Saya Pakai Tablet Infinix Xpad Edge Dua Minggu untuk Kerja, Bisakah Menggantikan Laptop?
- Desain tipis yang terlihat premium
- Paket pembelian yang terasa "worth it"
- Keyboard nyaman, tapi touchpad kadang bermasalah
- Navigasi dan multitasking terasa cukup smooth
- Mengedit video di tablet terasa seperti di HP, tapi lebih lega
- Ada tombol khusus AI, tapi belum terlalu membantu
- Performa stabil, tapi bisa menurun jika dipakai lama
- Pengisian daya cukup lama
- Satu fitur penting yang absen
- Bisakah Infinix Xpad Edge menggantikan laptop?
- Tablet Rp 4 jutaan yang value for money
Laptop selama ini masih menjadi "senjata utama" saya untuk bekerja. Mulai dari menulis artikel, membuka banyak tab browser, mengolah dokumen, hingga sesekali mengedit video ringan.
Namun, ketika mencoba Infinix Xpad Edge, saya mulai bertanya-tanya, "bisakah tablet ini menggantikan laptop?"
Pertanyaan itu muncul karena tablet ini terlihat menjanjikan. Dengan layar besar, keyboard bawaan dalam paket pembelian, serta berbagai fitur produktivitas, perangkat ini tampak seperti dirancang untuk menjadi alternatif laptop yang lebih ringan.
Untuk menjawabnya, saya mencoba menggunakan Infinix Xpad Edge selama sekitar dua minggu sebagai perangkat utama untuk bekerja.
Laptop sengaja saya singkirkan sementara, dan semua pekerjaan harian saya lakukan lewat tablet ini. Hasilnya, saya mendapat pengalaman yang menarik. Berikut ini ulasannya.
Desain tipis yang terlihat premium
Kesan pertama saat memegang Infinix Xpad Edge adalah desainnya yang cukup menarik. Tablet ini terlihat minimalis dengan bodi yang terasa solid dan cukup premium.
Bodi yang tipis membuat perangkat ini mudah dibawa. Bobotnya juga masih terasa nyaman jika dibawa bekerja di kafe atau ruang kerja bersama. Dibandingkan membawa laptop, tablet ini jelas lebih praktis.
Kesan pertama saat memegang Infinix Xpad Edge adalah desainnya yang cukup menarik. Tablet ini terlihat minimalis dengan bodi yang terasa solid dan cukup premium. Bodi yang tipis membuat perangkat ini mudah dibawa. Bobotnya juga masih terasa nyaman jika dibawa bekerja di kafe atau ruang kerja bersama. Dibandingkan membawa laptop, tablet ini jelas lebih praktis.
Layar berukuran 13,2 inci menjadi salah satu daya tarik utama. Ukurannya cukup besar untuk bekerja, menonton video, atau membuka dokumen.
Yang menarik, layarnya juga dirancang agar nyaman di mata. Ada sertifikasi yang membuat layar lebih ramah bagi mata, ditambah fitur night light yang membantu mengurangi cahaya biru.
Selama dua minggu penggunaan, saya cukup sering bekerja dalam waktu lama di depan tablet ini. Untungnya, mata tidak cepat terasa lelah.
Paket pembelian yang terasa "worth it"
Hal lain yang langsung terasa menguntungkan adalah paket pembeliannya. Tablet ini sudah disertai keyboard dan pena digital dalam kotak penjualan.
Ini nilai tambah yang cukup besar. Banyak tablet lain yang biasanya menjual keyboard secara terpisah dan harganya bisa cukup mahal.
Keyboard tersebut juga dilengkapi touchpad, yang membuat pengalaman penggunaan terasa lebih mirip laptop.
Saat membuka dokumen atau berpindah antar aplikasi, saya tidak selalu harus menyentuh layar. Cukup menggunakan touchpad untuk navigasi.
Keberadaan touchpad ini juga sangat membantu, terutama ketika sedang menulis artikel panjang atau mengedit dokumen.
Keyboard nyaman, tapi touchpad kadang bermasalah
Selama dua minggu mengetik dengan keyboard ini, pengalaman yang saya rasakan cukup positif.
Meski berbahan plastik, keyboard Infinix Xpad Edge terasa cukup kokoh dan tidak ringkih. Tombolnya juga terasa nyaman ditekan.
