Meski Tajir Melintir, Suze Orman Tetap Terapkan 5 Kebiasaan Hemat Ini
Suze Orman dikenal luas sebagai salah satu pakar keuangan paling berpengaruh di Amerika Serikat. Namanya identik dengan literasi finansial, investasi, hingga nasihat bijak soal cara mengelola uang.
Mengutip dari Yahoo Finance, perempuan yang lahir pada tahun 1951 ini memiliki kekayaan bersih mencapai US$ 75 juta atau sekitar Rp 1.16 triliun (estimasi kurs Rp 16.478 per dolar AS). Walaupun kekayaannya mencapai jutaan dolar, Suze Orman tetap menjalani gaya hidup hemat dan sederhana.
Dalam sebuah wawancara, Orman menegaskan hidup hemat bukan soal keterpaksaan, melainkan bentuk penghormatan terhadap uang. Dikutip dari GoBankingRates, berikut frugal living yang masih dijaga Suze Orman meski ia bisa membeli hampir segalanya.
1. Menolak Makan di Luar
Banyak orang menganggap makan di restoran adalah gaya hidup modern. Bagi Orman, kebiasaan makan di luar merupakan sikap membuang uang tanpa alasan kuat.
“Saya benar-benar tidak suka menghabiskan uang untuk pergi makan di restoran. Itu terlalu mahal,” kata Orman.
Ia hanya sesekali makan di luar karena alasan tertentu, misalnya saat sedang bepergian atau menginap di hotel. Sisanya Orman lebih memilih memasak makanan sendiri di rumah, lebih sehat bagi tubuh maupun dompet.
2. Maksimalkan Masa Pakai Kendaraan
Ketika banyak orang mengganti mobil setiap tiga tahun sekali demi gengsi, Orman menganut pola pikir sebaliknya. Orman masih menggunakan mobil yang sudah ia miliki selama 12 tahun dan belum berencana untuk menggantinya.
Ia menyebut banyak orang membeli mobil baru hanya untuk flezing atau pamer, tidak peduli membelinya dengan berutang yang memberatkan. Menurut Orman, mobil adalah alat transportasi, bukan simbol status. Selama masih berfungsi baik, tidak ada alasan untuk buru-buru menggantinya.
3. Gaya Minimalis dalam Penampilan
Tidak hanya soal kendaraan, kesederhanaan Orman juga terlihat dari pilihan busana dan aksesori. Ia bercerita, perhiasan yang ia kenakan nyaris tidak pernah berganti.
Kalung yang dipakainya adalah kalung yang sama sejak tahun 1994, anting dan cincin pun telah digunakan selama puluhan tahun. Bahkan lebih mengejutkan, ia hanya memiliki satu tas yang dibeli pada tahun 1993.
Baginya, penampilan bukan diukur dari seberapa sering berganti barang mewah, melainkan dari rasa percaya diri. Prinsip ini menjadi contoh nyata bahwa konsistensi jauh lebih penting daripada mengikuti tren konsumtif.
4. Menabung untuk Dana Pensiun
Meski sudah kaya raya, Orman tetap disiplin menabung untuk pensiun. Menurutnya, cara mengelola tabungan pensiun adalah salah satu keputusan finansial paling krusial.
Ia menekankan bahwa banyak orang salah memilih jenis rekening pensiun hanya karena tergiur potongan pajak jangka pendek. Padahal, menurut Orman, pilihan lebih bijak adalah rekening dengan bunga lebih tinggi dari tabungan konvesional sehingga memperoleh imbal hasil yang lebih maksimal.
5. Bangun Dana Darutar dengan Strategi Cerdas
Selain pensiun, Orman sangat menekankan pentingnya dana darurat. Ia menyebut mayoritas orang di Amerika Serikat tidak memiliki tabungan darurat sebesar 400 dolar untuk kebutuhan mendesak.
Solusinya, ia menyarankan setiap orang membuka rekening tabungan khusus dana darurat. Targetkan menabung minimal US$100 per bulan sehingga dalam setahun sudah terkumpul 1.200 dolar ditambah bunga.
Menurut Orman, meski jumlahnya tampak kecil, langkah ini akan membangun kebiasaan positif sekaligus memberikan ketenangan pikiran. Dana darurat bukan hanya soal uang, melainkan juga tentang rasa aman menghadapi kejutan finansial.
Kisah Suze Orman menjadi bukti nyata bahwa kekayaan tidak harus mengubah gaya hidup menjadi boros. Dengan menolak kebiasaan konsumtif, memaksimalkan aset yang dimiliki, serta disiplin menabung untuk masa depan, ia menunjukkan bahwa prinsip hidup hemat tetap relevan, bahkan untuk seorang jutawan.
Kebiasaan sederhana seperti memasak di rumah, tidak tergoda membeli mobil baru, hingga menjaga dana darurat, bisa menjadi inspirasi siapa saja. Karena pada akhirnya, menghormati uang bukan soal jumlah, melainkan soal bagaimana cara kita mengelolanya.