Milad ke-113 Muhammadiyah: Menapak Jejak KH Ahmad Dahlan dan Kampung Kauman

Ahmad Dahlan, Muhammadiyah, pendiri muhammadiyah, KH Ahmad Dahlan, Milad Muhammadiyah 18 November, Milad Muhammadiyah ke 113 H, milad muhammadiyah, Milad ke-113 Muhammadiyah: Menapak Jejak KH Ahmad Dahlan dan Kampung Kauman, Kauman, Tempat Lahirnya Gerakan Pembaruan, Latar Sosial dan Pendidikan Sang Pendiri, Perjalanan Haji, Kelahiran Muhammadiyah dan Peran Aisyiyah, Kauman dalam Perjuangan Kemerdekaan

“Jangan kamu anggap urusan kecil, Muhammadiyah adalah besar. Inilah pesanku…”

Pesan itu menjadi salah satu wasiat paling dikenang dari K.H. Ahmad Dahlan, sang pendiri Muhammadiyah.

Disampaikan melalui istrinya, Nyai Ahmad Dahlan, pesan tersebut diutarakan pada pertemuan para konsul daerah Muhammadiyah di Yogyakarta, 18 Agustus 1945, sebuah momentum yang mempertegas betapa besar harapan sang kiai terhadap gerakan pembaruan Islam yang dirintisnya.

Memperingati Milad ke-113 Muhammadiyah yang jatuh pada 18 November, perjalanan panjang organisasi ini tak bisa dilepaskan dari sosok pendirinya dan kampung tempat ia dibesarkan, Kauman, Yogyakarta.

Dari kampung kecil yang berkelok gang sempit itu, lahirlah sebuah gerakan modernisme Islam yang berdampak luas pada pendidikan, kesehatan, pelayanan sosial, hingga perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Kauman, Tempat Lahirnya Gerakan Pembaruan

Dikutip dari buku K.H. Ahmad Dahlan: Biografi Singkat (1869-1923), K.H. Ahmad Dahlan, lahir dengan nama Muhammad Darwis pada 1869, tumbuh di Kampung Kauman, wilayah yang sejak masa Keraton Yogyakarta dikenal sebagai tempat para khatib dan penghulu.

Sejak ratusan tahun lalu, Kauman memegang peran kunci dalam perkembangan gerakan keagamaan Islam.

Gang-gang kecil Kauman yang kini hanya bisa dilalui dengan berjalan kaki, menyimpan filosofi mendalam: setiap orang yang masuk harus menanggalkan status sosialnya.

Kesejajaran itu menjadi ruh penting dalam pendidikan Islam yang egaliter, sebuah nilai yang kelak melekat pada Muhammadiyah.

Berjalan menyusuri Kauman, pengunjung akan menjumpai ragam arsitektur: rumah-rumah bercorak Eropa, Timur Tengah, hingga Jawa.

Gapura lengkung dengan lambang matahari bersinar 12, yang masih dipakai sebagai simbol resmi Muhammadiyah, berdiri sebagai pengingat sejarah panjang pergerakan ini.

Latar Sosial dan Pendidikan Sang Pendiri

Muhammad Darwis adalah putra dari K.H. Abu Bakar, seorang khatib di Masjid Agung Yogyakarta. Ia merupakan keturunan ke-12 Maulana Malik Ibrahim, salah satu tokoh Wali Songo.

Sejak kecil, Darwis dikenal berbudi pekerti halus, cerdas, dan cepat memahami ilmu agama. Pada usia delapan tahun ia sudah khatam Al-Quran.

Ia menimba ilmu fikih kepada K.H. Muhammad Saleh, nahwu kepada K.H. Muhsin, dan keilmuan lain kepada para ulama di Kauman maupun Lempuyangwangi.

Pada usia 18 tahun, Darwis menikahi Siti Walidah, putri ulama terkemuka di Kauman.

Sosok itu kelak dikenal sebagai Nyai Ahmad Dahlan, pendiri organisasi perempuan Muhammadiyah, Aisyiyah, dan pahlawan nasional.

Perjalanan Haji

Beberapa bulan setelah menikah, Darwis berangkat menunaikan ibadah haji. Perjalanan panjang melalui Semarang, Singapura, hingga Makkah itu menjadi titik penting dalam pembentukan pemikirannya.

Di Tanah Suci, Darwis mempelajari berbagai disiplin ilmu Islam mulai fikih, qiraat, tasawuf, ilmu falak, akidah, hingga tafsir. Ia juga mulai mengenal gagasan para pembaru seperti Muhammad Abduh, Jamaluddin Al-Afghani, dan Rasyid Ridha.

Di Makkah pula ia mengganti nama menjadi Haji Ahmad Dahlan.

Sekembalinya ke Yogyakarta, Dahlan membawa semangat tajdid (pembaruan). Ia mulai mengajar, mengoreksi arah kiblat Masjid Agung yang disesuaikan dengan arah Ka’bah, serta menghapus tradisi-tradisi yang dianggap tidak berdasar pada ajaran Islam.

Kelahiran Muhammadiyah dan Peran Aisyiyah

Pada 1912, K.H. Ahmad Dahlan mendirikan Muhammadiyah, gerakan yang menekankan pemurnian ajaran Islam dan pembaruan pendidikan.

Tidak hanya di ranah lelaki, Dahlan dan istrinya juga menggerakkan kelompok perempuan, Sopo Tresno, yang pada 1917 berkembang menjadi organisasi Aisyiyah.

Aisyiyah menjadi pionir pendidikan perempuan Muslim di Indonesia, jauh sebelum kemerdekaan.

Dari pasangan Dahlan–Walidah lahir enam anak yang tumbuh dalam atmosfer pendidikan Islam yang terbuka dan dinamis.

Kauman dalam Perjuangan Kemerdekaan

Kauman juga memegang peran besar dalam masa perang kemerdekaan.

Di kampung ini berdiri Monumen Syuhada Fisabilillah (1945–1948) yang memuat 25 nama pejuang. Salah satu veteran yang masih dikenal ialah H. Dauzan Farook, yang pernah bergerilya bersama Jenderal Sudirman.

Dauzan sempat mendirikan Perpustakaan Mabulir, meminjamkan buku kepada warga secara gratis dengan syarat sederhana: mereka harus mengajak lima orang lainnya untuk membaca.

Gagasan literasi itu sejalan dengan semangat pencerahan Muhammadiyah.

Di Kauman, berdiri pula sekolah Hoogeschool Muhammadyah (1919) yang kemudian berkembang menjadi Mualimin dan Mualimat, cikal bakal sistem pendidikan modern Muhammadiyah.

Hingga hari ini, gagasan pembaruan K.H. Ahmad Dahlan terus diwarisi oleh ribuan sekolah, rumah sakit, panti asuhan, universitas, dan lembaga sosial Muhammadiyah di seluruh Indonesia.

Milad ke-113 ini bukan sekadar perayaan umur organisasi, tetapi momen refleksi atas pesan sang pendiri bahwa Muhammadiyah hadir membawa misi besar yakni mencerahkan, memajukan, dan menegakkan nilai-nilai Islam yang berkemajuan.

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com.