Meski berbahan plastik, keyboard Infinix Xpad Edge terasa cukup kokoh dan tidak ringkih. Tombolnya juga terasa nyaman ditekan. Mengetik artikel panjang atau dokumen terasa cukup enak, bahkan setelah beberapa jam penggunaan. Namun, ada satu catatan pada touchpad. Kadang-kadang touchpad terasa kurang presisi.
Mengetik artikel panjang atau dokumen terasa cukup enak, bahkan setelah beberapa jam penggunaan.
Namun, ada satu catatan pada touchpad. Kadang-kadang touchpad terasa kurang presisi. Pointer bisa meleset dari posisi yang diinginkan. Hal ini lebih sering terjadi ketika jari atau tangan sedang berkeringat.
Masalah ini memang tidak terlalu besar, tetapi cukup terasa ketika sedang bekerja cepat.
Navigasi dan multitasking terasa cukup smooth
Untuk pekerjaan sehari-hari, performa tablet ini sebenarnya cukup menyenangkan. Saya sering membuka beberapa aplikasi sekaligus, seperti browser, Google Docs, atau aplikasi catatan.
Perpindahan antar aplikasi terasa cukup smooth. Tidak ada hal mengganggu saat berpindah dari satu aplikasi ke aplikasi lain.
Infinix Xpad Edge sendiri ditenagai chipset Snapdragon 685 (6nm), yang memiliki komposisi CPU octa core berkecepatan hingga 2,8 GHz dan GPU Adreno 610. Chip ini dipadukan dengan RAM LPDDR4X 8 GB dan memori penyimpanan UFS 2.2 256 GB.
Tablet ini juga memiliki fitur split windows, yang memungkinkan dua aplikasi dibuka sekaligus di layar.
Fitur ini cukup membantu. Misalnya saat menulis artikel sambil membuka referensi di browser. Dengan layar yang cukup besar, penggunaan dua aplikasi sekaligus masih terasa nyaman.
Mengedit video di tablet terasa seperti di HP, tapi lebih lega
Selain menulis, saya juga mencoba menggunakan tablet ini untuk edit video ringan di CapCut. Pengalamannya sebenarnya cukup menyenangkan.
Rasanya seperti mengedit video di smartphone, tetapi dengan layar yang jauh lebih besar. Timeline video terlihat lebih jelas, proses memotong klip juga terasa lebih mudah, dan keseluruhan pengalaman terasa lebih lega dibandingkan mengedit di HP.
Untuk kebutuhan edit video sederhana, tablet ini sudah lebih dari cukup.
Ada tombol khusus AI, tapi belum terlalu membantu
Keyboard tablet ini juga memiliki tombol khusus untuk AI Folax, asisten virtual bawaan perangkat. Tombol ini memudahkan pengguna untuk langsung memanggil AI tanpa harus membuka aplikasi tertentu.
Layar berukuran 13,2 inci menjadi salah satu daya tarik utama. Ukurannya cukup besar untuk bekerja, menonton video, atau membuka dokumen. Yang menarik, layarnya juga dirancang agar nyaman di mata. Ada sertifikasi yang membuat layar lebih ramah bagi mata, ditambah fitur night light yang membantu mengurangi cahaya biru.
Namun setelah saya coba, pengalaman menggunakan AI ini masih belum terlalu memuaskan. Ketika menggunakan perintah suara, AI sering kali gagal memahami instruksi.
Sebaliknya, ketika saya mengetik perintah lewat teks, hasilnya lebih konsisten. Misalnya untuk membuka aplikasi Chrome atau menjalankan perintah sederhana lainnya.
Artinya, fitur AI ini sebenarnya menarik, tetapi masih perlu peningkatan agar lebih praktis digunakan.
Performa stabil, tapi bisa menurun jika dipakai lama
Selama penggunaan sehari-hari, performa tablet ini cukup stabil. Membuka website, mengetik dokumen, atau berpindah aplikasi terasa cukup lancar.
Namun setelah digunakan dalam waktu lama, saya mulai merasakan performanya sedikit menurun.
Bukan sampai terasa sangat lambat, tetapi responsnya tidak secepat ketika baru mulai digunakan. Hal ini masih tergolong wajar untuk perangkat di kelasnya.
