Pegang Teguh Prinsip 'Zero to Landfill'

Marcomm Manager Garmin Indonesia, Rian Krisna (dua kiri).
Marcomm Manager Garmin Indonesia, Rian Krisna (dua kiri).

Melalui kolaborasi ini, setiap limbah yang dihasilkan sepanjang rangkaian kegiatan dikelola secara bertanggung jawab dengan tujuan meminimalkan dampak lingkungan dan mendukung prinsip zero to landfill.

Marketing Communications Manager Garmin Indonesia Rian Krisna menyoroti isu penting yang sudah menjadi 'makanan sehari-hari' masyarakat, yaitu sampah. Ia ingin tidak hanya fokus pada pengumpulan sampah tapi juga pengelolaan limbah elektronik (e-waste).

"Peningkatan volume sampah yang dikumpulkan pelari mencerminkan kesadaran lingkungan yang semakin kuat seiring dengan meningkatnya budaya hidup sehat melalui olahraga," ungkapnya.

Berbagai sampah organik dan anorganik seperti botol plastik, kardus, kaleng, dan botol kaca, serta menyiapkan fasilitas pengumpulan sampah elektronik (e-waste) diolah oleh Limbah.id dengan prinsip zero to landfill.

Prinsip zero to landfill yang dipegang Limbah.id berarti, setiap jenis sampah diolah agar tidak berakhir di TPA, melainkan dimanfaatkan kembali melalui proses daur ulang, pengolahan organik, dan pengelolaan khusus untuk sampah residu maupun e-waste.

Limbah.id berhasil mengumpulkan total sampah sebanyak hampir 3 ton (2.614,82 kg). Semua sampah tersebut diproses di Material Recovery Facility (MRF) milik Limbah.id untuk dipilah dan diolah agar tidak berakhir di TPA.

Plastik menjadi jenis sampah yang paling banyak dikumpulkan dengan bobot mencapai 1.442 kg, disusul dengan kertas (432 kg), sampah residu (455 kg), sampah organik (230 kg), logam (38,4 kg), kaca (9,61 kg) dan e-waste (5,23 kg).

Sampah organik seperti sisa makanan dari area acara  diolah menjadi kompos alami yang mampu memperkaya unsur hara tanah. Sementara sampah yang dapat didaur ulang — termasuk  plastik, kertas, logam, dan kaca — dikirim ke fasilitas daur ulang untuk diproses kembali menjadi bahan baku maupun produk baru yang memiliki nilai ekonomi.

Untuk jenis sampah yang tidak bisa didaur ulang, Limbah.id mengadopsi  teknologi RDF (Refuse Derived Fuel) yang mengolah sampah residu menjadi bahan bakar alternatif bagi industri energi, Pendekatan ini membantu menggantikan sebagian penggunaan batu bara sekaligus menurunkan emisi karbon dari proses produksi energi.

"Kami ingin membuktikan bahwa keberlanjutan bukan sekadar konsep, melainkan sesuatu yang dapat diterapkan dalam setiap kegiatan, termasuk event olahraga," ungkap Joseph Heru Sanjaya, CEO dan Founder Limbah.id.