Bantah Tarif LRT Velodrome-Manggarai Rp160 Ribu, Pramono: Belum Diputuskan

Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung Wibowo
Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung Wibowo

 Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung Wibowo mengaku belum memutuskan besaran tarif LRT Jakarta untuk rute baru Velodrome–Manggarai. Pramono menilai hal itu belum dibahas pihaknya karena proyek tersebut belum rampung.

Pernyataan ini dilontarkan Pramono, sekaligus merespons kabar yang beredar di media sosial, tarif LRT rute Velodrome–Manggarai tanpa subsidi mencapai Rp160 ribu.

"Jadi, untuk LRT Jakarta yang akan beroperasi dari Velodrome sampai dengan Manggarai, itu belum diputuskan. LRT enggak bisa memutuskan sendiri, yang memutuskan itu Gubernur," kata Pramono di Gedung Kemendikdasmen, Jakarta Pusat, dikutip Senin, 17 November 2025.

Maka itu, Pramono enggan berkomentar banyak perihal tarif LRT Jakarta. Apalagi, proyek tersebut belum rampung.

"Karena, jadi aja belum kok sudah mau masang tarif," katanya.

Menurutnya, pembahasan tarif akan berlangsung bila proyek telah selesai dilakukan. Dia pun menegaskan, keputusan tarif ini akan diambil di dalam sebuah rapat.

"Jadi, jadi dulu baru urusan tarif nanti dibicarakan dan selalu dalam memutuskan, saya pasti memutuskan dalam rapat. Enggak pernah saya memutuskan semuanya di luar rapat," ujar dia.

Diketahui, proyek pembangunan Light Rail Transit (LRT) Jakarta Fase 1B yang menghubungkan Velodrome ke Manggarai kini menunjukkan progres signifikan. Hingga pertengahan Oktober 2025, pembangunan yang digarap oleh PT Waskita Karya (Persero) Tbk itu telah mencapai 74,37 persen.

PT LRT Jakarta meluruskan kabar mengenai tarif Rp160 ribu untuk rute Velodrome-Manggarai yang belakangan memicu kekhawatiran publik. LRT menegaskan angka tersebut bukan tarif yang akan dibayar penumpang, melainkan tarif keekonomian atau biaya operasional riil tanpa subsidi pemerintah.

"Seperti yang diberitakan sebelum-sebelumnya, tarif Rp160.000 ini merupakan tarif riil (belum disubsidi Pemerintah) untuk rute yang dioperasikan LRT Jakarta saat ini (Pegangsaan Dua–Velodrome), yang mana tarif subsidi yang dinikmati masyarakat saat ini adalah Rp5.000," ujar Kepala Divisi Sekretaris Perusahaan PT LRT Jakarta, Sheila Indira Maharshi.

Sheila menjelaskan tarif keekonomian menggambarkan biaya operasional per penumpang tanpa subsidi. Biaya itu mencakup seluruh kebutuhan operasional, seperti energi, pemeliharaan, dan sumber daya manusia.

Sheila menambahkan tarif riil akan menurun seiring beroperasinya rute fase 1B ke Manggarai. Penambahan jangkauan layanan dinilai akan meningkatkan jumlah penumpang, sehingga biaya operasional per orang ikut mengecil.