Sejarah E-sports di Dunia, Turnamen dan Game Pertama hingga Masuk Cabang Olahraga

game, e-sports, Game, sejarah, sejarah e-sports, sejarah e-sports di dunia, Sejarah E-sports di Dunia, Turnamen dan Game Pertama hingga Masuk Cabang Olahraga, Diawali dari game tenis, Turnamen e-sports pertama di dunia, Skema kompetitif melalui daftar skor tertinggi, Kehadiran game kompetitif di dunia maya, Turnamen e-sports berhadiah 1 juta dollar AS pertama, Kehadiran e-sports di Indonesia

 Video game yang dimainkan secara kompetitif kini dikategorikan sebagai olahraga elektronik atau biasa yang disebut dengan e-sports. Di Indonesia, e-sports bisa dibilang sedang "naik daun" dan tengah menjadi sorotan.

Sebab, beberapa tim e-sports dalam negeri, terutama yang berkompetisi di game Mobile Legends, PUBG Mobile, eFootball, Free Fire, dll sempat memenangkan beberapa titel juara di aneka turnamen internasional.

Indonesia juga sempat mendapatkan beberapa medali emas di ajang SEA Games 2021 dan 2023. Meski baru populer selama beberapa tahun belakangan, istilah e-sports sebenarnya sudah digunakan sejak tahun era 1950-an.

Diawali dari game tenis

Pada 1952, ilmuwan komputer bernama Alexander Shafto Douglas menciptakan sebuah game serupa "XOX" atau biasa disebut "Catur Jawa", sebagai ilustrasi interaksi antara sistem komputer dengan manusia.

Game tersebut dibuat sebagai tesis Alexander untuk mendapatkan gelar doktor. Game ini memungkinkan seseorang bermain secara kompetitif melawan "komputer" untuk pertama kalinya di dunia.

Seperti namanya, game ini mengizinkan dua orang manusia beradu kemampuan untuk mencetak skor dalam game tenis virtual, di mana pergerakan dan arah bola tenis dikontrol menggunakan joystick.

Nah, karena sifat kompetitif Tennis for Two, banyak yang menganggap bahwa game ini merupakan game yang masuk dalam kategori e-sports untuk pertama kalinya di dunia.

Turnamen e-sports pertama di dunia

Dalam game tersebut pemain akan menghadapi berbagai tantangan, seperti bahan bakar pesawat yang terbatas, hingga efek gravitasi yang berbahaya bagi pesawat luar angkasa.

Kompetisi ini, yang berhadiah berlangganan gratis majalah "Rolling Stones" selama satu tahun, lantas disebut-sebut sebagai kompetisi e-sports pertama yang pernah ada di dunia.

Skema kompetitif melalui daftar skor tertinggi

Dunia e-sports kemudian semakin berkembang pada era 1970-an, saat konsol game pertama di dunia yang bisa disambungkan ke TV yaitu Magnavox Odyssey, meluncur pada 1972.

Awal turnamen besar dan tim e-sports pertama di dunia

Turnamen yang berhadiah satu buah mesin arcade Asteroids saat ini disebut-sebut sebagai momen di mana game kompetitif alias e-sports mendulang popularitas.

Beberapa tahun berikutnya, tepatnya pada 1982, seorang pemilik mesin game arcade di Amerika Serikat (AS) yang bernama Walter Day memprakarsai sistem peringkat pemain alias leaderboard untuk mesin arcade.

Ia pun merintis sebuah tim e-sports yang bernama U.S. National Video Team pada 1983 lalu, organisasi yang dianggap sebagai organisasi e-sports pertama di dunia. Hingga saat ini, ia dikenal sebagai salah satu perintis e-sports dunia.

Kehadiran game kompetitif di dunia maya

Kala itu, game yang diadaptasi dari film populer Star Trek, yaitu Netrek memungkinkan sekitar 16 pemain berkompetisi dan berperang di dunia Star Trek lewat internet untuk pertama kalinya.

Pada momen tersebut, banyak pihak yang menyelenggarakan turnamen secara online atau secara lokal (LAN) untuk beberapa game populer seperti Doom, Quake, Unreal Tournament, hingga Starcraft.

