Listrik 24 Jam Masuk Pulau Terpencil, Ini Dampak Besarnya ke Kehidupan Warga

Ilustrasi lampu malam hari
Ilustrasi lampu malam hari

 Kehidupan di pulau terpencil identik dengan keterbatasan—termasuk akses listrik yang belum sepenuhnya stabil. Namun perlahan, kondisi ini mulai berubah. Kehadiran sistem penyimpanan energi modern di sejumlah pulau kecil di Indonesia membawa dampak nyata, bukan hanya pada penerangan, tetapi juga pada gaya hidup masyarakat setempat.

Di dua pulau terpencil, sistem kelistrikan berbasis energy storage system (ESS) berkapasitas besar mulai dioperasikan untuk memastikan pasokan listrik yang lebih stabil dan bisa diandalkan. Teknologi ini memungkinkan listrik tetap tersedia meski wilayah tersebut tidak terhubung dengan jaringan listrik utama (off-grid). Scroll untuk tahu lebih lanjut, yuk!

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Perubahan ini terasa langsung dalam keseharian warga. Aktivitas yang sebelumnya terbatas kini menjadi lebih fleksibel. Warga bisa menjalankan usaha kecil di malam hari, anak-anak dapat belajar dengan penerangan yang cukup, hingga kegiatan sosial dan ibadah berjalan lebih nyaman tanpa kekhawatiran listrik padam.

Data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menunjukkan bahwa meski rasio elektrifikasi Indonesia telah melampaui 99 persen, tantangan besar masih ada pada kualitas dan kestabilan listrik, terutama di wilayah kepulauan. Dengan lebih dari 17.000 pulau, akses listrik 24 jam masih belum merata di berbagai daerah.

Hadirnya solusi energi seperti ini juga sejalan dengan tren gaya hidup berkelanjutan yang kini semakin berkembang. Tidak hanya di kota besar, konsep energi bersih dan efisien mulai menjangkau wilayah terpencil, membuka peluang bagi masyarakat untuk hidup lebih produktif sekaligus ramah lingkungan.

Menurut perwakilan PT Dogo Teknologi Energi, Pamela Pan, sistem penyimpanan energi memiliki potensi besar untuk menjawab tantangan tersebut.

“Solusi penyimpanan energi yang terhubung dengan jaringan listrik menawarkan jalur pengembangan yang memadai dengan skala yang dapat diperluas untuk pulau terpencil, kawasan pertambangan, dan ‘pulau energi’, sekaligus meningkatkan akses listrik secara keseluruhan dan memberikan solusi nyata untuk mendukung pencapaian target energi nasional yang baru," ujar Pamela Pan, dalam keterangannya, dikutip Kamis 19 Maret 2026. 

Lebih dari sekadar infrastruktur, listrik yang stabil juga membuka peluang gaya hidup baru. Warga bisa mengakses informasi digital, menggunakan perangkat elektronik dengan lebih optimal, hingga mengembangkan potensi ekonomi lokal seperti usaha kuliner, kerajinan, atau pariwisata berbasis komunitas.

Inisiatif ini juga menjadi bagian dari upaya lebih luas dalam mendorong transisi energi bersih di Indonesia, termasuk pengembangan pembangkit listrik tenaga surya dan sistem penyimpanan energi di berbagai daerah.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

IWIP Charity Foundation menyebut langkah ini sebagai bagian dari komitmen sosial untuk menjembatani kesenjangan akses energi. Dengan menghadirkan listrik yang lebih stabil di wilayah terpencil, diharapkan kualitas hidup masyarakat ikut meningkat—membuktikan bahwa perubahan gaya hidup bisa dimulai dari hal paling mendasar: akses energi yang layak.

IWIP Charity Foundation, bagian dari Yongqing Group milik Tsingshan Industrial Holdings, telah menyalurkan donasi berupa solusi GFM ESS berkapasitas 8 MWh di dua pulau terpencil di Indonesia untuk membangun sistem kelistrikan yang stabil dan andal.