Sejarah Motor 2 Tak yang Kini Dibangkitkan Kembali oleh Kawasaki
Jauh sebelum motor listrik dan teknologi injeksi menjadi tren seperti sekarang, dunia roda dua pernah dikuasai oleh motor bermesin 2-tak. Suara knalpot yang nyaring, akselerasi spontan, dan aroma khas oli samping menjadi bagian dari identitas motor yang sempat menjadi idola di berbagai negara, termasuk Indonesia.
Mesin 2-tak sebenarnya sudah dikenal sejak akhir abad ke-19. Konsepnya dikembangkan sebagai alternatif mesin pembakaran dalam yang lebih sederhana dibanding mesin 4-tak. Sesuai namanya, proses pembakaran pada mesin ini hanya membutuhkan dua langkah piston, yakni naik dan turun, untuk menghasilkan tenaga.
Karena siklus kerjanya lebih singkat, mesin 2-tak mampu menghasilkan tenaga lebih besar dibanding mesin 4-tak dengan kapasitas yang sama. Konstruksinya juga lebih sederhana karena tidak memerlukan banyak komponen seperti katup dan mekanisme penggerak katup.
Keunggulan tersebut membuat motor 2-tak berkembang pesat setelah Perang Dunia II. Pabrikan Jepang seperti Yamaha, Suzuki, Kawasaki, dan Honda sempat menghadirkan berbagai model 2-tak untuk kebutuhan harian maupun balap.
Pada era 1970-an hingga 1990-an, motor 2-tak menjadi primadona di berbagai belahan dunia. Di Indonesia, nama-nama seperti Yamaha RX-King, Suzuki RGR, Suzuki Satria 120R, Kawasaki Ninja 150, hingga Yamaha TZM menjadi simbol performa dan kebebasan berkendara bagi generasi muda saat itu.
Tidak hanya di jalan raya, mesin 2-tak juga mendominasi dunia balap motor. Karakter tenaganya yang eksplosif membuat teknologi ini menjadi pilihan utama di berbagai ajang kompetisi, termasuk Grand Prix sebelum akhirnya digantikan mesin 4-tak yang digunakan MotoGP saat ini.
Namun kejayaan motor 2-tak mulai memudar memasuki awal tahun 2000-an. Penyebab utamanya adalah regulasi emisi yang semakin ketat di berbagai negara.
Proses pembakaran pada mesin 2-tak dikenal kurang efisien dibanding mesin 4-tak. Sebagian campuran bahan bakar dan oli ikut terbuang melalui knalpot sehingga menghasilkan emisi yang lebih tinggi. Selain itu, konsumsi bahan bakarnya juga relatif lebih boros.
Seiring berkembangnya teknologi injeksi dan standar emisi global, banyak pabrikan akhirnya menghentikan produksi motor 2-tak untuk penggunaan jalan raya. Mesin 4-tak yang lebih bersih dan hemat menjadi pilihan utama industri otomotif.