Kritik Gol Persib Berujung Rasisme, Pemain PSBS Biak Luquinhas dan Keluarganya Jadi Sasaran
Kasus rasisme kembali mencoreng wajah sepak bola Indonesia. Insiden serupa terus berulang dan kini menimpa penyerang PSBS Biak, Luquinhas, yang mendapat serangan bernada rasis di media sosial usai laga melawan Persib Bandung pada pekan ke-18 Super League 2025/2026.
Pertandingan yang berlangsung di Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA), Bandung, Minggu (25/1/2026), berakhir dengan kemenangan Persib Bandung 1-0 atas PSBS Biak.
Gol semata wayang tuan rumah tercipta pada menit ke-87 melalui Berguinho, yang memanfaatkan umpan Ramon Tanque. Gol tersebut memicu perdebatan karena dinilai berada dalam posisi offside.
Wasit yang memimpin pertandingan memutuskan untuk mengecek Video Assistant Referee (VAR) sebelum akhirnya mengesahkan gol tersebut.
Keputusan itu membuat kubu PSBS kecewa, termasuk Luquinhas yang tampil penuh selama 90 menit dalam laga tersebut.
Mengapa Gol Persib Dipersoalkan Pemain PSBS?
Usai pertandingan, Luquinhas mengunggah komentarnya melalui media sosial Instagram. Pemain asal Brasil itu menilai posisi Berguinho sudah berada dalam kondisi offside sehingga seharusnya gol tidak disahkan. Unggahan tersebut disampaikan dalam kondisi emosional, sebagaimana diakuinya kemudian.
Namun, respons yang diterima Luquinhas justru jauh dari kritik sepak bola yang sehat. Sejumlah akun media sosial menyerangnya dengan ujaran bernada rasis.
Serangan tersebut tidak hanya menyasar dirinya sebagai pemain, tetapi juga menyeret keluarganya.
Luquinhas mengaku tidak mengetahui secara pasti asal suporter yang melontarkan komentar rasis tersebut.
Meski demikian, ia mengaku sangat terpukul karena keluarganya ikut menjadi sasaran, termasuk anaknya yang mendapat ancaman.
Bagaimana Dampak Serangan Rasis bagi Pemain dan Keluarga?
Dalam pernyataannya, Luquinhas menyampaikan kesedihannya karena praktik rasisme masih terjadi di sepak bola Indonesia.
Ia menegaskan bahwa kritik terhadap pendapatnya mengenai pertandingan adalah hal yang wajar, namun serangan rasis dan ancaman terhadap keluarga merupakan tindakan yang tidak dapat dibenarkan.
Akibat serangan tersebut, Luquinhas memutuskan untuk menonaktifkan kolom komentar di akun Instagram pribadinya demi melindungi diri dan keluarganya dari tekanan lebih lanjut.
Pemain bernomor punggung 10 itu juga menyampaikan permintaan maaf atas komentarnya terkait gol Persib yang dinilai offside.
Ia mengakui bahwa pernyataannya dilontarkan dalam situasi emosional dan hanya berdasarkan tayangan televisi.
"Kita semua adalah manusia dan bisa salah. Saya salah dan saya mengakuinya. Saya berbicara karena terbawa emosi pertandingan dan hanya melihat tayangan TV. Saya meminta maaf jika ada yang tersinggung," kata Luquinhas.
Apa Pesan Luquinhas soal Rasisme di Sepak Bola?
Meski mengakui kesalahannya dalam berkomentar, Luquinhas menegaskan bahwa rasisme dan ancaman terhadap anaknya bukanlah bentuk pendapat atau kritik.
"Tapi rasisme terhadap saya dan ancaman terhadap anak saya itu bukan pendapat. Itu dosa. Itu tidak datang dari Tuhan," ujarnya dikutip dari BolaSport.com.
Ia juga menekankan bahwa dirinya tidak pernah menyerang siapa pun berdasarkan warna kulit. Menurut Luquinhas, siapa pun yang menyebarkan kebencian perlu melakukan refleksi diri.
"Siapa pun yang menyebarkan kebencian perlu memeriksa hatinya sendiri. Saya tenang karena mengakui kesalahan saya. Tetapi saya tidak pernah menyerang siapa pun karena warna kulitnya. Tuhan melihat segalanya," tutupnya.
Mengapa Kasus Ini Menambah Panjang Daftar Rasisme di Liga Indonesia?
Kasus yang menimpa Luquinhas menambah daftar panjang insiden rasisme di sepak bola nasional. Sebelumnya, pemain Malut United Yakob Sayuri juga menjadi korban serangan rasis usai pertandingan melawan Persib.
Bahkan, keluarganya turut menjadi sasaran sehingga manajemen klub melaporkan kasus tersebut ke jalur hukum.
Selain itu, Allano Lima juga mengalami perlakuan serupa setelah laga Persija Jakarta kontra Persib.
Persija kala itu menyampaikan sikap resmi yang mengecam tindakan rasis, meski belum melangkah ke proses hukum.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang