Kasih Tip Restoran di Jepang Dianggap Aneh, Kok Bisa?

Restoran di Jepang nyaris tidak pernah menerima tip, meski hal ini lumrah terjadi di banyak tempat makan di berbagai negar.
Tidak memberi tip saat makan di Jepang telah menjadi budaya sejak lama. Malahan, memberi tip saat bersantap di Jepang dianggap aneh.
Dilansir dari SoraNews24, Selasa (7/10/2025), kebiasaan restoran di Jepang tidak menerima tip bermula dari pandangan hidup masyarakat Jepang.
Mereka menganggap semua pekerjaan sama baiknya, tidak terkecuali pelayan restoran. Semua pekerja di Jepang memiliki etos kerja yang tinggi.
Itu sebabnya, sesuai etika lokal, pelayanan prima di restoran Jepang sudah semestinya dilakukan tanpa pemberian tip.
Selain itu, restoran di Jepang juga umumnya hanya buka selama jam makan. Saat pagi maupun setelah makan siang, sebagian restoran tidak menerima pelanggan.
Staf restoran hanya bekerja di jam-jam sibuk, yakni saat santap siang dan santap malam sehingga karyawan tidak akan bekerja atau sekedar berdiri selama berjam-jam di luar waktu makan.
Turis asing beri tip di Jepang
Tsukuma Coffee Bar and Izakaya, restoran jepang baru di Bandung.
Budaya tidak memberi tip di Jepang perlahan bergeser. Berita lain dari SoraNews24 mengabarkan fenomena sosial yang terjadi belakangan ini di Jepang.Makin banyak turis asing yang bersantap dan meninggalkan tip di restoran Jepang. Bahkan, beberapa kafe dan restoran tidak ragu menaruh stoples tip di dekat kasir.
Keberadaan stoples tip dinilai sebagai respons terhadap turis asing yang kerap mencoba memberikan tip kepada pelayan, atau meninggalkan uang tunai di meja makan.
Akibatnya, praktik yang dulu dianggap bertentangan dengan nilai-nilai budaya Jepang, kini perlahan menyusup ke dalam kehidupan sehari-hari dan dianggap tidak baik.
Kehadiran stoples tip di Jepang mengancam pendekatan budaya yang rusak, hingga berisiko menggantikan keramahtamahan dengan pola pikir transaksional.
Lebih jauh, pemberian tip dari turis asing berisiko menciptakan perbedaan antara turis kaya dan penduduk lokal.
Ketidakseimbangan ini berisiko memperkuat perpecahan di ruang sosial sehari-hari, mulai dari kafe hingga gerai ramen.
Secara tidak langsung memberi tekanan bagi penduduk lokal untuk memberi tip demi mendapatkan layanan baik, seperti halnya turis asing.
Dampak bagi pengusaha
ilustrasi sushi, makanan khas Jepang.
Alih-alih merasa untung, pemilik restoran justru terdampak akibat tren stoples tip di Jepang.Pengusaha bakal merasakan tekanan untuk menaikkan upah staf hingga membayar pajak penghasilan.
Berdasarkan peraturan hukum di Jepang, tip yang didapat oleh restoran, wajib dikumpulkan dan dikelola oleh pemberi kerja yang sering kali menangani pelaporan pajak untuk karyawan di Jepang.
Kehadiran stoples tip di Jepang mengirimkan pesan yang halus tetapi kuat bahwa budaya asing mulai mengikis tatanan masyarakat Jepang bila tidak diatasi segera.
Kondisi pariwisata Jepang
Penerimaan tip dari turis asing dihubungkan dengan kondisi pariwisata Jepang saat ini karena mata uang Jepang (yen) yang kian melemah.
Sejak nilai yen melemah, kunjungan turis asing di Jepang membludak, bahkan mencapai rekor tertinggi.
Makan malam sushi mewah di restoran disebut-sebut bisa sama mahalnya dengan makanan ringan di rumah bagi masyarakat lokal.
Menginap di hotel bahkan dianggap murah bagi turis asing yang memiliki nilai tukar uang kuat.
Kondisi sebaliknya justru terjadi bagi warga lokal. Inflasi Jepang telah menaikkan biaya bahan makanan, bahan bakar, dan utilitas, tetapi upah kerja stagnan.
Hal ini membuat penduduk lokal semakin sulit untuk sekadar memenuhi kebutuhan hidup, kontras dengan kemewahan yang dinikmati turis asing.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com.