Membangun Generasi Sehat Dimulai dari Ibu yang Bahagia
Seribu hari pertama kehidupan adalah pintu emas bagi tumbuh kembang anak karena masa hidup dari janin hingga anak berusia dua tahun menentukan pembentukan manusia.
Pada periode tersebut, otak berkembang pesat, sistem imun terbentuk, dan kasih sayang pertama antara ibu dan anak mulai terjalin.
Namun, di balik keajaiban itu, banyak ibu justru melewati hari-hari awal keibuan dengan rasa lelah, cemas, dan kesepian.
Anggota ECED Council Indonesia Marisa F Moeliono mengatakan, masa kehamilan hingga dua tahun pertama adalah fase paling menantang secara fisik, emosional, dan sosial bagi perempuan.
“Di tengah tuntutan untuk melahirkan generasi sehat dan cerdas, mereka menghadapi hari-harinya dengan tekanan besar yang sering kali tanpa dukungan yang memadai,” katanya dalam keterangan tertulis yang diterima Kompas.com, Kamis (16/10/2025).
Beban besar di pundak ibu
Salah satu contoh tekanan yang dihadapi ibu adalah segi kesehatan anak, yang sejatinya berawal dari kesehatan ibu.
Namun, dalam kenyataannya, tanggung jawab besar itu kerap dibebankan sepenuhnya kepada perempuan.
Ketika tekanan meningkat, banyak ibu mengalami stres tinggi, bahkan depresi pascapersalinan, yang mengganggu kemampuan mereka merespons kebutuhan bayi secara peka dan hangat.
Situasi ini tidak hanya memengaruhi kesejahteraan ibu, tetapi juga tumbuh kembang anak.
“Anak yang tumbuh di lingkungan penuh tekanan lebih rentan mengalami masalah sosial dan emosional,” jelas Marisa.
Psikolog praktik di Pusat Inovasi Psikologi (PIP) Universitas Padjadjaran (Unpad) Bandung itu mengatakan, tekanan tersebut semakin berat ketika persoalan ekonomi ikut menekan.
Berdasarkan data Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) 2024, sekitar 19,8 persen balita Indonesia masih mengalami stunting, sebagian besar berasal dari keluarga berpenghasilan rendah.
Kondisi itu memperlihatkan betapa erat kaitannya kesejahteraan keluarga dengan kemampuan ibu memberikan pengasuhan optimal.
“Ibu-ibu di kelompok ini bukan tidak peduli, mereka hanya kehabisan waktu dan tenaga,” lanjut Marisa.
Oleh karenanya, kata dia, pendampingan bagi ibu tidak bisa berhenti pada penyuluhan gizi semata. Sebaliknya, dibutuhkan dukungan emosional, sosial, dan ekonomi yang membuat ibu merasa tidak sendirian menjalani peran pentingnya.
“Pendampingan ibu bukan belas kasihan, melainkan investasi jangka panjang bagi kualitas generasi bangsa,” tegas Marisa.
Di sisi lain, perhatian terhadap kesehatan mental ibu masih sangat terbatas. Di posyandu, misalnya, kader umumnya fokus menimbang bayi atau memantau imunisasi, sedangkan kondisi psikologis ibu jarang menjadi perhatian.
Padahal, langkah sederhana, seperti menanyakan “Apakah Ibu merasa lelah atau cemas akhir-akhir ini?” bisa menjadi awal pencegahan masalah yang lebih besar.
Peran ayah tak kalah penting
Di banyak budaya Indonesia, pengasuhan masih dianggap sebagai urusan perempuan atau ibu sehingga peran ayah seringkali terabaikan dalam berbagai aktivitas penting.
Tak heran, perempuan kerap dianggap lebih dekat dengan kegiatan, seperti pemberian air susu ibu (ASI) eksklusif, kunjungan ke posyandu, atau bermain bersama anak.
Padahal, keterlibatan ayah terbukti mampu menurunkan stres ibu sekaligus memperkuat perkembangan sosial dan emosional anak.
“Ketika pengasuhan menjadi tanggung jawab bersama, ibu tidak lagi merasa sendirian,” ujar Marisa.
