Bojan Hodak Jengkel, Oknum Bobotoh Terus Bikin Persib Rugi
Rentetan sanksi dari Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) kembali menimpa Persib Bandung di ajang AFC Champions League Two 2025–2026. Bukan semata soal performa di lapangan, melainkan konsekuensi dari pelanggaran yang melibatkan suporter, baik saat laga kandang maupun tandang.
Pelatih Persib, Bojan Hodak, tak menutup kekecewaannya. Ia menegaskan bahwa dukungan Bobotoh merupakan kekuatan utama tim, namun akibat ulah segelintir oknum suporter klub terus menanggung denda dengan nilai yang nggak sedikit.
Sepanjang gelaran AFC Champions League Two musim ini, Persib telah menerima denda dari AFC dengan total nilai mendekati Rp1 miliar. Setiap kesalahan, termasuk yang berasal dari perilaku suporter, tak luput dari pengawasan federasi sepak bola Asia tersebut.
Suporter Persib, Bobotoh Nyalakan Flare di Stadion GBLA
Terbaru, Persib kembali dijatuhi sanksi denda sebesar 30 ribu dolar AS atau hampir Rp500 juta. Hukuman ini dijatuhkan setelah AFC menyatakan Persib bersalah atas pelanggaran yang dilakukan pendukungnya saat melakoni laga tandang.
“Saya sering katakan, suporter kami adalah keuntungan kami. Tapi selalu ada yang melakukan hal-hal yang tidak diperbolehkan dan mereka tak boleh melakukan itu. Karena jika membayar denda, sebenarnya uang ini bisa digunakan untuk hal yang lainnya,” ujar Bojan Hodak dikutip dari tvOnenews Minggu 21 Desember 2025.
Dalam laga tandang melawan Selangor FC, Bobotoh terbukti melakukan pelanggaran dengan memasuki area lapangan serta melakukan pelemparan botol. Karena pelanggaran tersebut bukan kali pertama terjadi, AFC pun menjatuhkan sanksi dengan nilai yang lebih tinggi.
Ancaman hukuman tambahan juga membayangi Persib usai pertandingan terakhir fase grup G ACL Two melawan Bangkok United. Pada laga tersebut, AFC mencatat adanya penyalaan suar atau flare, yang masuk dalam kategori pelanggaran berat.
Persib bahkan telah menerima teguran secara verbal dari AFC terkait tindakan oknum suporter. Di tingkat federasi nasional hingga FIFA, flare dikategorikan sebagai barang terlarang karena dianggap berbahaya bagi kesehatan pemain profesional.
“Saya rasa flare tidak diperbolehkan dan mereka harus mengerti,” kata Hodak.
Pelatih asal Kroasia itu mengungkapkan bahwa dirinya mengetahui detail pelanggaran tersebut. Enam flare dinyalakan setelah pertandingan melawan Bangkok United berakhir, yang berpotensi kembali menyeret Persib ke meja sanksi.
“Setelah lawan Bangkok United, ada enam flare dan keenam orang ini tidak memikirkan dampaknya dan klub jadi didenda,” ucap Hodak.
Menurutnya, tindakan tersebut mencerminkan sikap egois karena dilakukan demi kesenangan pribadi tanpa mempertimbangkan dampak kesehatan bagi pemain maupun kerugian finansial klub.
“Mereka tidak datang untuk mendukung kami, tapi untuk kesenangannya sendiri. Ada 28 ribu yang mendukung secara top, tapi tidak dengan keenam orang ini, mereka egois,” lanjutnya.
Hodak menegaskan bahwa dirinya memahami hubungan emosional antara sepak bola dan flare. Namun selama aturan belum mengizinkan, tindakan tersebut hanya akan berujung hukuman bagi klub.
“Jika diperbolehkan silakan, tapi ini tidak, ini mengakibatkan hukuman. Marilah mengikuti aturan,” tegasnya.