Anwar Ibrahim Prihatin Thailand-Kamboja Bentrok Lagi: Setop Perang, Kembali ke Jalur Diplomasi
Perdana Menteri (PM) Malaysia Anwar Ibrahim menyesalkan bentrokan militer yang kembali terjadi antara pasukan Kamboja dan Thailand di perbatasan kedua negara baru-baru ini.
"Saya sangat prihatin dengan laporan bentrokan bersenjata antara pasukan Kamboja dan Thailand di sepanjang perbatasan kedua negara. Saya menyampaikan belasungkawa kepada keluarga mereka yang telah tewas atau terluka," kata PM Malaysia Anwar Ibrahim dalam keterangannya di Kuala Lumpur, Senin, 8 Desember 2025.
Anwar yang pada Oktober 2025 lalu, memediasi konflik antara kedua belah pihak, dimana pemimpin Kamboja dan Thailand menandatangani kesepakatan damai di sela KTT ke-47 ASEAN di Kuala Lumpur, yang disaksikan langsung oleh Anwar Ibrahim selaku Ketua ASEAN saat itu dan Presiden AS Donald Trump.
Presiden Trump dan PM Malaysia Anwar Ibrahim memediasi konflik Thailand-Kamboja
Anwar menyatakan bentrokan terbaru itu berisiko mengikis upaya untuk menstabilkan hubungan kedua negara yang bertetangga itu. Dia menekankan bahwa Thailand dan Kamboja merupakan mitra dekat Malaysia dan anggota penting ASEAN.
"Kami mendesak kedua belah pihak untuk menahan diri maksimum, menjaga saluran komunikasi terbuka dan memanfaatkan sepenuhnya mekanisme yang ada," ujar Anwar "Malaysia siap mendukung langkah-langkah yang dapat membantu memulihkan ketenangan dan mencegah insiden lebih lanjut,"
Dia menegaskan ASEAN tidak dapat membiarkan sengketa jangka panjang berkembang menjadi siklus konfrontasi. Ia mendorong penyelesaian melalui jalur diplomatis.
"Prioritas langsung adalah menghentikan pertempuran, melindungi warga sipil, dan kembali ke jalur diplomatis yang didukung oleh hukum internasional dan semangat tetangga di mana ASEAN bergantung," tegasnya
Thailand melancarkan serangan udara terhadap Kamboja pada hari Senin, 8 Desember 2025, dengan kedua belah pihak saling menyalahkan atas pertempuran baru di perbatasan sengketa mereka yang telah menewaskan empat warga sipil Kamboja dan seorang tentara Thailand.
Sekitar 35.000 orang di Thailand telah dievakuasi dari wilayah perbatasan, menurut pernyataan dari Wilayah Militer Kedua negara itu dilansir CNA.
Menteri Penerangan Kamboja, Neth Pheaktra, mengatakan kepada AFP bahwa "setidaknya empat warga sipil Kamboja tewas dalam serangan Thailand" pada hari Senin, termasuk seorang perempuan yang tewas ketika sebuah granat menghantam Provinsi Preah Vihear.
Tiga warga sipil lainnya tewas akibat penembakan di Oddar Meanchey, dan lebih dari 10 warga sipil terluka, kata Neth Pheaktra. Sedangkan seorang jurnalis Kamboja terluka oleh pecahan peluru dari roket Thailand di Oddar Meanchey, tambahnya.
Menurut Neth Pheaktra, setidaknya 1.157 keluarga telah dievakuasi ke tempat aman di Oddar Meanchey.
Juru bicara militer Thailand, Winthai Suvaree, mengatakan kepada wartawan pada hari Senin bahwa satu tentara tewas dan delapan lainnya luka-luka dalam serangan oleh pasukan Kamboja di dekat perbatasan.
Thailand telah melancarkan serangan udara terhadap negara tetangganya sebagai tindakan membela diri, katanya.