Cerita Ivan Gunawan Gunting Kartu Kredit hingga Lunasi Utang karena Takut Mati
Perjalanan hidup Ivan Gunawan kembali menjadi perhatian publik. Kali ini bukan soal karier atau dunia hiburan, melainkan perubahan besar dalam cara pandangnya terhadap hidup, terutama soal spiritualitas.
Salah satu momen paling mencolok adalah ketika ia mengaku mulai merasa takut akan kematian. Rasa tersebut bukan sekadar ketakutan biasa, melainkan menjadi titik awal perubahan drastis dalam hidupnya. Ia pun langsung mengambil langkah nyata dengan merapikan kondisi finansialnya yang selama ini mungkin terabaikan. Scroll ke bawah untuk simak artikel selengkapnya.
Keputusan itu tidak main-main. Ivan memilih untuk menghentikan kebiasaan menggunakan kartu kredit dan berusaha melunasi seluruh utangnya. Ia ingin menjalani hidup dengan lebih tenang tanpa beban yang mengganggu, terutama jika sewaktu-waktu ajal menjemput.
Pengakuan tersebut diungkapkan secara jujur dalam perbincangannya bersama Atta Halilintar. Pada momen itulah ia menceritakan keputusan besar yang diambilnya.
"Jadi gue keluarin tuh semua kartu kredit gue gunting-guntingin, gue lunas-lunasin semua utang-utang gue lunas-lunasin, gue takut mati Ta," ungkapnya yang dikutip darI YouTube pada Rabu, 25 Maret 2026.
Sebelum sampai pada titik ini, Ivan mengakui bahwa dirinya pernah berada di fase hidup yang sangat berbeda. Kesuksesan di dunia hiburan membuatnya merasa semua bisa dicapai tanpa perlu bergantung pada Tuhan. Ia bahkan sempat memiliki pemikiran yang terbilang ekstrem.
"Allah nggak ada, gue tetap bintang. Allah nggak ada, gue tetap terkenal," ucapnya menggambarkan masa lalunya.
Perubahan itu mulai terasa saat ia berada di luar negeri, tepatnya di New York. Di tengah kesibukan dan kehidupan glamor, muncul keinginan spontan untuk beribadah.
"Terus randomly, maaf ya ya Allah ini ngomongnya random ya tapi emang pada waktu itu tuh kayak gini 'Ya sudah deh umrah deh' gitu," tuturnya.
Tanpa banyak rencana, ia langsung berangkat ke Tanah Suci setelah kembali ke Indonesia. Pengalaman umrah tersebut menjadi titik balik yang membuka hatinya.
Di sana, ia mulai merasakan kedekatan dengan Tuhan yang sebelumnya tidak pernah ia rasakan. Bahkan, doa-doa yang ia panjatkan membuatnya semakin yakin bahwa setiap permohonan didengar.
Setelah melewati proses panjang tersebut, Ivan kini memilih menjalani hidup dengan lebih sederhana dan terarah. Ia mulai memperbaiki ibadah, menjaga keuangan, serta mengurangi hal-hal yang tidak penting.
Perubahan ini juga membuatnya lebih menghargai waktu dan kesempatan hidup. Rasa takut mati yang dulu terasa menakutkan, kini justru menjadi pengingat agar ia terus berbenah diri.