GPT-5 Hadir dengan Gaya Bahasa Baru yang Lebih Manusiawi: Bisa Bedain Mana Tulisan Asli dan Buatan AI?
Dunia terus berubah, dan kini perubahan itu terasa bahkan lewat cara kita menulis. OpenAI baru saja merilis GPT-5, versi terbaru dari chatbot AI yang disebut-sebut jauh lebih meyakinkan dalam meniru gaya tulisan manusia. Salah satu peningkatan paling menonjol ada pada gaya bahasanya yang lebih santai, alami, dan tidak terlalu “robotik”, baik untuk tulisan pendek seperti ringkasan, maupun naskah panjang seperti laporan tahunan perusahaan.
Kalau di versi sebelumnya, GPT-4 cenderung menulis dengan gaya yang terlalu formal dan kaku, kini GPT-5 tampak lebih fleksibel. Sebelumnya, ciri tulisan AI mudah dikenali lewat kalimat yang terlalu rapi, struktur sangat teratur, dan penggunaan tanda baca seperti em dash (—) serta emoji yang terasa berlebihan. Sekarang, ciri-ciri itu makin samar. GPT-5 masih bisa menggunakan em dash dengan benar, tapi pengguna bisa memintanya untuk tidak memakai emoji. Hasilnya, gaya bahasanya terdengar jauh lebih alami, seolah benar-benar ditulis oleh manusia.
Untuk membuktikan kemampuannya, tim penguji Tom's Guide mencoba membandingkan hasil tulisan GPT-5 dengan tulisan asli manusia. Ada beberapa contoh menarik yang diujikan, mulai dari surat lamaran kerja, pembukaan laporan tahunan Microsoft, hingga puisi bergaya Shakespeare.
1. Surat Lamaran Kerja
GPT-5 diminta menulis surat lamaran profesional dengan gaya meyakinkan. Tulisan pertama menggambarkan pelamar yang ingin bekerja di 3M, dengan bahasa sangat formal dan fokus pada pencapaian. Tulisan kedua berasal dari lamaran asli yang menyebut pengalaman di “XYZ Corp.”
Hasilnya? Tulisan asli adalah opsi kedua. GPT-5 memang menulis dengan sangat baik dan memahami konteks tentang 3M, tapi gaya bahasanya sedikit lebih rapi dibandingkan manusia asli.
2. Pembukaan Laporan Tahunan Microsoft
Bagian ini cukup menarik karena OpenAI sendiri menyebut bahwa GPT-5 mampu menulis laporan tahunan dengan baik. Dua teks diperbandingkan: satu menekankan “generasi baru AI” dan Azure sebagai fondasi, sementara yang lain menjelaskan misi Microsoft secara umum.
Ternyata, yang asli adalah opsi kedua, meski banyak orang bisa terkecoh karena gaya tulisan GPT-5 di opsi pertama terdengar sangat profesional dan relevan dengan citra Microsoft. Tidak heran kalau banyak yang menduga teks asli pun mungkin sudah menggunakan bantuan AI seperti Copilot.
3. Puisi Gaya Shakespeare
GPT-5 juga diuji menulis puisi bergaya klasik. Salah satunya adalah Soneta 97 karya asli Shakespeare, sementara satunya lagi buatan GPT-5. Hebatnya, hasil GPT-5 terdengar sangat meyakinkan dengan penggunaan diksi dan ritme khas era tersebut.
Namun, yang asli tetap opsi kedua, meski hanya ahli sastra yang mungkin bisa membedakannya dengan cepat.
Selain ketiga contoh itu, pengujian juga dilakukan pada lirik lagu ala band R.E.M. dan caption media sosial untuk Tom’s Guide. Hasilnya menakjubkan, GPT-5 bahkan mampu menulis lirik yang terdengar lebih autentik dibandingkan lagu aslinya, dan caption-nya terdengar sangat kreatif serta natural.
Dari seluruh uji coba, GPT-5 terbukti jauh lebih canggih dalam meniru gaya tulisan manusia. Dalam banyak kasus, hasilnya bahkan membuat tulisan manusia terlihat seperti karya AI. Hal ini menunjukkan bahwa teknologi bahasa semakin mendekati batas antara realitas dan simulasi.
Meski begitu, para ahli tetap mengingatkan pentingnya etika penggunaan AI dalam penulisan. Di satu sisi, GPT-5 bisa membantu banyak orang menulis dengan lebih cepat dan efisien. Namun di sisi lain, jika tidak digunakan dengan bijak, kemampuan ini bisa menimbulkan kebingungan antara karya asli manusia dan hasil buatan mesin.