Wamenkomdigi Bongkar Cara Halus AI dan Algoritma Menjajah Isi Kepala Kita
Menurutnya, masyarakat saat ini hidup dalam ruang digital yang dikendalikan platform dan algoritma media sosial, membuat manusia semakin sulit membedakan fakta, opini, hingga manipulasi informasi.
“Hari ini hidup kita dimediasi platform digital. Bahkan isi kepala kita perlahan dibentuk algoritma. Apa yang kita suka terus diperlihatkan, sementara pandangan lain disingkirkan. Kita hidup dalam filter bubble dan echo chamber,” katanya di Jakarta, Senin, 25 Mei 2026.
Wamenkomdigi menilai kondisi tersebut menjadi ancaman serius karena dapat memicu polarisasi sosial, memperkuat misinformasi, dan melemahkan kemampuan berpikir kritis masyarakat, terutama generasi muda.
Ia mengutip laporan World Economic Forum atau WEF yang menempatkan misinformasi dan disinformasi sebagai salah satu risiko global terbesar tahun ini, bahkan melampaui banyak ancaman geopolitik dunia.
“Sekarang orang lebih dulu percaya sentimen dibanding fakta. Kalau suka langsung dipercaya, kalau tidak suka langsung ditolak. Ini yang berbahaya,” tegas Nezar Patria.
Dalam paparannya, dirinya juga menyoroti perubahan besar akibat perkembangan artificial intelligence (kecerdasan artifisial) atau AI yang kini bergerak sangat cepat, mulai dari generative AI, agentic AI, hingga physical AI berbasis robotika.
Menurutnya, dunia sedang memasuki fase baru persaingan global yang bukan lagi sekadar perebutan sumber daya alam, tetapi penguasaan data, komputasi, semikonduktor, dan talenta digital.
“Saat ini, perang yang paling penting adalah perang chip AI dan penguasaan teknologi. Kalau Indonesia hanya jadi pengguna teknologi, bonus demografi kita akan hilang tanpa dampak besar,” tegas Wamenkomdigi Nezar Patria.
Ia juga menjelaskan Indonesia sebenarnya memiliki modal besar berupa bonus demografi dan kekayaan mineral strategis yang dibutuhkan industri teknologi global. Namun, dirinya mengingatkan bahwa keunggulan itu tidak akan berarti tanpa kualitas sumber daya manusia yang mampu menguasai sains dan teknologi.
Karena itu, dirinya meminta generasi muda memperkuat kemampuan science, technology, engineering, and mathematics atau STEM serta meningkatkan literasi digital agar tidak mudah terjebak manipulasi algoritma. “Kita jangan hanya jadi pasar dan konsumen teknologi,” papar dia.