Turnamen e-sports berhadiah 1 juta dollar AS pertama

Kehadiran banyak game kompetitif, macam Counter-Strike yang diluncurkan pada 1990, turut melahirkan banyak turnamen e-sports skala dunia, dirangkum KompasTekno dari GameRant, Rabu (2/4/2025).

Di antaranya seperti World Cyber Games (WCG, 2000) yang digelar di Korea Selatan, Electronic Sports World Cup (ESWC, 2003) di Perancis, Major League Gaming (MLG) di AS, dan masih banyak lagi.

Bahkan pada 2005 lalu, kompetisi Cyberathlete Professional League (CPL) merupakan kompetisi e-sports pertama di dunia yang total hadiahnya tembus 1 juta dollar AS (sekitar Rp 14,5 miliar, asumsi jika 1 dollar AS = Rp 14.500).

Kehadiran e-sports di Indonesia

Dengan jumlah game yang semakin banyak, serta teknologi yang semakin maju, e-sports semakin berkembang menjadi sebuah ekosistem yang bisa dibilang menguntungkan berbagai pihak, baik itu dari pengembang game hingga para pemainnya.

Berbagai turnamen e-sports pun terus digelar sepanjang tahun, mulai dari turnamen tahunan Dota 2 yang berjudul "The International", League of Legends "World Championship", Counter-Strike Global Offensive Major Championship, dan masih banyak lagi.

Di Indonesia sendiri, kepopuleran e-sports bisa dilihat dari segmen game mobile yang bersifat kompetitif seperti Mobile Legends, PUBG Mobile, Free Fire, dan lain sebagainya.

Ketiga game ini bisa dibilang memiliki basis penggemar yang cukup banyak di Indonesia, seiring dengan bertambahnya daftar tim e-sports yang bertanding di game-game tersebut.

Beberapa turnamen e-sports besar dari ketiga game tersebut mencakup Mobile Legends Professional League Indonesia (MPL ID), PUBG Mobile Pro League Indonesia (PMPL ID), hingga Free Fire Master League Indonesia (FFML ID).

game, e-sports, Game, sejarah, sejarah e-sports, sejarah e-sports di dunia, Sejarah E-sports di Dunia, Turnamen dan Game Pertama hingga Masuk Cabang Olahraga, Diawali dari game tenis, Turnamen e-sports pertama di dunia, Skema kompetitif melalui daftar skor tertinggi, Kehadiran game kompetitif di dunia maya, Turnamen e-sports berhadiah 1 juta dollar AS pertama, Kehadiran e-sports di Indonesia

Timnas PUBG Mobile raih medali emasi di ajang SEA Games 2023. Tim Indonesia berhasil meraih 76 emas, 66 perak, dan 94 perunggu sampai Senin (15/5/2023) malam WIB dan menempati peringkat tiga dalam klasemen medali SEA Games 2023 Kamboja.

Adapun perkembangan e-sports di Tanah Air boleh dibilang semakin maju, utamanya setelah timnas Indonesia untuk cabang olahraga (cabor) e-sports di SEA Games 2021 menyumbang enam medali.

Keenam medali tersebut terdiri dari dua medali emas (Free Fire dan PUBG Mobile), tiga medali perak (Free Fire, PUBG Mobile, dan Mobile Legends), serta satu medali perunggu (Cross Fire).

Kemudian pada SEA Games 2023, Indonesia juga menyumbang dua medali emas dari game PUBG Mobile (Team) dan Mobile Legends. Medali lainnya didapatkan dari CrossFire (Perunggu) dan PUBG Mobile untuk mode Solo (Perak). 

Ke depannya, bukan tidak mungkin e-sports di Indonesia akan semakin maju lagi, terlebih setelah ada lembaga yang menaungi game kompetitif di Tanah Air. Mereka adalah macam Pengurus Besar Esports Indonesia (PBESI) dan Indonesia Esports Association (IESPA).

Perkembangan e-sports tentunya juga tak lepas dari semakin banyaknya organisasi e-sports di Indonesia yang melahirkan berbagai tim profesional seperti Rex Regum Qeon (RRQ), Evos Esports, Alter Ego Esports, Bigeton Esports, Onic Esports, dan sebagainya.