Jurus Wamenperin Agar Industri Sepeda Motor Lokal Tetap Bertahan
Saat ini industri kendaraan roda dua di Indonesia sedang menghadapi berbagai rintangan. Mulai dari kondisi ekonomi yang terus melemah.
Kemudian daya beli masyarakat kian menurut dari waktu ke waktu. Lalu gempuran motor listrik murah asal Cina.
Membuat minat masyarakat terhadap produk-produk dari dalam negeri sedikit terpengaruh.
Melihat kondisi yang ada, Wakil Menteri Perindustrian (Wamenperin) mengambil langkah antisipasi. Seperti dengan minta Astra Honda Motor (AHM) hingga Yamaha Indonesia Motor Manufacturing (YIMM) membuat roadmap atau peta jalan.

“Pemerintah ingin industri di sektor otomotif terutama kendaraan roda dua mulai menyusun roadmap yang lebih ketat,” ungkap Faisol Riza, Wamenperin di IMOS 2025 beberapa waktu lalu.
Faisol menjelaskan kalau saat ini dunia sedang memasuki era disrupsi teknologi. Sehingga diprediksi akan mempengaruhi hampir semua sektor termasuk otomotif.
Oleh sebab itu pembantu Presiden Prabowo Subianto tersebut meminta para pelaku industri sepeda motor di dalam negeri segera menyiapkan roadmap untuk selama sepuluh tahun.
“Terutama yang berbasis AI sehingga industri atau para pelaku usaha bisa siap dengan segala kemungkinan yang akan terjadi di masa mendatang,” Faisol melanjutkan.
Wamenperin menyarankan agar AHM, Yamaha dan lain-lain merumuskan roadmap dalam tiga fase. Pertama adalah transisi serta konsolidasi.
Hal tersebut bisa dilakukan selama dua hingga tiga tiga tahun mendatang. Jadi mereka dapat memperkuat ekosistem dan rantai pasok.
Tahap kedua adalah kemandirian maupun kepemimpinan. Menargetkan Indonesia menjadi kekuatan baru industri roda dua global.
Fase ketiga atau terakhir kerja sama lintas kementerian serta lembaga. Hal ini penting dilakukan agar roadmap yang telah disusun bisa berjalan efektif.
“Kementerian Perhubungan, kepolisian dan seluruh pemangku kepentingan harus memiliki pandangan yang sama dalam membangun industri ini,” pungkas Wamenperin.
Kembangkan Kendaraan Nirawak
Di sisi lain Wamenperin turut menyoroti sejumlah negara yang sudah mengembangkan kendaraan nirawak.
Ia menilai teknologi serupa akan memasuki pasar kendaraan roda dua di Tanah Air.

Oleh sebab itu dia menyarankan para pabrikan agar ikut berpartisipasi dalam inovasi teknologi yang tengah berkembang di dunia.
“Walaupun kita percaya industri Internal Combustion Engine (ICE) masih sangat kuat, tetapi jangan lupa bahwa percepatan teknologi di berbagai macam sektor bisa menjadi tantangan tersendiri,” ucap Faisol.
Terakhir Faisol turut menyampaikan data Bank Dunia serta United Nations Statistics yang mencatat nilai Manufacturing Value Added Indonesia 2024 mencapai 265 miliar dolar AS. Menempatkan Tanah Air di posisi ke-13 dunia dan kelima di Asia.
Kontribusi industri pengolahan non-migas terhadap PDB juga naik menjadi 16,92 persen pada triwulan II 2025, didorong oleh sektor otomotif roda dua yang penjualannya menembus 4,26 juta unit.