Viral Detik-detik Avanza Nabrak Guardrail, Besi Pembatas Nembus Bodi Mobil

Array,Viral Detik-detik Avanza Nabrak Guardrail, Besi Pembatas Nembus Bodi Mobil

Viral di media sosial mobil Toyota Avanza menabrak guardrail saat lewat one way di Tol Trans Jawa. Besi pembatas jalan sampai nembus bodi mobil.

Detik-detik kecelakaan Toyota Avanza menabrak guardrail di arus one way Tol Trans Jawa itu tersebar di media sosial. Salah satunya diunggah akun X @sharpandshark.

Dalam video yang beredar tersebut, tampak beberapa mobil sedang melaju di jalur one way di Tol Trans Jawa. Terlihat beberapa mobil berjalan di bahu jalan sebelah kanan.

Namun, tiba-tiba mobil Avanza silver di depan terlihat oleng. Avanza itu awalnya melaju di lajur dua jalur one way yang bersebelahan dengan bahu jalan. Tapi, Avanza itu tampak kehilangan kendali saat melaju dan tiba-tiba berbelok ke arah bahu jalan. Tak lama kemudian, Avanza silver yang terlihat keluar lajur tersebut menabrak guardrail atau besi pembatas jalan. Besi pembatas jalan sampai menembus bodi mobil Avanza. Besi tersebut juga menghantam barang-barang di atap kendaraan di belakangnya.

[Gambas:Twitter]

Pengemudi Avanza yang oleng dari lajur dua ke bahu jalan hingga menabrak guardrail itu diduga mengantuk. Praktisi keselamatan berkendara yang juga anggota Kebijakan dan Advokasi Berkendara Direktorat Keselamatan Berkendara Ikatan Motor Indonesia (IMI) Erreza Hardian, mengatakan pengemudi harus menjaga dan mengendalikan kecepatan, terlebih dalam kondisi mudik yang melelahkan.

"Karena banyak muatan dan kondisi fisik yang tidak terbiasa jalan jauh, puasa dan siang hari bisa saja membuat menjadi lelah dan berkurangnya konsentrasi akibat jalur yang tidak biasa ini (one way). Capailah kecepatan yang masih bisa dikendalikan," ucap Reza kepada detikOto, Kamis (19/3/2026).

Reza memberikan beberapa tips agar pemudik tidak mengantuk saat mengemudi. Pertama, usahakan jangan memandang hanya ke satu titik.

"Matanya jelalatan, jangan hanya ke depan. Lihat ke indikator, kanan, kiri dan juga sejauh mata memandang ke depan. Lakukan gerakan yang tidak monoton, misal kembali ke jalur kiri, dengan look (melihat spion dan kondisi sekitar), (menyalakan) sein dan manuver," sebutnya.

Untuk mobil dengan transmisi otomatis, Reza menyarankan jangan hanya bermain di gigi D. Hal ini perlu dilakukan agar tidak monoton.

"Kecepatan itu diatur oleh transmisi, jadi ketika sudah perjalanan lebih dari 2 jam, dengan kondisi panas, sarat penumpang dan barang, juga tidak terbiasa mengemudi jarak jauh, maka dengan transmisi di 3 akan ketahan di situ dan ketika pedal akselerator terinjak maka akan ada gerungan mesin dan bukan malah jadi menambah kecepatan," jelasnya.

"Untuk MT ya mainkan sesekali perpindahan transmisi. Pergerakan yang tidak monoton akan mengurangi risiko microsleep atau melamun tadi karena jalan tidak memberikan rangsangan visual dan fisik," sambungnya.

Selain itu, usahakan selalu untuk beristirahat secara rutin. Sebaiknya setiap 2 jam berhenti untuk beristirahat.

"Jadikan standar setiap 2 jam henti untuk situasi seperti sekarang ini, minimal kalau tidak dapat menjalankan prosedur di atas, berhenti itu sudah membuat pengemudi tidak bekerja monoton," katanya.

Sementara itu, Reza juga menyoroti kondisi guardrail jalan tol. Menurutnya, kondisi guardrail itu pernah disinggung oleh Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) mengenai bagian yang tajam.

"Dan ini jelas berisiko. Bentuknya keluar melengkung sebaiknya. Tapi beberapa pengelola jalan tentunya perlu pengajuan anggaran jadi hal ini jelas perlu bertahap melakukannya. Ini sedikit tergambar di kejadian di atas sepertinya guardrail-nya justru terlepas dan ini pemicu adanya ujung yang lepas dan tajam tadi," kata Reza.