Patrick Kluivert: Dari Pencetak Gol Legendaris ke Pelatih yang Gagal Total
Karier Patrick Kluivert sebagai pelatih timnas Indonesia resmi berakhir lebih cepat. PSSI memutus kontrak pelatih asal Belanda itu setelah rentetan hasil buruk di Kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Asia.
Kabar ini menambah panjang daftar kegagalan Kluivert di dunia kepelatihan, kontras dengan masa keemasannya saat masih aktif bermain di Eropa.
Dari Ajax ke Barcelona, Era Kejayaan Seorang Mesin Gol
Patrick Kluivert lahir di Amsterdam pada 1 Juli 1976 dan merupakan produk akademi Ajax Amsterdam. Namanya melejit pada usia 18 tahun ketika mencetak gol kemenangan Ajax atas AC Milan di final Liga Champions 1995. Setelah itu, ia sempat memperkuat AC Milan, Barcelona, Newcastle United, Valencia, dan PSV Eindhoven.
Pelatih Timnas Indonesia Patrick Kluivert
Sebagai penyerang, Kluivert dikenal karena teknik tinggi, visi bermain cerdas, dan insting gol mematikan. Di Barcelona (1998–2004), ia mencetak lebih dari 120 gol dan menjadi duet menakutkan bagi bek-bek LaLiga.
Sementara di level tim nasional, ia menorehkan 40 gol dari 79 caps bersama Belanda — salah satu rekor terbaik dalam sejarah Oranje.
Catatan Kepelatihan: Banyak Singgah, Minim Prestasi
Berbeda dengan masa jayanya di lapangan, kiprah Kluivert sebagai pelatih justru tak pernah benar-benar bersinar.
Berikut catatan perjalanan kepelatihannya:
2010 – Asisten pelatih Brisbane Roar (Australia)
2011–2013 – Pelatih Twente U21
2012–2014 – Asisten pelatih Timnas Belanda
2015–2016 – Pelatih kepala Timnas Curaçao
2016 – Pelatih Ajax U19
2018–2019 – Asisten pelatih Timnas Kamerun
2021 – Pelatih interim Timnas Curaçao
2023 – Pelatih Adana Demirspor (Turki)
2025 – Pelatih kepala Timnas Indonesia
Meski berpengalaman menangani berbagai tim dan level, prestasi besar belum pernah ia torehkan. Banyak proyek kepelatihannya berakhir singkat, termasuk di Indonesia.
Harapan Besar, Hasil Mengecewakan
Saat ditunjuk melatih timnas Indonesia pada awal 2025, publik sempat menyambut penuh optimisme. Kluivert diharapkan membawa gaya permainan modern dan pengalaman Eropa ke skuad Garuda. Namun kenyataannya jauh dari harapan.
Dalam delapan pertandingan, Indonesia di bawah arahannya hanya meraih 3 kemenangan, 1 hasil imbang, dan 4 kekalahan.
Kekalahan dari Arab Saudi (2-3) dan Irak (0-1) menjadi puncak kekecewaan, sekaligus mengakhiri langkah Indonesia di kualifikasi.
Dari Idola ke Simbol Kegagalan
PSSI akhirnya memutus kerja sama dengan Kluivert lewat kesepakatan bersama (mutual termination). Nama besar dan pengalaman di Eropa ternyata tak cukup untuk menjamin kesuksesan di Asia Tenggara.
Ironis, sosok yang dulu dikenal sebagai mesin gol menakutkan di Barcelona dan Ajax kini justru dicap gagal sebagai pelatih. Patrick Kluivert tetaplah legenda, namun perjalanan kariernya kini menjadi pengingat: tak semua pemain hebat bisa sukses di kursi pelatih.