Beberapa komunitas mulai mengubah pandangan ini. Misalnya, kelompok Bina Keluarga Balita (BKB) di berbagai daerah kini membentuk forum ayah—ruang bagi para suami untuk belajar pengasuhan dan komunikasi positif.
Kehadiran ayah yang terlibat tidak hanya memperkuat ikatan keluarga, tetapi juga menumbuhkan rasa percaya diri pada ibu.
Membangun ekosistem pendampingan
Pengasuhan tidak hanya soal peran individu, tetapi juga terkait erat dengan koordinasi antarlembaga yang lemah dalam mendukung ibu dan anak dan saat ini masih menjadi tantangan.
Program kesehatan, pendidikan anak usia dini (PAUD), dan perlindungan sosial sering kali berjalan sendiri-sendiri tanpa sinergi yang kuat.
“Idealnya, ibu bisa mendapatkan layanan gizi, kesehatan, pendidikan, dan perlindungan sosial di satu pintu,” kata Marisa.
Pendekatan terintegrasi seperti itu penting agar dukungan kepada ibu tidak terfragmentasi.
Beberapa daerah pun sudah mulai melangkah ke arah itu. Kader posyandu kini bekerja sama dengan guru PAUD, sedangkan puskesmas menyediakan ruang laktasi dan konseling keluarga.
Langkah-langkah kecil itu menunjukkan bahwa ketika berbagai sektor bekerja bersama, hasilnya bisa dirasakan langsung keluarga.
Masalah ekonomi juga tak bisa diabaikan. Keterbatasan penghasilan keluarga sering membuat ibu kesulitan memenuhi kebutuhan dasar anak. Untuk menjawab hal ini, berbagai inovasi sosial muncul di tingkat lokal.
Salah satu inovasi itu adalah program Kawal Bumil dari United Nations Population Fund (UNFPA) yang memanfaatkan dana sosial Islam, seperti zakat dan wakaf, untuk membantu ibu hamil dari keluarga miskin.
Di sejumlah daerah, model serupa hadir melalui kelompok simpan pinjam ibu yang menghubungkan dukungan ekonomi lokal dengan kesehatan dan pengasuhan.
Berbagai kegiatan itu pun berdampak nyata, yaitu ibu menjadi lebih mandiri secara finansial, lebih tenang secara emosional, dan lebih aktif berpartisipasi di masyarakat.
“Pendampingan ibu tidak cukup berhenti di penyuluhan. Harus ada pemberdayaan ekonomi agar setiap ibu mampu mengasuh dengan tenang dan bermartabat,” kata Marisa.
Tiga pilar pendampingan ibu
Untuk memperkuat ekosistem pendampingan, Marisa menekankan pentingnya strategi berbasis tiga pilar yang saling melengkapi.
Pertama, edukasi dan deteksi dini. Puskesmas, posyandu, dan kelas orangtua harus menjadi pusat pembelajaran tentang kesehatan ibu, ASI, dan pengasuhan responsif.
Tenaga kesehatan juga perlu mendapatkan pelatihan untuk mengenali tanda stres dan kekerasan rumah tangga sejak awal.
Kedua, dukungan sosial dan keterlibatan ayah. Pemerintah dan masyarakat dapat memperluas program kelas ayah dan kampanye berbagi peran.
Pasalnya, ketika ayah hadir, beban ibu berkurang dan keharmonisan keluarga meningkat.
Ketiga, sistem layanan terintegrasi. Kolaborasi lintas sektor penting untuk memetakan keluarga yang paling membutuhkan bantuan.
Hal itu dilakukan agar tidak ada ibu yang tertinggal dalam akses terhadap layanan.
“Di balik setiap anak yang tumbuh sehat dan bahagia, selalu ada seorang ibu yang didukung, didengar, dan dicintai,” kata Marisa.
Seribu hari pertama kehidupan bukan hanya tentang memberi asupan terbaik bagi anak, tetapi juga tentang memberi ruang bagi ibu untuk tumbuh dan mencintai dirinya sendiri. Sebab, mendampingi ibu sejatinya adalah menjaga masa depan bangsa.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com.