Rawat Sport Tourism, Banyuwangi Ubah Jalan Protokol Jadi Sirkuit Balap Sepeda
Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, termasuk daerah di Indonesia yang menawarkan ekosistem sport tourism yang kuat. Salah satunya lewat ajang Banyuwangi Criterium League (BCL) yang diadakan dari Jumat (29/5/2026) sampai Minggu (31/5/2026).
Saat BCL, jalan raya di pusat kota berubah menjadi sirkuit balap sepeda berkecepatan tinggi yang menghadirkan aksi ratusan atlet dari berbagai daerah.
Sebanyak 220 riders dari 33 daerah di Indonesia ambil bagian dalam ajang ini, dari Bandung, Jakarta, Yogyakarta, Surabaya, Makassar, Bali, hingga Lombok.
Mereka datang untuk bersaing dalam lintasan criterium yang dikenal cepat, teknis, dan menuntut strategi di setiap putarannya.
Balap sepeda di Banyuwangi, wujud ekosistem sport tourism
Sejak pagi hingga sore pada Sabtu (30/5/2026), Jalan Ahmad Yani di pusat Kota Banyuwangi dipadati suasana berbeda dari biasanya.
Jalan yang sehari-hari menjadi jalur utama mobilitas warga itu disulap menjadi lintasan sepanjang sekitar 1,1 kilometer yang harus dilalui berulang kali sesuai kategori lomba.
Deru sepeda, sorakan penonton, dan ketegangan di setiap tikungan menghadirkan atmosfer khas balap criterium: Cepat, padat, dan penuh adrenalin dalam ruang kota yang terbuka untuk publik.
BCL mempertandingkan tiga kategori utama yakni Road Bike, Fixie, dan BMX. Masing-masing kategori dibagi lagi ke dalam kelas usia dan komunitas, mulai dari Mini Bike U-12, Pra-Youth, Youth, Junior, Women Open, hingga Men Elite.
Setiap kelas memiliki jumlah lap berbeda, menyesuaikan tingkat kemampuan dan usia peserta.
Kategori Mini Bike U-12 menempuh 2 lap, sedangkan BMX 12+ sebanyak 3 lap. Untuk kategori Road Bike, Women Open menempuh 15 lap, Men Youth 18 lap, dan kelas Junior hingga 21 lap.
Tantangan terberat berada pada kategori Men Elite dan Fixie Senior yang harus menyelesaikan hingga 27 lap atau hampir 30 kilometer di lintasan pendek yang sama, membuat intensitas balapan terus tinggi tanpa ruang jeda panjang.
Dipilih jadi tuan rumah karena konsisten
Banyuwangi Criterium League jadi upaya menjaga ekosistem sport tourism di Banyuwangi. Bagaimana keseruannya?
Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Banyuwangi, Dwi Handayani mengatakan, Banyuwangi dipilih sebagai tuan rumah karena konsistensinya dalam mengembangkan sport tourism. Berbagai event olahraga berskala nasional hingga internasional telah rutin digelar di daerah ini.
Menurutnya, Banyuwangi tidak hanya menawarkan lokasi, tetapi juga pengalaman menyeluruh bagi atlet dan pengunjung, mulai dari infrastruktur, dukungan komunitas, hingga daya tarik wisata.
“Banyuwangi sudah dikenal sebagai kota sepeda dan daerah sport tourism yang berpengalaman dalam menggelar berbagai kejuaraan,” ujar Dwi.
Salah satu peserta kategori Women Open, Crismonita Dwi Putri, mengaku senang kembali berlaga di Banyuwangi. Menurutnya, kota ini memberikan pengalaman yang berbeda dibandingkan lokasi lain.
Ia menyebut Banyuwangi memiliki suasana yang mendukung bagi atlet, baik dari sisi fasilitas maupun atmosfer kota.
“Sudah beberapa kali saya ikut kejuaraan di Banyuwangi. Kuliner dan penginapannya enak, dan suasana kotanya mendukung,” kata Crismonita.
Hal serupa disampaikan pembalap asal Bandung, Ibrahim Kayyis yang menilai sirkuit criterium di pusat kota Banyuwangi cukup menantang.
Cuaca panas juga menjadi faktor yang menguji ketahanan fisik para peserta sepanjang perlombaan.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang