Sejumlah Pemain Italia Pertanyakan Bonus Jelang Lawan Bosnia-Herzegovina
Tragedi kegagalan tim nasional Italia melaju ke putaran final Piala Dunia 2026 menyisakan kabar miring yang kian memojokkan skuad Gli Azzurri.
Setelah dipastikan absen untuk ketiga kalinya secara beruntun dalam ajang bergengsi tersebut, terungkap fakta mengejutkan mengenai perilaku sejumlah pemain yang dianggap kehilangan semangat patriotisme di tengah pertaruhan reputasi negara.
Langkah Italia resmi terhenti setelah dikalahkan oleh Bosnia-Herzegovina melalui drama adu penalti 1-4 dalam laga final play-off Zona Eropa, Selasa (31/3/2026).
Namun, di balik kekalahan menyakitkan yang terjadi di Zenica tersebut, media ternama La Repubblica melaporkan adanya ketegangan internal terkait permintaan bonus pertandingan tepat sebelum laga hidup-mati dimulai.
Laporan dari media Italia menggambarkan situasi yang jauh dari ideal di kamar ganti pemain sebelum sepak mula dilakukan.
Alih-alih fokus pada strategi untuk menundukkan lawan, sekelompok pemain justru mempertanyakan kompensasi finansial yang akan mereka terima jika berhasil lolos.
"Atmosfer di Zenica ketika itu tegang," demikian isi laporan yang dikutip dari La Repubblica, Sabtu (4/4/2026).
"Lebih dari sekadar adrenalin dan tekanan, ada perasaan gugup di sana. Satu kelompok pemain Azzurri mulai menanyakan apakah mereka akan menerima bonus atau tidak jika meraih kemenangan atas Bosnia."
Besaran bonus yang didiskusikan kabarnya mencapai angka 300 ribu euro secara total untuk seluruh skuad.
Meski nilai per individu dianggap tidak seberapa dibandingkan gaji mereka di level klub, yakni sekitar 10 ribu euro atau setara 195,8 juta rupiah.
Intervensi Keras Gennaro Gattuso
Situasi yang memanas ini akhirnya memancing reaksi keras dari sang pelatih, Gennaro Gattuso.
Eks gelandang yang membawa Italia juara dunia ini merasa geram melihat prioritas para pemainnya yang justru teralihkan pada masalah uang di momen yang menentukan.
Bek timnas Italia Alessandro Bastoni (bawah) menerima kartu merah dari wasit asal Prancis, Clement Turpin, pada laga final playoff kualifikasi Piala Dunia FIFA 2026 zona Eropa antara Bosnia-Herzegovina dan Italia di stadion Bilino-Polje di Zenica pada 31 Maret 2026.
Gattuso langsung mengintervensi diskusi tersebut dan mengingatkan para pemain tentang kewajiban utama mereka membela lambang di dada.
Dengan tegas, ia menginstruksikan para pemain untuk membuktikan kapasitas mereka di lapangan terlebih dahulu.
"Ayo kita lolos dulu, setelah itu kita lihat nanti," tegas Gattuso sebagaimana dikutip dari laporan tersebut.
Kegagalan dan Pengunduran Diri Sang Pelatih
Sayangnya, ketegasan Gattuso tidak cukup untuk membawa perubahan di lapangan.
Setelah bermain imbang 1-1 selama 120 menit, eksekusi penalti yang buruk membuat harapan publik tanah air kembali sirna.
Pasca-pertandingan, sebagian besar pemain memilih untuk menghindari media, kecuali Leonardo Spinazzola yang memberikan keterangan sambil menangis.
Buntut dari kegagalan ini, Gennaro Gattuso secara resmi menyatakan mundur dari jabatannya pada Jumat (3/4/2026).
Keputusan ini diikuti oleh pengunduran diri kepala delegasi Gianluigi Buffon dan Presiden FIGC Gabriele Gravina.
“Dengan berat hati, dan karena belum mampu mencapai target yang kami tetapkan, saya merasa masa saya sebagai pelatih kepala tim nasional telah berakhir,” ujar Gennaro Gattuso di situs resmi FIGC.
“Seragam Azzurri adalah hal paling berharga dalam sepak bola, dan karena itu sudah sepatutnya saya memberi jalan bagi keputusan Federasi ke depan."
"Saya ingin mengucapkan terima kasih kepada Presiden Gabriele Gravina dan Gianluigi Buffon, serta seluruh jajaran Federasi, atas kepercayaan dan dukungan yang selalu mereka berikan kepada saya.”
“Merupakan sebuah kehormatan dapat memimpin tim nasional, terlebih dengan sekelompok pemain yang menunjukkan komitmen dan dedikasi luar biasa," lanjutnya.
"Namun, ucapan terima kasih terbesar saya tujukan kepada para penggemar, kepada seluruh masyarakat Italia yang selama beberapa bulan ini tidak pernah berhenti menunjukkan cinta dan dukungan kepada tim."
"Saya akan selalu membawa Azzurri di dalam hati saya,” tutup pelatih kelahiran Italia pada 9 Januari 1978 itu.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang