Benarkah HP Bisa Diam-diam Rekam Percakapan?
Pernah merasa heran kenapa iklan muncul di ponsel tiba-tiba sesuai dengan obrolah sehari-hari? Atau khawatir apakah kamera dan mikrofon HP diam-diam memata-matai aktivitas.
Perasaan semacam ini sebenarnya wajar sekali muncul. Sebab, semakin canggih teknologi smartphone, semakin besar pula kekhawatiran soal privasi dan keamanan pengguna di dalamnya.
Apalagi, banyak rumor yang menyebar di internet mengungkap bahwa perangkat ponsel bisa memantau pemiliknya, termasuk merekam obrolan suara, mengintai lewat aplikasi kamera, hingga mengumpulkan data secara diam-diam.
Kekhawatiran soal privasi pengguna
Komisi Perdagangan Federal (Federal Trade Commission/FTC) Amerika Serikat (AS) pernah memperingatkan bahwa perusahaan teknologi, kini bisa melacak aktivitas online pengguna setiap kali mereka melakukan aktivitas daring di internet.
Menurut FTC, cookies yang ada di situs web bisa menjadi jejak aktivitas pengguna di perangkat meski mereka sudah keluar dari laman. Beberapa aplikasi bahkan memungkinkan pengiklan memakai pengenal unik untuk mengikuti jejak digital seseorang.
Lebih jauh lagi, perusahaan teknologi juga diyakini bisa melacak lintas perangkat pengguna yang saling terintegrasi, seperti ponsel, laptop, atau tablet. Pelacakan ini dimungkinkan terjadi dengan syarat semua perangkat tersebut saling terhubung di internet.
Beberapa sumber daring di internet turut diyakini bisa mengumpulkan informasi aktivitas pengguna di perangkat HP, mulai dari data pribadi, pola konsumsi dan kebiasaan belanja, hingga preferensi politik.
Profil pengguna tersebut kemudian dijual ke perusahaan periklanan dengan tujuan memberikan informasi agar bisa memasang produk-produk yang relevan dengan profil mereka.
Ilustrasi sistem operasi (OS) Android dan ChromeOS.
Experian, salah satu perusahaan pialang data terbesar di AS, diketahui memanfaatkan data lokasi, demografi, kebiasaan belanja, gaya hidup, dan minat dari ratusan juta data pengguna perangkat ponsel.
Semua informasi tersebut digunakan untuk membantu marketing memahami siapa pelanggan mereka sebenarnya. Karena itu, tak heran jika iklan-iklan yang muncul di perangkat ponsel bisa terasa "pas" dengan aktivitas atau percakapan kita sehari-hari.
Adapun banyaknya isu seputar privasi ini akhirnya menimbulkan beragam pertanyaan mana yang benar-benar fakta, atau hanya sekadar anggapan keliru.
Berikut KompasTekno rangkum, lima fakta soal isu privasi dan keamanan pengguna ponsel yang penting diketahui pembaca.
1. Ponsel bisa "menguping" pembicaraan pengguna?
Ilustrasi cyberbullying.
Seperti di singgung di atas, sebagian orang mungkin percaya bahwa ponselnya bisa secara diam-diam mendengarkan percakapan sehari-hari. Anggapan ini muncul karena iklan yang ditampilkan sering terasa sangat relevan dengan obrolan pribadi.
Namun faktanya, smartphone tidak selalu "menguping" pembicaraan kita. Pada 2018, investigasi yang dilakukan CBS tidak menemukan adanya bukti bahwa ponsel secara aktif bisa menyadap percakapan.
Di tahun yang sama, CEO Meta Mark Zuckerberg, dalam sidang Senat AS menegaskan kalau perusahaannya tidak pernah memiliki fitur yang mengizinkan aplikasinya mendengarkan pembicaraan pengguna.
Meski begitu, pengguna masih harus waspada bahwa hadirnya asisten virtual seperti Google Assistant, Siri, atau Alexa, adalah beberapa dari sekian tools yang memang dirancang untuk bisa merekam dan mendengarkan suara pengguna.
Dulu, rekaman suara pengguna bahkan dilaporkan bisa didengar oleh manusia asli (orang di balik sistem) dengan tujuan meningkatkan layanan. Namun, karena berkaitan dengan privasi, praktik tersebut sudah dihentikan Google dan Apple (selaku induk perusahaan) pada 2019.
2. Isu kamera ponsel bisa dipakai untuk memata-matai pengguna
Ilustrasi membuka aplikasi kamera di smartphone.
Isu soal keamanan ponsel yang juga banyak dibicarakan adalah apakah kamera atau mikrofon perangkat benar-benar bisa diakses oleh orang lain.
