Profil Bibit Waluyo, Purnawirawan TNI yang Dapat Pangkat Istimewa
Letnan Jenderal TNI (Purn) Bibit Waluyo dianugerahi pangkat istimewa atau Jenderal Kehormatan oleh Presiden Prabowo Subianto pada Kamis (2/10/2025).
Penganugerahan ini berlangsung di atas Kapal Perang Republik Indonesia (KRI) dr. Radjiman Wedyodiningrat-992 dalam acara Presidential Inspection, sebagai bentuk penghargaan terhadap jasa dan pengabdian perwira purnawirawan TNI, termasuk Bibit.
Prabowo menegaskan, penghargaan diberikan kepada perwira tinggi TNI yang dinilai telah memberikan dedikasi melampaui panggilan tugas, serta berkontribusi dalam menjaga kehormatan dan kedaulatan bangsa.
Penghargaan ini menyoroti perjalanan panjang Bibit Waluyo di TNI dan bagaimana dedikasinya memengaruhi kariernya.
Berikut hasil penelusuran riwayat pendidikan dan awal karier Bibit Waluyo:
Pendidikan dan karier militer Bibit Waluyo
Bibit Waluyo lahir di Klaten, Jawa Tengah, pada 5 Agustus 1949.
Dilansir Perpustakaan Arsip Nasional, Bibit menempuh pendidikan dasar hingga menengah di SDN Jimus Klaten (1962), SMPN 2 Demak (1965), dan MAN Demak (1968).
Selanjutnya, Bibit masuk Akmil Magelang pada 1972, dan menempuh pendidikan lanjutan di Seskoad (1980), Sesko TNI (1995), dan Lemhanas (1998).
Setelah lulus dari Akmil, Bibit ditugaskan di Kodam II/Bukit Barisan sebagai komandan pleton tempur dan kemudian menjadi ajudan Pangdam II.
Ia kemudian menempati jabatan strategis, termasuk Komandan Yonif 407 di Tegal, Komandan Batalyon Taruna Dewasa Akmil, dan Komandan Kodim Cilacap, sebelum dipercaya menjadi Komandan Korem Garuda Hitam di Lampung.
Kariernya kian menanjak setelah pada 1997 menjabat sebagai Kasdam IV/Diponegoro.
Dua tahun kemudian, ia berhasil diangkat menjadi Pangdam IV/Diponegoro. Hanya berselang setahun, ia dimutasi sebagai Komandan Seskoad pada 2000, dikutip Tribun, Jumat (3/10/2025).
Itu membuat Bibit bersiap untuk mengisi posisi strategis tingkat tinggi.
Pada 2001, ia diutus mengisi kursi jabatan sebagai Panglima Kodam Jaya. Setahun setelahnya, ia diangkat sebagai Panglima Kostrad hingga masa pensiunnya pada 2004.
Dari jalur militer tersebut, Bibit kemudian menapaki dunia politik.
Karier politik Bibit Waluyo
Setelah pensiun dari TNI, Bibit Waluyo terjun ke sepenuhnya ke politik dan menjadi Gubernur Jawa Tengah periode 2008-2013.
Saat Bibit menjabat sebagai Kasdam IV/Diponegoro pada 1997, di waktu yang sama ia sempat ditugaskan menjadi Anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR RI).
Setelah pensiun dari TNI, ia terjun ke sepenuhnya ke politik dan menjadi Gubernur Jawa Tengah periode 2008-2013.
Ia mengawali karier politik bersama PDIP, dari periode 2008 hingga 2013. Setelahnya, ia keluar dan berstatus independen.
Saat menjabat sebagai Gubernur Jawa Tengah, ia mengunggulkan program “Bali Ndeso Mbangun Deso”, yang menekankan pemberdayaan masyarakat desa untuk membangun wilayahnya sendiri.
Namun, karier politik Bibit juga tidak lepas dari kontroversi, salah satunya terkait hubungannya dengan Jokowi.
Ketegangan Bibit Waluyo dengan Joko Widodo
Pada 2011, Bibit menjabat Gubernur Jawa Tengah, sementara Joko Widodo alias Jokowi masih sebagai Wali Kota Solo.
Ketegangan muncul terkait rencana pembangunan mal di atas bekas Pabrik Es Saripetojo.
Bibit yang menyetujui pembangunan tersebut menyebut Jokowi “bodoh” karena menolak kebijakan tersebut.
"Wali kota Solo (Jokowi) itu bodoh, kebijakan Gubernur kok ditentang. Memang Solo itu masuk wilayah mana? Siapa yang mau membangun?" kata Bibit saat itu.
tahun kemudian, Bibit meminta maaf kepada masyarakat Solo dan berharap polemik itu dilupakan.
"Sudahlah, lupakan saja. Yang sudah ya sudah. Maaf kalau saya salah, terima kasih telah dikoreksi," ujarnya pada April 2023.
Penghargaan pangkat istimewa
Prosesi penganugerahan Jenderal Kehormatan yang dilakukan secara simbolis oleh Presiden Prabowo Subianto, dengan pemasangan pangkat baru dan penanggalan pangkat lama kepada dua perwira purnawirawan, termasuk Bibit Waluyo, Kamis (2/10/2025).
Hampir seperempat abad setelah purna tugas dari TNI, 2 Oktober 2025, Bibit muncul sebagai salah satu dari 11 nama yang diberi anugerah penghargaan pangkat istimewa atau Jenderal Kehormatan oleh Presiden RI ke-8 Prabowo Subianto.
Penghargaan ini diatur dalam Keputusan Presiden Nomor 93/TNI Tahun 2025, sebagaimana yang dikutip laman resmi Presiden Republik Indonesia.
“Selama pengabdian mereka dalam dinas kemiliteran, mereka telah berbuat yang sangat berguna bahkan melebihi panggilan tugas. Untuk itu saya mendapat kehormatan hari ini memberi penghargaan tersebut,” kata Prabowo, Kamis (2/10/2025).
Jenderal Kehormatan adalah pangkat militer tertinggi yang diberikan secara simbolis kepada seseorang sebagai bentuk penghargaan, meski orang tersebut tidak menjalani karier militer hingga mencapai pangkat tersebut secara struktural.
Hadir dalam acara tersebut Wakil Presiden RI Gibran Rakabuming, Ketua DPD Sultan Bachtiar Najamudin, jajaran menteri Kabinet Merah Putih, Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo, serta para Kepala Staf Angkatan.