Main Tetris, Luka Batin bisa Pulih Kembali
Dengan menyibukkan otak dengan memainkan Tetris, ingatan yang mengganggu tidak dapat menemukan jalan masuk, sehingga mengurangi trauma.
Studi yang diterbitkan di The Lancet Psychiatry, seperti dikutip dari situs Euronews, Jumat, 20 Februari 2026, fokus pada pengobatan ingatan traumatis yang mengganggu, jelas, dan tidak diinginkan, yang merupakan gejala inti dari gangguan stres pasca-trauma (PTSD).
Terapi yang disebut Intervensi Tugas Kompetitif Imajinasi (Imagery Competing Task Intervention/ICTI) ini dikembangkan di Universitas Uppsala, Swedia, bekerja sama dengan badan riset P1vital, dan diujicobakan dengan Universitas Cambridge dan Universitas Oxford - keduanya di Inggris.
Trauma psikologis, seperti menyaksikan kematian yang tak terduga atau mengalami pengalaman kekerasan, dapat memicu ingatan yang mengganggu dan bertahan selama berhari-hari atau bertahun-tahun serta memengaruhi kesehatan mental dan fisik seseorang.
Ingatan yang mengganggu, yang biasa dikenal sebagai kilas balik, adalah ingatan yang tidak disengaja dan berulang yang muncul tiba-tiba dalam pikiran, biasanya sebagai gambaran visual dari suatu trauma.
“Bahkan satu ingatan singkat dan mengganggu tentang trauma masa lalu dapat memberikan dampak yang kuat dalam kehidupan sehari-hari dengan mengalihkan perhatian dan membuat orang berada di bawah kendali emosi yang tidak diinginkan dan mengganggu,” kata Emily Holmes, profesor psikologi di Universitas Uppsala.
Ia menambahkan jika dengan melemahkan aspek mengganggu dari ingatan sensorik ini melalui intervensi visual singkat ini, orang-orang mengalami lebih sedikit kilasan gambar traumatis. Tim peneliti fokus pada pekerja layanan kesehatan yang mengalami peristiwa traumatis di tempat kerja selama pandemi Covid-19.
Para peserta dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu pertama menggunakan intervensi mental, kedua mendengarkan musik klasik, dan ketiga menerima perawatan seperti biasa.
Studi tersebut menemukan bahwa ICTI secara signifikan mengurangi ingatan yang mengganggu dari angka dasar 14 per minggu menjadi satu per minggu setelah empat minggu, 10 kali lebih sedikit dibandingkan peserta di kelompok lain.
Enam bulan setelah uji coba, 70 persen orang dalam kelompok perawatan baru benar-benar terbebas dari ingatan yang mengganggu.
“Intervensi kami berfokus pada citra mental kita, bukan kata-kata, dan dirancang agar selembut, sesingkat, dan sepraktis mungkin agar sesuai dengan kesibukan hidup orang-orang,” tambah Holmes.
Komponen utama dari terapi ini adalah permainan video Tetris, di mana pemain harus memutar figur dengan ukuran berbeda agar semuanya muat dalam sebuah kotak.
Pada langkah pertama penelitian, peserta secara singkat mengingat kembali kenangan traumatis tersebut, tanpa perlu mendeskripsikannya atau menjelaskannya secara detail.
Mereka kemudian diajarkan cara menggunakan rotasi mental, sebuah keterampilan kognitif yang menggunakan imajinasi. ICTI kemudian mengharuskan peserta untuk menerapkan keterampilan ini untuk bermain Tetris, tetapi dengan cara yang lebih lambat, dalam sesi sekitar 20 menit.
Secara keseluruhan, metode ini bertujuan untuk menduduki area visuospasial otak, bersaing dengan kilas balik visual untuk mengurangi intensitas, dampak emosional, dan frekuensinya.
Para peneliti melihat bahwa pengobatan tersebut bermanfaat tidak hanya untuk mengurangi gambaran yang mengganggu tetapi juga gejala PTSD secara keseluruhan.
Jika ingatan yang mengganggu berkurang, seharusnya ada efek menguntungkan pada gejala PTSD lainnya, demikian temuan studi tersebut. Kecemasan, depresi, dan fungsi umum membaik pada minggu keempat, terlepas dari tingkat PTSD yang dialami peserta di awal penelitian.