Tren Custom Motor Lokal: Mengubah Mesin Kecil Jadi Karya Proporsional

Tren Custom Motor Lokal: Mengubah Mesin Kecil Jadi Karya Proporsional

Aliran modifikasi seperti chopper, bobber, cruiser, hingga flat track sejatinya lahir dan berkembang dengan pakem motor bermesin besar (moge) di negara asalnya, baik di Amerika Serikat maupun Eropa.

Namun di Indonesia, keterbatasan populasi dan mahalnya akses terhadap moge justru melahirkan tren yang berbeda.

Para builder lokal dituntut cerdik memutar otak agar motor-motor harian berkapasitas mesin kecil bisa tampil proporsional.

Chandra Gunawan, penggawa bengkel kustom Frontwheel Motors asal Bogor, mengungkapkan bahwa menerapkan aliran kustom pada motor bermesin kecil memiliki tingkat kesulitan tersendiri.

Tren Custom Motor Lokal: Mengubah Mesin Kecil Jadi Karya Proporsional

VMX 225 buatan Frontwheel Motors

Menurutnya, esensi dari modifikasi ini bukan meniru mentah-mentah, melainkan menyiasati dimensi.

"Alirannya semua sama, cuma yang beda mungkin kreasinya saja. Kita tidak bisa bikin style sendiri karena style itu sudah lahir di luar sana. Jadi kita mengikuti kiblat, tapi yang membedakan adalah bagaimana kita memainkan detail," kata Chandra kepada Kompas.com belum lama ini.

Proporsi Dimensi

Tantangan menyelaraskan mesin berkapasitas kecil dengan pakem kustom luar negeri juga diamini oleh Momo, penggawa dari bengkel Mr Kuztom Garage.

Menurut Momo, builder lokal harus pintar mengemas kendaraan agar mesin kecil tidak terlihat "ompong" saat dipasangkan ke rangka kustom.

Tren Custom Motor Lokal: Mengubah Mesin Kecil Jadi Karya Proporsional

Honda Scoopy diubah jadi seperti Zoomer atau Ruckus, garapan Katros Garage

"Tergantung mengemasnya kalau menurut saya. Kuncinya di dimensi, harus sesuai dengan dimensi mesin dan harus pas. Jangan disamakan dengan motor bermesin besar," ujar Momo.

Momo menambahkan, karena di Indonesia motor besar cenderung mahal dan sulit diakses, penggunaan mesin kecil yang diadopsi ke model-model luar negeri menjadi solusi rasional.

Keunikan builder Indonesia pun akhirnya bergeser ke sektor pengerjaan akhir.

"Paling yang membedakan dari finishing-nya saja, seperti adanya ukiran atau tatah mesin secara manual. Itu yang membedakan," kata Momo.

Keterkaitan Industri

Melihat fenomena kustom di tanah air, Andi Akbar atau yang akrab disapa Atenx, penggawa Katros Garage, memberikan pandangan yang lebih luas.

Menurut Atenx, sebuah aliran motor yang diakui dunia secara historis hanya bisa lahir dari negara-negara yang memang memproduksi motornya sendiri.

"Contoh di Eropa ada Norton dan lain-lain, lahirlah style Cafe Racer. Di Amerika ada Harley-Davidson lahirlah Chopper. Di Jepang ada Honda dan pabrikan lain, lahir JDM style hingga Bosozoku. Nah, Indonesia kan tidak memproduksi motor sendiri, jadi style modifikasinya masih terpengaruh dari negara asal motornya," ungkap Atenx.

Atenx menjelaskan, dominasi motor pabrikan Jepang di Indonesia yang masif sejak zaman dulu pada akhirnya membentuk kultur modifikasi lokal.

Bedanya, jika dulu motor Harley-Davidson identik dengan chopper dan Triumph dengan cafe racer, kini perkembangannya sudah lintas budaya.

Motor pabrikan Jepang bermesin kecil pun jamak diubah menjadi chopper atau cafe racer.

"Kalau secara general, menurut saya ciri khas dari Indonesia ada di pembuatan part handmade yang erat dengan unsur-unsur kebudayaan Indonesia. Bisa berupa bentuk tiga dimensi (part) atau dua dimensi seperti cat grafis. Tapi kalau untuk style yang otentik asli Indonesia, kita punya aliran seperti Herex," pungkas Atenx.

Melalui kecerdikan rekayasa sasis, penyesuaian dimensi yang pas, hingga kekuatan detail craftsmanship, keterbatasan kapasitas mesin pada akhirnya tidak lagi menjadi batas akhir bagi kreativitas roda dua di tanah air.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang