Terbukanya Peluang Investasi Sektor Kuliner Bisa Dongkrak Perekonomian Daerah
Sejumlah peluang investasi mulai terbuka di Provinsi Aceh, dimana salah satunya yakni industri kuliner yang menjadi salah satu sektor yang tumbuh pesat di wilayah Serambi Mekkah tersebut.
Data Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Aceh mencatat, realisasi investasi hingga kuartal II-2025 mencapai Rp 3,58 triliun, dan menempatkan Aceh di posisi ke-28 dari 38 provinsi di Indonesia.
Wali Kota Banda Aceh, Illiza Sa’aduddin Djamal merinci, dari total tersebut, penanaman modal dalam negeri (PMDN) masih mendominasi hingga 96,77 persen.
"Sektor waralaba makanan menempati posisi keempat terbesar dengan nilai Rp 326 miliar, atau sekitar 15,6 persen," kata Illiza dalam keterangannya, Rabu, 29 Oktober 2025.
Berbagai macam kuliner berbahan dasar buah salak.
Bagi Pemerintah Kota Banda Aceh, tren ini menjadi sinyal positif dalam memperkuat fondasi ekonomi lokal. Illiza pun menegaskan pentingnya kolaborasi lintas pihak, agar kota ini semakin terbuka terhadap peluang investasi.
Sektor kuliner menjadi salah satu magnet utama pertumbuhan investasi di Banda Aceh. Tren ini terlihat dari semakin maraknya kehadiran berbagai brand dan usaha kuliner, termasuk yang berskala multinasional.
“Kita juga harus berkolaborasi bersama-sama untuk mendatangkan investasi dari luar. Artinya, kota ini harus bisa lebih terbuka ke depan dan membuat orang nyaman supaya mau berinvestasi di Banda Aceh. Itulah yang sedang kita perjuangkan,” ujarnya.
“Kalau kita lihat di bidang kuliner (restoran), investasinya terus meningkat. Jadi pilihan orang untuk berinvestasi di bidang kuliner ini semakin bertambah,” kata Illiza.
Meski menunjukkan tren positif, Aceh masih menghadapi tantangan ekonomi yang besar. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Aceh, tingkat kemiskinan pada Februari 2025 tercatat 14,45 persen, dengan lebih dari 800 ribu penduduk hidup di bawah garis kemiskinan.
Jumlah pengangguran juga meningkat menjadi 149 ribu orang, menandakan masih terbatasnya lapangan kerja produktif di sektor formal.
Peneliti ekonomi dari Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet menilai, kondisi ekonomi yang tidak stabil turut mempengaruhi perusahaan yang bergantung pada rantai pasok lokal.
“Bagi perusahaan yang mengandalkan 70% pasokan dari pemasok lokal, situasi ini dapat sangat mempengaruhi kelangsungan operasional mereka,” ujarnya.
Menurut Yusuf, hubungan erat antara perusahaan besar dan pemasok lokal sebenarnya memberi banyak manfaat, mulai dari pendapatan stabil bagi petani dan pelaku UMKM, transfer teknologi, hingga perluasan pasar. Namun, ia menekankan bahwa keberlanjutan hubungan ini bergantung pada dukungan pasar domestik.
“Perusahaan besar dengan rantai pasok lokal berperan penting dalam menciptakan lapangan kerja domestik, mengurangi ketergantungan impor, dan menjaga perputaran ekonomi di dalam negeri. Tapi hal ini hanya bisa bertahan jika pasar domestik memberikan dukungan yang cukup,” ujarnya.