AI Ditunjuk Jadi Ketum Parpol di Jepang

jepang, politik, Artificial Intelligence, Ketua Umum, AI Ditunjuk Jadi Ketum Parpol di Jepang

Sebuah partai politik yang baru naik di Jepang membuat langkah tidak biasa dengan menunjuk kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) sebagai ketua umum mereka.

Keputusan ini datang setelah pendiri partai, Shinji Ishimaru, mundur usai kegagalan telak dalam pemilu terakhir.

Partai bernama Path to Rebirth ini pertama kali didirikan pada Januari 2025 oleh Shinji Ishimaru, mantan wali kota sebuah kota kecil di Jepang bagian barat.

Namanya sempat mencuat tahun 2024 ketika Ishimaru berhasil menduduki posisi kedua dalam pemilihan gubernur Tokyo berkat kampanye online yang agresif.

Namun, popularitas itu tidak berlanjut. Dalam pemilihan Majelis Tokyo Juni lalu, seluruh 42 kandidat dari partai ini kalah, begitu juga 10 kandidat di pemilu majelis tinggi Jepang pada Juli.

jepang, politik, Artificial Intelligence, Ketua Umum, AI Ditunjuk Jadi Ketum Parpol di Jepang

Shinji Ishimaru, pemimpin partai politik lokal The Path to Rebirth, menghadiri konferensi pers di Minato Ward, Tokyo, pada 27 Agustus 2025.

Setelah Ishimaru mundur, kursi kepemimpinan partai diisi oleh Koki Okumura, mahasiswa doktoral di Universitas Kyoto yang menekuni riset AI.

Namun, Okumura tidak mengambil alih sebagai pemimpin penuh. Ia justru mengumumkan bahwa partai akan menyerahkan posisi ketua umum kepada AI.

“Pemimpin baru kami adalah AI. Saya hanya akan bertugas sebagai asistennya,” kata Okumura dalam konferensi pers.

Yang menarik, AI yang dimaksud tidak hadir dalam bentuk abstrak. Partai mengungkapkan rencana untuk memanifestasikan sosok AI dalam wujud avatar seekor penguin, terinspirasi dari kecintaan masyarakat Jepang terhadap hewan.

Namun, AI ini tidak bisa maju sebagai kandidat resmi dalam pemilu, sebab undang-undang Jepang mensyaratkan bahwa calon legislatif maupun pejabat politik harus merupakan warga negara Jepang yang nyata.

Oleh karena itu, secara hukum, Okumura tetap akan tercatat sebagai perwakilan resmi partai.

Okumura mengatakan AI ini akan berperan dalam proses pengambilan keputusan internal, seperti distribusi sumber daya partai dan strategi organisasi.

Ia percaya AI dapat menghadirkan pendekatan yang lebih presisi dibanding manusia, sekaligus memberi ruang bagi suara-suara yang sering terabaikan.

“Saya yakin AI punya potensi untuk menciptakan lingkungan politik yang lebih inklusif dan manusiawi,” ujarnya.

Meski ide ini terdengar futuristik, banyak pengamat meragukan efektivitasnya. Hiroshi Shiratori, profesor ilmu politik dari Universitas Hosei, menilai publik Jepang belum siap menerima partai yang terlalu bergantung pada AI.

“Pemilih biasanya memilih orang yang bisa dipercaya, yang mampu merasakan apa yang dirasakan masyarakat. AI jelas berbeda dari itu,” katanya.

Keraguan lain datang dari kalangan akademisi internasional. Theodore Lechterman, pakar etika AI dari IE University, mengingatkan bahwa hubungan antara politisi dan rakyat tidak bisa digantikan oleh algoritma.

“Kita mengharapkan politisi manusia bertindak secara otonom, berinteraksi dengan masyarakat, menghadiri upacara, dan turun langsung ke lapangan. Itu tidak bisa dilakukan AI,” ujarnya.

Fenomena ini bukan yang pertama. Tahun lalu, seorang kandidat wali kota di Wyoming, AS, sempat mendaftarkan chatbot bernama VIC sebagai bagian dari kampanyenya.

Sementara seorang pria di Inggris mencalonkan diri bersama “AI Steve” dalam pemilu parlemen lokal.

Namun, keduanya ditolak secara hukum dan bahkan akses ke perangkat lunak AI yang mereka gunakan dicabut oleh penyedianya.

Meski demikian, Okumura menegaskan bahwa langkah partainya bukan sekadar gimmick. Ia menyebutnya sebagai eksperimen politik di era teknologi.

“Kita sedang menuju dunia di mana interaksi dengan AI akan menjadi hal biasa. Jika demikian, bagaimana kita menyesuaikan sistem sosial dan politik yang selama ini kita anggap sudah final? Kami ingin menjadi pihak pertama yang melakukan eksperimen itu,” ujarnya.

Keputusan Path to Rebirth ini jelas menimbulkan rasa penasaran sekaligus skeptisisme. Belum ada jadwal kapan AI "penguin" itu resmi “dilantik", tapi partai sudah menyiapkan komite persiapan, sebagaimana dihimpun KompasTekno dari Japan Times, Selasa (23/9/2025).

Di saat situasi tidak menentu, Kompas.com tetap berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update terkini dan notifikasi penting di Aplikasi Kompas.com.