Berburu Berkah Lewat Ekspansi Halal
Keduanya merupakan pelaku usaha halal di sektor riil yang bergerak di bidang makanan dan minuman (F&B) serta kecantikan, dengan total pembiayaan sebesar Rp19 miliar.
Dua nasabah pembiayaan ini juga merupakan bagian dari industri halal yang tidak hanya prospektif tetapi juga berperan besar dalam membuka lapangan kerja baru, karena termasuk kategori bisnis padat karya.
Selain itu, sektor ini juga padat modal, dengan kebutuhan pembiayaan untuk mendukung modal kerja dan ekspansi usaha.
Direktur Utama Bank Aladin Syariah Koko Rachmadi menyampaikan bahwa pembiayaan ini mencerminkan komitmen untuk menjadi mitra strategis dalam pengembangan industri halal di Indonesia.
Ia melihat sektor halal bukan hanya peluang bisnis, tetapi bagian dari ekosistem yang menopang ekonomi umat, terutama di sektor riil dan padat karya.
Menurutnya, kedua perusahaan penerima pembiayaan dipilih karena memiliki prospek bisnis yang sangat potensial.
Keduanya merupakan supplier bagi Alfa Group, yang telah melalui proses seleksi ketat dan memenuhi kualifikasi tinggi dalam rantai pasok nasional.
Kinerja bisnis yang terus tumbuh dan kemampuan mereka dalam menjaga kepercayaan mitra strategis menjadi faktor utama Bank Aladin Syariah memberikan dukungan pembiayaan.
"Fakta bahwa mereka adalah mitra pemasok Alfa Group menunjukkan risiko yang sudah termitigasi dengan baik. Saat perusahaan melakukan ekspansi untuk meningkatkan kapasitas suplai, potensi kerja sama pembiayaan ke depannya juga semakin terbuka lebar," ungkap Koko.
Pembiayaan yang diberikan terdiri dari Rp9 miliar kepada pelaku usaha di sektor makanan dan minuman serta Rp10 miliar kepada pelaku usaha di sektor kecantikan halal.
Keduanya diharapkan menjadi contoh nyata bagaimana industri halal dapat tumbuh dengan dukungan pembiayaan syariah yang inklusif dan berorientasi pada nilai keberkahan.
Kinerja positif Bank Aladin Syariah sepanjang semester I 2025 turut memperkuat kapasitas bank dalam menyalurkan pembiayaan. Pendapatan penyaluran dana tumbuh 48,8 persen (yoy) dari Rp255,3 miliar menjadi Rp379,8 miliar.
Pendapatan berbasis bagi hasil meningkat lebih dari dua kali lipat dari Rp120,1 miliar menjadi Rp260,2 miliar, sementara pendapatan dari fee dan komisi melonjak dari Rp49,4 miliar menjadi Rp160,8 miliar.
Dari sisi intermediasi, total pembiayaan bagi hasil mencapai Rp4,47 triliun, naik 9 persen dibandingkan posisi akhir tahun 2024 sebesar Rp4,10 triliun. Dana pihak ketiga (DPK) juga tumbuh 14,2 persen menjadi Rp6,18 triliun, didorong peningkatan tabungan dan deposito mudharabah.
Total aset Bank Aladin per 30 Juni 2025 tercatat sebesar Rp10,35 triliun, naik 10,6 persen dibandingkan akhir tahun sebelumnya sebesar Rp9,36 triliun. Efisiensi kinerja juga membaik, tercermin dari perbaikan rasio BOPO dari 118,75 menjadi 85,16 persen dan Cost to Income Ratio (CIR) yang membaik menjadi 73,27 dari sebelumnya 136,71 persen.