AI Bisa Bikin Orang Kaya Raya, Bagaimana Caranya?

Ilustrasi uang
Ilustrasi uang

Perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dinilai belum mencapai puncaknya. Justru sebaliknya, teknologi ini disebut masih berada di fase sangat awal dan berpotensi melahirkan gelombang kekayaan baru dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya. 

Pandangan ini datang dari miliarder sekaligus investor ternama, Mark Cuban. Dalam sebuah wawancara podcast, Cuban menyampaikan bahwa AI bukan sekadar tren teknologi, melainkan lompatan besar yang dapat mengubah peta ekonomi global. 

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Ia bahkan meyakini AI bisa membuka jalan bagi lahirnya triliuner pertama di dunia. “Kita belum melihat yang terbaik atau yang paling gila dari apa yang bisa dilakukan AI,” kata Mark Cuban, sebagaimana dikutip dari Fortune, Minggu, 8 Februari 2026.

“Saya bukan hanya berpikir AI akan menciptakan seorang triliuner, tapi orang itu bisa saja cuma satu orang di ruang bawah tanah. Segila itu potensinya,” ungkapnya. 

Pernyataan tersebut merujuk pada sejarah perusahaan teknologi besar yang lahir dari tempat sederhana. Apple dirintis Steve Jobs dari garasi rumah orang tuanya, sementara Amazon juga berawal dari garasi Jeff Bezos. 

Cuban melihat pola serupa berpotensi terulang, tetapi kali ini dengan dorongan AI yang jauh lebih kuat. Menurutnya, inovasi dari wirausaha kreatif memang selalu melahirkan sesuatu yang lebih besar. 

Namun AI dinilai melampaui lompatan teknologi sebelumnya. “Selalu ada hal yang lebih besar dan lebih baik yang diciptakan oleh pengusaha inovatif. Tapi AI melampaui semua itu,” ujarnya.

Contoh nyata yang sering disorot adalah OpenAI, yang didirikan di ruang tamu salah satu pendirinya. Perusahaan tersebut kini bernilai sangat besar dan menjadi pemain kunci dalam perlombaan teknologi AI global. 

Meski belum ada triliuner dari AI saat ini, Cuban menilai jalurnya sudah terbuka. Ia menegaskan bahwa saat ini dunia baru memasuki “pramusim” AI. Artinya, pemanfaatan yang ada sekarang masih jauh dari potensi maksimal. 

“Seiring AI makin maju dan saya tidak bilang kita akan sampai seperti film Terminator bukan berarti robot akan lebih pintar dari manusia seperti di film,” kata Cuban. “Tapi kita akan menemukan cara membuat hidup lebih baik, lebih menarik, bekerja lebih efektif.”

Cuban juga mengaku menggunakan AI hampir untuk semua hal dalam kehidupan pribadinya. Salah satu contohnya adalah untuk membantu memantau kondisi kesehatannya. Ia menderita gangguan irama jantung atrial fibrillation (A-fib), sehingga harus mencatat jadwal minum obat dan aktivitas olahraga.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Ia memanfaatkan AI untuk membantu mencatat data tersebut serta memberi peringatan bila ada catatan yang tampak tidak wajar atau perlu diperhatikan. Bagi Cuban, AI bukan sekadar alat canggih, tetapi asisten yang meningkatkan produktivitas dan pengambilan keputusan sehari-hari.

Meski optimistis, Cuban tetap mengakui adanya risiko dan keterbatasan AI. Namun secara keseluruhan, ia melihat teknologi ini sebagai kekuatan besar yang dapat membuka peluang ekonomi luar biasa, termasuk bagi individu biasa dengan ide besar, tanpa perlu kantor mewah atau modal raksasa di awal.