Industri Padel Terpuruk, Banyak Lapangan yang Tutup dan Berubah Jadi Gudang

Ilustrasi raket padel
Ilustrasi raket padel

 Olahraga padel sempat menjadi fenomena global yang menarik perhatian banyak investor dan penggemar olahraga. Popularitasnya meroket saat pandemi, terutama di negara-negara dengan tradisi tenis yang kuat seperti Swedia. 

Namun, tren ini kini memberikan peringatan serius bagi para pelaku usaha dan investor di sektor olahraga. Apa yang awalnya terlihat sebagai peluang emas, kini diprediksi runtuh karena ekspansi berlebihan, biaya operasional yang meningkat, dan minat masyarakat yang menurun.

Seperti diketahui, Swedia, menjadi salah satu negara pertama yang mengadopsi padel secara masif. Namun, kini harus menghadapi kenyataan pahit, karena banyak lapangan padel ditutup, perusahaan bangkrut, bahkan sejumlah fasilitas olahraga beralih fungsi menjadi gudang atau toko kebutuhan sehari-hari. 

Melansir dari Strait Times, Sabtu, 28 September 2025, data menunjukkan hampir 90 perusahaan terkait padel di Swedia bangkrut pada 2023, menurut lembaga referensi kredit Creditsafe. Ribuan lapangan juga ditutup akibat kompetisi yang berlebihan, inflasi yang melonjak, dan berkurangnya minat dari kelas menengah yang sebelumnya antusias.

“Banyak sekali hal yang salah,” kata Andreas Ehrnvall, seorang veteran padel di Swedia. “Negara ini dengan cepat berubah dari memiliki 300 lapangan padel menjadi 3.500. Itu sama sekali tidak bisa dipertahankan.”

Padel, yang biasanya dimainkan ganda di lapangan berukuran 20 x 10 meter dengan dinding kaca, awalnya dianggap cocok untuk Swedia yang memiliki tradisi tenis kuat. Investor pun berbondong-bondong masuk, termasuk grup ekuitas Triton Partners dan bintang sepak bola Zlatan Ibrahimovic.

Namun, ledakan jumlah lapangan antara 2018 hingga 2021 justru menimbulkan masalah baru. Ehrnvall, mantan petenis profesional yang membawa padel ke Swedia, sudah melihat tanda-tanda bahaya sejak awal. 

ilustrasi olahraga padel

ilustrasi olahraga padel

“Dalam satu tahun, Uppsala berubah dari memiliki total 14 menjadi 100 lapangan,” ujarnya. “Saya akan mengatakan bahwa di kota seukuran Uppsala, dengan sekitar 200.000 penduduk, hanya ada ruang untuk tidak lebih dari 20 lapangan.”

Kini, penutupan fasilitas berlangsung cepat. We Are Padel, bagian penting dari investasi Triton, menutup sekitar 50 klub dan hanya menyisakan 13. Perusahaan mencatat kerugian 716 juta krona Swedia (sekitar US$87,2 juta atau setara Rp1,45 triliun) pada 2022. PDL United, yang didukung Coeli Private Equity, juga bangkrut.

Beberapa fasilitas padel kini diubah fungsinya. Di Vasteras, 100 km barat Stockholm, bekas pusat padel dialihfungsikan menjadi supermarket Willys milik Axfood AB. Ada juga yang digunakan sebagai gudang panel surya dan ban mobil.

Meski industri padel di Swedia menyusut, prospek global olahraga ini masih dianggap cerah. Deloitte memperkirakan ekosistem padel saat ini bernilai sekitar €2 miliar (setara Rp39,1 triliun) dan bisa melampaui €4 miliar (setara Rp78,3 triliun) pada 2026, seiring proyeksi jumlah lapangan dunia yang akan naik dua kali lipat menjadi 85.000.

Beberapa pengusaha Swedia pun masih optimistis. Martin Lorentzon, pendiri Spotify, mendukung pembukaan pusat padel di Canary Wharf, London, akhir Agustus lalu. Inggris diprediksi menjadi pasar potensial. Triton’s LeDap juga mulai masuk ke Amerika Serikat, meski di sana pickleball lebih populer.

Halaman Selanjutnya
Source : Ayo Indonesia
Halaman Selanjutnya