Puncak Arus Balik Lebaran 2026 di Pelabuhan Ketapang-Gilimanuk Diprediksi 25-27 Maret

Pelabuhan Gilimanuk, arus balik, Puncak Arus Balik Lebaran 2026 di Pelabuhan Ketapang-Gilimanuk Diprediksi 25-27 Maret

Puncak arus balik Lebaran 2026 di lintasan penyeberangan Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi menuju Pelabuhan Gilimanuk, Jembrana, diprediksi akan terjadi pada 25 hingga 27 Maret 2026.

Berdasarkan data PT ASDP Indonesia Ferry (Persero), pergerakan penumpang dan kendaraan mulai menunjukkan tren peningkatan signifikan pada H+1 Lebaran atau Minggu (22/3/2026). Hingga saat ini, tercatat sebanyak 26.424 orang telah menyeberang dari Pulau Jawa menuju Bali dengan total 162 trip penyeberangan.

Statistik Kendaraan, Motor dan Truk Melonjak

Meski secara akumulatif jumlah penumpang turun 5,8 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu, volume kendaraan tertentu justru mengalami kenaikan.

Kendaraan roda dua atau sepeda motor mencatatkan kenaikan sebesar 37,3 persen dengan total 3.713 unit. Lonjakan paling tajam terjadi pada sektor logistik, di mana jumlah truk naik drastis hingga 64,6 persen menjadi 288 unit.

Sebaliknya, kendaraan roda empat pribadi mengalami penurunan 19,2 persen (3.320 unit), dan sektor bus turun 11,3 persen (219 unit). Secara keseluruhan, total kendaraan yang menyeberang mencapai 7.540 unit, naik 4,2 persen dibanding tahun lalu.

Manager Humas ASDP Cabang Ketapang, Bintang Felfian, mengonfirmasi penurunan jumlah penumpang pada hari pertama setelah Idul Fitri tersebut.

"Pada periode satu hari setelah Hari Raya Idul Fitri 2026 ini, jumlah orang menurun dibandingkan periode yang sama tahun lalu," ujar Bintang, Senin (23/3/2026).

Prediksi Puncak Arus Balik 2026

Berbeda dengan arus masuk Bali, tren arus keluar dari Bali menuju Jawa justru meningkat 5,1 persen sejak H-10 dengan total 541.215 orang. Manager Usaha ASDP Pelabuhan Gilimanuk, Didi Juliansyah, menyebutkan bahwa lonjakan besar arus balik ke Pulau Dewata akan segera tiba.

"Memang ada peningkatan, namun belum begitu signifikan. Kami prediksi puncak arus balik akan terjadi pada 25 hingga 27 Maret 2026," jelas Didi.

Lonjakan ini diperkirakan bertepatan dengan berakhirnya masa libur Lebaran dan dimulainya kembali aktivitas sekolah pada akhir pekan mendatang.

Catatan Kelam: Antrean Mengular dan Korban Jiwa

Kondisi arus mudik dan balik tahun ini mendapat sorotan tajam akibat kemacetan ekstrem di jalur menuju pelabuhan. Antrean kendaraan dilaporkan sempat mengular hingga 30–40 kilometer. Bahkan pada Rabu (18/3/2026), antrean menuju dermaga masih tersisa sekitar 8 kilometer.

Situasi ini memicu jatuhnya korban jiwa. Seorang ibu rumah tangga asal Kebumen, Jawa Tengah, dilaporkan meninggal dunia setelah pingsan akibat mengantre berjam-jam di dalam bus. Selain itu, 17 pemudik lainnya tumbang karena kelelahan fisik dan cuaca panas yang menyengat.

Kapolres Jembrana, Kadek Citra Dewi Suparwati, meminta para pemudik untuk tidak memaksakan diri jika kondisi kesehatan menurun.

“Kami mengimbau pemudik memastikan kondisi fisik prima dan segera melapor jika merasa tidak sehat,” tegas Kadek Citra.

Buruknya kemacetan tahun ini, yang disebut-sebut sebagai salah satu yang terparah, dinilai oleh pakar Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI), Djoko Setijowarno, sebagai dampak dari lemahnya manajemen kedatangan dan keterbatasan infrastruktur dermaga.

Merespons hal ini, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi telah menyampaikan permohonan maaf secara terbuka atas ketidaknyamanan pemudik. Pemerintah berjanji akan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kapasitas lintas Ketapang-Gilimanuk agar kejadian serupa tidak terulang di masa mendatang.

Masyarakat yang akan melakukan perjalanan balik diimbau untuk memesan tiket secara daring melalui aplikasi Ferizy jauh-jauh hari dan merencanakan perjalanan lebih awal untuk menghindari kepadatan ekstrem di pelabuhan.

Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul Puncak Arus Balik di Pelabuhan Ketapang-Gilimanuk Diprediksi 25 Maret, Antrean Mulai Terlihat

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang