Akal Bulus Kiai Ashari Kelabui Santriwati, Sengaja Gak Punya Kamar Tetap!
Kasus dugaan pencabulan yang menyeret Kiai Ashari kembali memunculkan fakta baru. Dalam pengakuan sejumlah korban dan keluarga santri, terungkap berbagai cara yang diduga digunakan pengasuh Pondok Pesantren Ndholo Kusumo, Kabupaten Pati itu untuk melancarkan aksinya terhadap para santriwati.
Salah satu hal yang paling disorot adalah kebiasaan Ashari yang disebut sengaja tidak memiliki kamar tidur tetap di lingkungan pesantren. Ia dikabarkan kerap berpindah-pindah kamar sesuai keinginannya, sehingga memudahkan dirinya memanggil santriwati untuk menemaninya pada malam hari. Scroll untuk tahu cerita lengkapnya, yuk!
Fakta tersebut diungkap dalam podcast milik Denny Sumargo melalui kesaksian Tari, salah satu korban sekaligus putri dari Pak Di, pria yang disebut ikut merintis pembangunan pondok pesantren tersebut.
"Kalau kamarnya Pak Kiai itu tidurnya ganti-ganti, enggak menetap. Dulu Pak Kiai itu enggak punya tempat tetap, enggak punya. Tidurnya ya sesuai keinginannya gitu," jelas perempuan 20 tahun tersebut, dikutip Minggu 10 Mei 2026.
Santriwati Korban Pencabulan Kiai Ashari
Menurut keterangan keluarga korban, tersangka diduga memiliki pola tertentu dalam memilih santriwati yang dipanggil untuk menemaninya. Salah satu modus yang digunakan adalah meminta dipijat pada malam hari.
Pak Di mengaku mulai curiga setelah melihat tersangka sering mengganti santriwati yang diminta memijat. Jika merasa tidak cocok dengan seorang santri, Ashari disebut mencari alasan agar perempuan tersebut diganti dengan yang lain.
"Ketika dianya, itu tidak cocok dengan yang satu, alasannya pijatannya kurang enak," ungkap Pak Di menjelaskan alibi tersangka.
Tak hanya itu, Tari juga mengungkap bahwa tersangka diduga memilih korban berdasarkan penampilan fisik. Ia bahkan pernah mempertanyakan langsung alasan santriwati tertentu tidak pernah dipanggil untuk menemani atau memijat sang kiai.
"Kenapa sih mbak ini, yang kurang... maaf ya, kurang cantik lah gitu, kok enggak pernah disuruh? Ya disuruh seperti saya gitu, memijat atau menemani tidur atau apa gitu. Terus jawabannya Pak Kiai, 'ya orang itu sudah manut, udah enggak ada penyakit'," tutur Tari menirukan ucapan pelaku.
Dalih penyembuhan spiritual juga disebut menjadi salah satu cara tersangka memengaruhi para santriwati. Mayoritas korban memilih diam karena takut dan merasa tertekan secara psikologis. Mereka disebut diancam bisa putus sanad ilmu jika menolak perintah sang kiai.
Meski demikian, Tari mengaku memiliki cara sendiri untuk menghindari hal-hal yang lebih buruk saat diminta menemani Ashari tidur. Ia memilih tetap terjaga dan berpura-pura tidur sepanjang malam.
"Biasanya aku enggak pernah tidur beneran, enggak pernah, cuma merem aja gitu. Kadang cuma dilihatin video ceramah-ceramah gitu aja. Kalau biasanya ya udah diam aja gitu," ucap Tari.
Namun pengalaman traumatis tetap dialaminya. Tari mengaku pernah dikunci dari luar kamar oleh tersangka saat sedang berpura-pura tidur.
"Pernah kejadian itu saya kan nemenin tidur, itu saya dikunci dari luar. Saya itu kan kalau nemenin tidur kan enggak tidur beneran, pura-pura tidur gitu. Terus Pak Kiai itu pergi, terus ngunci saya dari luar. Terus saya batin dalam hati saja, 'ngapain gitu kan', terus kok ada suara lagi di kamar lain gitu," beber Tari.
Saat ini Kiai Ashari telah ditahan oleh pihak kepolisian sejak awal Mei 2026. Proses penyidikan masih terus berjalan, sementara para korban mendapat pendampingan dari Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) serta psikolog untuk membantu pemulihan trauma mereka.