Kekhawatiran ini cukup wajar muncul karena kasus peretasan lewat kamera memang pernah dilaporkan terjadi. Menurut raksasa teknologi Microsoft, sebenarnya ada beberapa tanda yang bisa dicurigai apabila pengguna merasa perangkat sedang diretas.
Contoh paling kentara adalah lampu indikator kamera yang tiba-tiba menyala sendiri. Selain itu, jika pengguna merasa tiba-tiba ponselnya muncul satu file asing, atau pengaturan keamanannya berubah otomatis, maka itu bisa menjadi ciri perangkat sudah disusupi peretas.
Namun faktanya, kamera dan mikrofon ponsel tidak serta-merta bisa dimanfaatkan untuk memata-matai pengguna. Kecuali, perangkat tersebut sudah terinfeksi malware atau ada aplikasi berbahaya yang tidak sengaja diberi akses izin dalam ponsel.
Oleh sebab itu, penting untuk terus waspada saat memberikan izin aplikasi ponsel. Membaca detail perizinan akses sebelum menginstal aplikasi sangat diwajibkan karena bisa membantu menghindari risiko aplikasi yang diam-diam memata-matai pengguna.
3. Data ponsel hanya bisa diakses pemiliknya
Ilustrasi online hacker.
Masih soal privasi, isu selanjutnya yaitu soal data pribadi pengguna yang tersimpan di ponsel disebut hanya bisa diakses oleh pemiliknya saja. Ternyata, isu tersebut keliru.
Perusahaan teknologi, juga bisa ikut mengakses data pengguna, meski masih bergantung dengan jenis data dan izin yang diberikan pengguna.
Apple, menjadi salah satu perusahaan yang menerapkan sistem ini. Dilansir dari Stacker, merek ponsel asal AS itu memakai data pengguna ponsel mereka untuk menjalankan layanan, memproses transaksi, menjaga keamanan, hingga mencegah penipuan.
Namun, kebijakan tersebut ternyata sempat membuat Apple terlibat dalam proses hukum.
Pada Desember 2024 lalu, Apple diharuskan membayar denda sebesar 95 juta dollar AS (sekitar Rp 1,5 triliun) untuk menyelesaikan gugatan yang menuduh perusahaan telah membagikann data Siri tanpa izin ke pihak ketiga.
Walaupun, Apple sendiri keukeuh dengan menyatakan bahwa pihaknya sama sekali tidak pernah menggunakan data tersebut untuk dijual ke pihak lain.
4. Mode incognito tidak menjamin privasi penuh
Ilustrasi mode incognito. Mode ini memungkinkan pengguna menyembunyikan riwayat pencarian di perangkat yang digunakan.
Banyak pengguna mengira berselancar di internet dengan mode incognito atau private, membuat aktivitas online mereka benar-benar aman dari pengawasan. Sayangnya, ini tidak sepenuhnya benar.
Mode incognito memang berfungsi untuk menyembunyikan riwayat pencarian di perangkat yang digunakan. Namun, penyedia layanan internet (ISP) dilaporkan masih tetap bisa melacak situs apa saja yang dikunjungi pengguna dan dari mana lokasi akses dilakukan.
Adapun untuk meminimalisir pelacakan tersebut, pengguna sebenarnya bisa mematifkan fitur pelacakan ID iklan di perangkat, atau, menggunakan mesin pencari alternatif seperti DuckDuckGo yang mengeklaim platformnya tidak pernah melacak informasi pengguna.
5. Data biometrik aman
Ilustrasi menggunakan fingerprint di smartphone.
Seiring menjamurnya fitur pemindai sidik jari, pemindai wajah, hingga pemindai iris mata, banyak pengguna yang penasaran apakah data biometrik seperti itu benar-benar aman dan tidak bisa disalahgunakan.
Data tersebut ternyata masih mungkin disalahgunakan dan menjadikannya tidak aman menurut Komisi Perdagangan Federal (FTC).
Contoh kasusnya adalah putusan gugatan yang dijatuhkan oleh Jaksa Agung Texas Ken Paxton pada 2022 lalu. Dalam putusan itu, Meta harus membayar denda sebesar 1,4 miliar dollar AS (sekitar Rp 23 tiriliun).
Meta karena dianggap sudah menggunakan data wajah pengguna tanpa izin. Beberapa negara bagian di AS dilaporkan sudah mengambil tindakan serius untuk meminimalisir penyalahgunaan informasi tersebut.
Wilayah Illnois dan California juga kabarnya telah memberlakukan regulasi serupa untuk mengatur pengumpulan data biometrik sekaligus melindungi penggunanya dari hal-hal buruk ke depan.
Di saat situasi tidak menentu, Kompas.com tetap berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update terkini dan notifikasi penting di Aplikasi Kompas.com.