Temuan Spesies Kunang-kunang di Kebun Raya Bali, Jadi Bukti Lingkungan Masih Alami

Kebun Raya Bali yang terletak di kawasan Bedugul, Kabupaten Tabanan, Bali, melaporkan temuan eksistensi serangga unik kunang-kunang. Temuan ini merupakan hasil dari kegiatan eksplorasi keanekaragaman hayati yang dilakukan di kawasan konservasi tersebut.
Penemuan serangga dari famili Lampyridae ini menjadi sinyal positif bagi kondisi ekosistem di Pulau Dewata, khususnya di wilayah dataran tinggi Tabanan.
Upaya Proteksi dan Edukasi Konservasi
East Deputy of Horticulture Kebun Raya, Hadhiyyah N. Cahyono, menyampaikan bahwa temuan ini merupakan bagian dari komitmen pengelola dalam menjaga keseimbangan alam. Menurutnya, Kebun Raya Bali kini tidak hanya fokus pada koleksi tumbuhan, tetapi juga perlindungan fauna.
"Eksplorasi dan proteksi kunang-kunang menjadi langkah penting dalam menjaga keseimbangan alam, sekaligus sarana edukasi konservasi bagi masyarakat," ujar Hadhiyyah di Tabanan, Bali, Kamis (25/11/2025).
Ia menambahkan bahwa peran Kebun Raya Bali sangat vital sebagai ruang hidup bagi fauna pendukung ekosistem agar siklus alam tetap terjaga secara berkelanjutan.
Mengenal Dua Jenis Kunang-kunang yang Ditemukan
Berdasarkan hasil eksplorasi di lapangan, tim peneliti berhasil mengidentifikasi dua kelompok kunang-kunang yang mendiami kawasan Kebun Raya Bali, yakni:
- Lamprigera Spp: Jenis ini memiliki karakteristik ukuran tubuh yang lebih besar dengan pancaran cahaya yang relatif lebih terang.
- Abscondita Spp: Jenis yang sering dijumpai terbang rendah di area-area dengan tingkat kelembaban tinggi serta vegetasi alami yang rapat.
Kawasan Kebun Raya Bali dinilai sangat potensial bagi serangga nokturnal (aktif di malam hari) dan krepuskular (aktif di waktu fajar dan senja). Hal ini didukung oleh lingkungan yang masih alami, tutupan vegetasi yang beragam, serta tingkat polusi cahaya malam hari yang sangat rendah.
Bioindikator Lingkungan Sehat
Ilustrasi kunang-kunang terancam punah
Keberadaan kunang-kunang di suatu wilayah bukan sekadar pemandangan visual yang indah, melainkan indikator kualitas lingkungan. Kurator Museum Serangga Jagat Satwa Nusantara Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Lilik Kundar Setiadi, menjelaskan pentingnya kehadiran serangga ini."Kunang-kunang merupakan bioindikator ekosistem yang sehat. Jika kunang-kunang masih dapat ditemukan, artinya lingkungan tersebut relatif bersih, minim pencemaran, dan mendukung kehidupan serangga," ungkap Lilik.
Lebih lanjut, Lilik menjelaskan fenomena unik bioluminesensi pada kunang-kunang. Cahaya tersebut dihasilkan dari reaksi kimia alami di dalam tubuh serangga yang hampir tidak menghasilkan panas.
"Cahaya itu berfungsi sebagai alat komunikasi, terutama dalam proses reproduksi, sekaligus menjadi daya tarik visual yang bernilai edukatif bagi masyarakat," tambahnya.
Eksplorasi di Kebun Raya Bali ini dilakukan secara mendalam pada area dengan kelembaban tinggi dan keberadaan serasah (sampah organik daun). Fokus kegiatan ini mencakup identifikasi jenis, dokumentasi sebaran, serta penyusunan dasar perlindungan habitat kunang-kunang di masa depan.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang