Toyota dan Pertamina Bakal Kolaborasi Bangun Ekosistem Bioetanol

Pemerintah terus mematangkan persiapan penerapan etanol 10 persen. Nantinya zat tersebut bakal dicampurkan ke dalam bahan bakar minyak (BBM).

Toyota pun dikabarkan berencana mengambil peluang investasi. Mereka ingin memenuhi kebutuhan bioetanol di Indonesia.

Sebab kebutuhan bioetanol di Tanah Air mencapai 40 juta kiloliter per tahun. Lalu dengan penerapan E10 menjadi 4 juta kiloliter pada 2027.

"Agar tidak kehilangan momentum, maka persiapan pembangunan pabrik pendukung harus dimulai dari sekarang," ungkap Todotua Pasaribu, Wakil Menteri Investasi dan Hilirasi di Antara, Senin (10/11).

Toyota dan Pertamina Berkolaborasi Uji Coba Bioetanol E10

Melihat peluang tersebut, Toyota dikabarkan akan berinvestasi dalam pengembangan ekosistem bioetanol di Indonesia.

Keputusan tersebut sejalan dengan Astacita Presiden Prabowo mendorong swasembada energi, ekonomi hijau serta hilirisasi.

Sehingga mampu memberikan dampak positif. Seperti meningkatkan nilai tambah sumber daya alam di dalam negeri.

"Kami melihat potensi besar kerja sama dengan Toyota untuk menjadikan Indonesia sebagai basis produksi bioetanol di kawasan," ia melanjutkan.

Lebih jauh Todotua menjelaskan bahwa Toyota tengah mengembangkan bioetanol generasi kedua. Bersumber dari biomassa nonpangan, seperti limbah pertanian maupun tanaman sorgum.

Teknologi ini dinilai sangat relevan dengan potensi agrikultur Indonesia. Sebab bahan bakunya melimpah serta kondisi agroklimat yang cocok untuk budidaya secara berkelanjutan.

Di sisi lain berdasarkan Roadmap Hilirasi Investasi Strategis milik Kementeria Investasi dan Hilirasi/BKPM, sejumlah daerah seperti Lampung sudah disiapkan buat menjadi sentra pengembangan industri bioetanol.

Investasi Toyota di sektor tersebut diproyeksikan tidak hanya memperkuat rantai pasok energi bersih. Namun membuka lapangan kerja baru juga mendorong kesejahteraan petani lokal di daerah.

Pembantu Presiden Prabowo itu menyampaikan, Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) berminat untuk berinvestasi dalam pengembangan industri bioetanol di Indonesia.

Langkah tersebut merupakan bagian dari strategi global Toyota, buat mengamankan pasokan bahan bakar bagi kendaraan flex-fuel berbasis bioetanol.

Mobil Listrik Bukan Satu-satunya Solusi Net Zero Emission

Sekaligus mendukung kebijakan Pemerintah Indonesia, dalam upaya mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil impor.

"Sepulangnya dari Tokyo, baik Toyota maupun Pertamina akan langsung melakukan joint study dan site visit ke lokasi di Lampung, targetnya pada awal tahun 2026 perusahaan patungan (JV) sudah terbentuk," tegas dia.

Terakhir dalam rangka mendukung kebijakan E10, saat ini tengah dikaji rencana pengembangan fasilitas dengan kapasitas produksi sebesar 60.000 kiloliter per tahun dan nilai investasi Rp 2,5 triliun.