Kedai Jamu Kini Hadir seperti Coffee Shop, Jadi Tempat Nongkrong Nyaman

Kafe jamu kekinian, Konsep kafe jamu kekinian, Kedai Jamu Kini Hadir seperti Coffee Shop, Jadi Tempat Nongkrong Nyaman

Kedai jamu kini mulai mengalami pergeseran fungsi. Jika sebelumnya identik sebagai tempat membeli minuman kesehatan untuk diminum cepat, sejumlah kedai jamu hadir dengan konsep ruang duduk, menu racikan yang bisa disesuaikan, serta suasana santai yang memungkinkan pengunjung berlama-lama.

Perubahan tersebut terlihat dari cara jamu disajikan, pengalaman yang ditawarkan, hingga jenis pengunjung yang datang.

Jamu tidak lagi semata diposisikan sebagai minuman tradisional dengan rasa pahit, melainkan sebagai bagian dari gaya hidup, tanpa meninggalkan bahan dan filosofi dasarnya.

Seperti yang dihadirkan di Kafe jamu kekinian Acaraki di kawasan Pantai Indah Kapuk (PIK) 2, Tangerang, Banten.

Tidak sebatas menikmati jamu, kafe ini juga menyediakan pengalaman menikmati jamu yang disiapkan langsung oleh peracik jamu, sambil mengeksplorasi rempah, teknik penyeduhan,

serta filosofi di balik setiap racikan.

"Di sini, Acaraki berperan sebagai peracik jamu. Kami mencoba meracik jamu yang sesuai dengan keinginan Anda," kata pemilik sekaligus direktur PT Acaraki Nusantara Persada, Jony Yuwono.

"Kalau enggak nyaman minum kunyit asam pekat, mau ditambahkan gula, silakan. Tambahkan madu, boleh. Mau tambahkan soda biar lebih segar, silakan," sambung Jony kepada awak media di sela peresmian Acaraki PIK 2, Rabu (4/2/2026).

Pengunjung dapat menikmati menu jamu favorit di Acaraki, seperti Golden Sparkling yang dibuat dari perpaduan kunyit, asam jawa, dan soda maupun Jaman Batu yang merupakan racikan dari tiga jenis jahe, lemon, dan madu.

Ada juga jamu temulawak yang dipadukan dengan serai dan madu bernama Alea Smile.

Kafe jamu kekinian, Konsep kafe jamu kekinian, Kedai Jamu Kini Hadir seperti Coffee Shop, Jadi Tempat Nongkrong Nyaman

Golden Sparkling yang dibuat dari perpaduan kunyit, asam jawa, dan soda, salah jamu favorit di Acaraki.

Bahkan, untuk pertama kalinya, pengunjung Acaraki juga dapat menikmati varian jamu capsule. 

Jamu berbentuk kapsul ini menawarkan cara modern dan praktis, tanpa meninggalkan esensi bahan-bahan tradisional.

Aneka menu makanan khas Nusantara dapat dipesan untuk menikmati sajian jamu, di antaranya empal gentong, serabi solo, sate kambing, iga garang asem, sate kambing, dan sup mangut ikan pari asap.

Acaraki PIK 2 menghadirkan fasilitas lebih lengkap, mulai dari area retail, ruang eksklusif (VIP), area tanam rempah pilihan, angklung elektronik, hingga bar untuk menikmati langsung jamu dari peracik.

Lokasinya berada di Poin PIK 2, Jalan Jenderal Sudirman Blok C02, Unit A6/A9, PIK 2, Tangerang, Banten, dan buka setiap hari pukul 10.00-22.00 WIB.

Jamu di Indonesia

Kafe jamu kekinian, Konsep kafe jamu kekinian, Kedai Jamu Kini Hadir seperti Coffee Shop, Jadi Tempat Nongkrong Nyaman

Ilustrasi jamu. Jamu menjadi salah satu warisan budaya Indonesia.


Konsep kafe jamu kekinian telah diusung sejak Jony membuka Acaraki untuk pertama kalinya pada 2018.

Ia menjelaskan, jamu berasal dari bahasa Jawa kuno, yakni Djampi Oesoda,  yang berarti ramuan seduhan atau doa untuk kesehatan.

Secara lebih luas, menurutnya, definisi jamu dapat merujuk pada apa pun yang dikonsumsi tubuh secara rutin dan kemudian dikukuhkan dengan doa.

Dengan pemahaman itu, jamu tidak lagi semata identik dengan rasa pahit, melainkan dapat menjadi bagian dari gaya hidup di kalangan anak muda.

"Mirip seperti kopi. Awal-awal industri kopi masuk kan enggak memaksakan minum espreso, enggak. Yang laku apa? Cappucinno, sudah dicampur gula, tapi tetap ada kopinya, petaninya disejahterakan," ungkap Jony.

Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), Taruna Ikrar, mengatakan terdapat sekitar 30.000 spesies tanaman herbal di Indonesia.

Artinya, Indonesia memiliki sekitar 80 persen tanaman herbal dari totoal 40.000 spesies tanaman herbal di dunia.

Kafe jamu kekinian, Konsep kafe jamu kekinian, Kedai Jamu Kini Hadir seperti Coffee Shop, Jadi Tempat Nongkrong Nyaman

Kafe jamu kekinian Acaraki membuka gerai terbarunya di kawasan Pantai Indah Kapuk (PIK) 2, Tangerang, Banten. Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), Taruna Ikrar, turut hadir dalam peresmian ini.

Saat ini, terdapat sekitar 18.000 jenis jamu dan lebih dari 600.000 ragam kuliner tradisional.

"Kita sudah dapat penghargaan dari UNESCO. Itu semacam steper bahwa ini adalah kekayaan atau heritage nonbenda dari Indonesia, tetapi tentu penghargaan itu bukan sekedar bangga-banggaan," kata Taruna yang turut hadir dan meresmikan Acaraki PIK 2.

Ia mengungkapkan bahwa jamu memiliki potensi ekonomi hingga Rp 350 triliun. Namun, Indonesia baru mengeksplorasi sekitar Rp 1 triliun keuntungan ekonomi dari jamu, termasuk dari obat tradisional.

"Potensinya sangat besar. Harus kita manfaatkan secara maksimal juga supaya potensi ini berkembang untuk kesejahteraan kita semua, khususnya untuk kehidupan masyarakat Indonesia," pungkas Taruna.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang