Menumbuhkan Bibit Bulutangkis di Kota Atlas dari Usia Belia
Semangat bulutangkis kembali menghiasi Kota Semarang. Kamis 20 November 2025 Polytron Stadium Universitas Diponegoro menjadi lautan keceriaan saat 510 siswa SD kelas 1 hingga 3 dari 17 sekolah ambil bagian dalam Festival SenengMinton Semarang 2025, ajang fun games yang digelar Bakti Olahraga Djarum Foundation bersama Pengprov PBSI Jawa Tengah.
Festival ini bukan sekadar lomba. Di balik komando peluit dan sorak gembira anak-anak, tersimpan upaya serius menanamkan kecintaan terhadap bulutangkis sejak usia dini. Sebelumnya, SenengMinton telah menyapa Kudus, Solo, dan Purwokerto, dan Semarang menjadi rangkaian berikutnya sebelum Magelang menutup tahun.
Program Director Bakti Olahraga Djarum Foundation, Yoppy Rosimin, menegaskan bahwa SenengMinton dirancang untuk memperkenalkan bulutangkis dengan cara yang menyenangkan dan inklusif—bukan kompetisi yang menekan, melainkan arena bermain yang mendidik.
“Festival SenengMinton ini ingin mengobarkan semangat dan menumbuhkan rasa cinta terhadap bulutangkis sejak dini. Kami yakin atlet tangguh lahir dari rasa senang dulu terhadap olahraganya,” ujar Yoppy.
Ketua Pengprov PBSI Jawa Tengah, Basri Yusuf, sepakat bahwa pendekatan fun games seperti ini menjadi pintu masuk penting bagi proses pembinaan. Menurutnya, banyak talenta usia dini yang akan lebih mudah muncul bila dikenalkan lewat aktivitas yang dekat dengan dunia anak-anak.
“Kegiatan ini kami kemas dengan unsur bulutangkis agar siswa bisa mengenal dari dasar. Kami berharap minat bermain tumbuh, baik dari anak-anak maupun orang tuanya, supaya pembinaan dari akar rumput semakin kuat,” kata Basri.
Semarang dipilih bukan tanpa alasan. Kota ini dikenal sebagai gudang atlet potensial. Basri berharap festival ini dapat mempercepat teridentifikasinya pebulutangkis muda dan membantu sekolah menciptakan jalur pembinaan yang lebih terstruktur.
“Kami ingin menyentuh level paling dasar, mendorong sekolah dan guru untuk menghidupkan ekstrakurikuler bulutangkis. Dari sini bisa berkembang ke tingkat SD, SMP, SMA hingga akhirnya masuk klub,” jelasnya.
Dalam festival ini, siswa diuji lewat berbagai rintangan seperti Service to Target, Shuttle Run, Pyramid Shuttlecock, Throwing The Shuttlecock, hingga Zig Zag Run. Kombinasi tantangan fisik dan motorik tersebut dirancang agar anak-anak memahami dasar bulutangkis sambil tetap merasa seperti sedang bermain.
Dari sisi peserta, setiap sekolah mengirim enam siswa kelas 1, sepuluh siswa kelas 2, dan empat belas siswa kelas 3. Setelah empat kota sebelumnya, perjalanan SenengMinton akan ditutup di Magelang pada 11 Desember mendatang.
Salah satu sekolah dengan semangat besar adalah SDN Bangunharjo, yang menurunkan 30 siswa sekaligus. Guru olahraga, Sumadi, mengaku kegiatan ini menjadi momentum yang tepat untuk mendorong lahirnya ekstrakurikuler bulutangkis di sekolahnya.
“Alhamdulillah kami mendapat dukungan penuh dari sekolah dan orang tua. Ini pertama kali kami ikut SenengMinton, dan semoga bisa terus berkelanjutan,” kata Sumadi.
Di lapangan, semangat itu terlihat jelas dari raut ceria para peserta. Salah satunya Muhammad Abdul Karim Jaelani, siswa kelas 3 SDN Bendan Ngisor, yang mencatat waktu tercepat 00:47.72. Jae sudah berlatih bulutangkis sejak kelas 2 atas dorongan sang ibu.
“Seru banget! Ada lari zigzag, lempar kok, service, terus harus cepat-cepat pencet tombol. Aku paling suka service karena seru mukul-mukul bolanya,” ujarnya polos.
Para pemenang dari tiap kategori berhak membawa pulang piala, uang pembinaan, serta hadiah dari sponsor seperti MilkLife, Dua Kelinci, Aice, Hundred, dan Savoria. Sementara seluruh peserta tetap mendapat goodie bag sebagai kenang-kenangan.
Festival SenengMinton kembali membuktikan bahwa mencetak generasi bulutangkis Indonesia tak perlu selalu dimulai dari latihan berat—kadang cukup dari sebuah permainan yang membuat anak-anak jatuh cinta pada raket dan shuttlecock.