Tablet ini juga dilengkapi kamera depan yang bisa digunakan untuk video call. Namun, kualitasnya tergolong biasa saja.
Tablet ini juga dilengkapi kamera depan yang bisa digunakan untuk video call. Namun, kualitasnya tergolong biasa saja. Jika digunakan dalam kondisi pencahayaan yang cukup, hasilnya masih lumayan. Tapi, jika cahaya kurang, kualitas gambar terlihat kurang tajam. Jadi jangan berharap kualitas video call yang sangat jernih dari kamera tablet ini.
Jika digunakan dalam kondisi pencahayaan yang cukup, hasilnya masih lumayan. Tapi, jika cahaya kurang, kualitas gambar terlihat kurang tajam. Jadi jangan berharap kualitas video call yang sangat jernih dari kamera tablet ini.
Pengisian daya cukup lama
Satu hal lain yang cukup terasa adalah waktu pengisian daya yang cukup lama. Tablet Infinix Xpad Edge dibekali baterai besar, 8.000 mAh. Tapi, kecepatan pengisian dayanya mentok di 18W.
Dari kondisi baterai kosong hingga penuh, proses pengisian bisa memakan waktu hampir empat jam.
Satu hal lain yang cukup terasa adalah waktu pengisian daya yang cukup lama. Tablet Infinix Xpad Edge dibekali baterai besar, 8.000 mAh. Tapi, kecepatan pengisian dayanya mentok di 18W.
Memang, hal ini bisa dimaklumi karena tablet ini memiliki baterai yang cukup besar. Namun, bagi pengguna yang terbiasa dengan pengisian cepat di smartphone waktu ini mungkin terasa agak lama.
Satu fitur penting yang absen
Selama dua minggu menggunakan tablet ini sebagai pengganti laptop, ada satu hal yang cukup terasa hilang. Tablet ini tidak memiliki desktop mode.
Padahal pada beberapa tablet lain, bahkan di kelas harga yang lebih murah, desktop mode sudah tersedia.
Desktop mode biasanya membuat tampilan sistem operasi menjadi lebih mirip komputer, dengan jendela aplikasi yang lebih fleksibel dan navigasi yang lebih nyaman.
Tanpa fitur ini, pengalaman menggunakan tablet tetap terasa seperti tablet biasa, bukan laptop.
Akibatnya, ketika bekerja dengan banyak aplikasi sekaligus, pengalaman penggunaan terasa kurang optimal.
Bisakah Infinix Xpad Edge menggantikan laptop?
Kotak kemasan tablet Infinix Xpad Edge.
Setelah dua minggu mencoba menjadikan tablet ini sebagai perangkat kerja utama, saya sampai pada satu kesimpulan.
Infinix Xpad Edge belum bisa sepenuhnya menggantikan laptop.
Laptop masih terasa lebih nyaman untuk pekerjaan tertentu, terutama ketika membuka aplikasi yang lebih kompleks atau mengelola banyak jendela aplikasi sekaligus.
Namun, tablet ini bisa menjadi alternatif bagi pengguna yang ingin perangkat yang lebih ringkas dan ringan.
Untuk pekerjaan ringan, seperti membuka Google Docs, Sheets, menulis artikel, browsing, atau bahkan edit video ringan di CapCut, tablet ini sudah cukup mumpuni.
Perangkat ini juga bisa menjadi pilihan menarik bagi orang yang tidak ingin membawa laptop yang berat ke mana-mana.
Dengan desain tipis, layar besar, serta keyboard yang sudah termasuk dalam paket pembelian, tablet ini terasa praktis untuk bekerja mobile.
Tablet Rp 4 jutaan yang value for money
Dengan harga di kisaran Rp 4 jutaan, Infinix Xpad Edge menawarkan paket yang cukup menarik.
Layar besar, desain premium, keyboard bawaan, serta fitur produktivitas membuat perangkat ini terasa value for money.
Memang ada beberapa kekurangan, seperti tidak adanya desktop mode, touchpad yang kadang kurang presisi, dan pengisian daya yang cukup lama.
Namun secara keseluruhan, tablet ini tetap menjadi perangkat yang menyenangkan untuk digunakan.
Jika Anda mencari tablet untuk bekerja ringan tanpa harus membawa laptop, Infinix Xpad Edge bisa menjadi alternatif yang menarik.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang