang lain. Akibatnya mereka tumbuh dengan mindset bahwa perhatian datang dari kesalahan.
Dampaknya, 1 dari 3 remaja merasa tidak dipercaya siapa pun, 6 dari 10 remaja alami penurunan rasa empati dan risiko melakukan kekerasan verbal lebih tinggi.
Menurut Pendiri dan Ketua Health Collaborative Center (HCC) Dr. Ray Wagiu Basrowi, penelitian HCC tahun 2024 membuktikan bahwa anak SMA di Jakarta memiliki jiwa prososial, artinya punya indeks kebaikan yang tinggi.
"Sayangnya fokus promosi dan mental health di sekolah banyak yang berorientasi mengatasi depresi, ansietas, atau bully dan tawuran. Jadinya kemampuan prososial malah jadi tidak terasah," kata Ray dalam siaran pers.
Untuk meningkatkan perilaku prososial di kalangan remaja, HCC bersama sekolah dan komunitas remaja meluncurkan Cek Teman Sebelah, sebuah kampanye berbasis sekolah yang mengajak pelajar SMA untuk aktif melaporkan dan menularkan kebaikan di lingkungan mereka.
Dr.Ray Wagiu Basrowi melakukan sosialisasi program Cek Teman Sebelah untuk siswa SMA.
"Pendekatan ini menekankan bahwa prososial bukan sekadar membantu orang lain, tetapi juga bagian penting dari kesehatan jiwa bersama, ketika remaja belajar menghargai kebaikan, mereka melatih empati, menurunkan stres, dan meningkatkan rasa bahagia," katanya.
Melaporkan tindakan baik
Program ini menggunakan metode tootling, yaitu kebiasaan melaporkan tindakan baik teman, yang dalam penelitian terbukti mampu meningkatkan empati remaja hingga delapan kali lipat.
"Dengan cara sederhana namun terukur ini, Cek Teman Sebelah hadir sebagai strategi untuk memperkuat budaya saling peduli dan mengurangi risiko perilaku negatif seperti perundungan maupun tindakan berbahaya di sekolah," imbuh Ray.
Program ini mendorong siswa untuk mengamati kebaikan teman, sekecil apa pun bentuknya; menuliskan laporan kebaikan pada kertas yang disediakan, menempelkan laporan di papan kebaikan sekolah setiap hari; serta melaporkan sebanyak mungkin kebaikan teman dan menjadi bagian dari gerakan kebersamaan.
"Setiap tindakan sederhana ini diharapkan memperkuat budaya empati, kerja sama, dan solidaritas di sekolah," ujar Ray.
Ia memaparkan, Program Cek Teman Sebelah sebenarnya sudah dilakukan di tahun 2024 namun fokus pada skrining melalui media social. Fokus selanjutnya adalah dengan métode eksperimen sosial pada 1000 pelajar di Jakarta Timur yang dibawah jangkauan Puskesmas Ciracas.
Target dari eksperimen sosial ini adalah melakukan tracking perubahan perilaku secara jangka menengah dan panjang, dan membudayakan sikap fokus pada kebaikan.
“Métode tootling telah diterapkan banyak negara maju. Kondisi ini membentuk pola pikir negatif bahwa perhatian hanya muncul dari kesalahan. Melalui kampanye Cek Teman Sebelah, HCC mengajak remaja Indonesia untuk membalikkan paradigma tersebut: bahwa perhatian sejati lahir dari apresiasi dan kebaikan”, ungkap Ray yang juga adalah praktisi dan peneliti bidang perilaku kesehatan komunitas ini.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com.