Kebijakan Pertanian Tepat, Swasembada Beras Kian Dekat
Guru Besar Institut Pertanian Bogor (IPB) Edi Santosa menilai langkah pemerintah dalam memperkuat produksi beras nasional melalui berbagai program jangka menengah dan panjang terbukti berhasil, terutama dalam memenuhi kebutuhan dalam negeri, sehingga, Indonesia, perlahan tapi pasti, mampu mencapai swasembada.
Sebagai informasi, produksi beras nasional 2025 menunjukkan lonjakan signifikan dan mendekati proyeksi lembaga internasional seperti Food and Agriculture Organization (FAO) dan United States Department of Agriculture (USDA).
Badan Pusat Statistik (BPS) memperkirakan produksi beras Januari–November 2025 mencapai 33,19 juta ton, naik 12,62 persen dibanding periode yang sama 2024 (29,47 juta ton).
Sementara capaian prediksi yang dikeluarkan USDA mencapai 34,6 juta ton pada tahun ini, dan FAO memprediksi beras Indonesia akan mencapai 35,6 juta ton pada masa tanam 2025/2026.
“Saya melihat ini sebuah terobosan dari pemerintah, khususnya jajaran Kementerian Pertanian (Kementan) yang secara serius membenahi perberasan nasional mulai dari gerakan pompa, pemenuhan pupuk, pemenuhan benih hingga distribusi alsintan yang merata di seluruh sentra-sentra padi,” katanya, Jumat, 10 Oktober 2025.
Ia juga mengatakan keseriusan pemerintah dalam membangun sektor pertanian juga berdampak langsung pada nilai kesejahteraan petani, di mana rata-rata pendapatan mereka meningkat di musim panen raya 2025.
Hal ini bisa dilihat dari data Nilai Tukar Petani (NTP) terbaru, yaitu September 2025 yang mencapai 124,36 atau naik 0,63 persen dibanding bulan sebelumnya yang hanya 123,57.
“NTP itu kan indikator kesejahteraan petani menguat. Pemerintah saat ini sedang memformulasikan Indikator Kesejahteraan Petani (IKP) yang nantinya bisa men-capture kesejahteraan secara lebih akurat,” ungkap Edi.
Hal ini penting karena program yang berjalan saat ini cukup efektif dalam mencapai produksi yang diharapkan.
"Jadi, produksinya naik, harga gabah juga bagus, maka NTP nya juga naik," klaim dia. Berikutnya, Edi juga menyoroti dampak kenaikan produksi pada pertumbuhan ekonomi.
Lebih dari itu, kondisi perberasan tahun ini berdampak langsung pada pengendalian inflasi yang berdampak pada daya beli masyarakat di seluruh Indonesia.
“Lagi-lagi, ini upaya yang sangat baik dari pemerintah terutama Kementan yang mendorong semua lini bergerak masif, sehingga terjadi gerakan ekonomi dari sektor beras dan pertanian secara keseluruhan,” jelasnya.
Tercatat, ekspor dari sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan tumbuh signifikan sebesar 38,25 persen pada Januari-Agustus 2025 dengan nilai sebesar US$4,57 miliar, dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar US$3,3 miliar.
Dengan angka tersebut, nilai ekspor sektor pertanian mencapai US$0,6 miliar, naik sebesar 10,98 persen dibandingkan Agustus 2024 yang sebesar US$0,54 miliar.
Lalu, ekspor non migas pada Agustus 2025 mencapai US$23,89 miliar yang dirinci menurut sektor pertanian, kehutanan, perikanan dengan nilai kontribusi US$0,6 miliar.