Dua Mantan PM Israel Bersatu Jelang Pemilu, Siap Tumbangkan Netanyahu dari Kursi Kekuasaan

Dua mantan PM Israel Naftali Bennett dan Yair Lapid bersatu gulingkan Netanyahu
Dua mantan PM Israel Naftali Bennett dan Yair Lapid bersatu gulingkan Netanyahu

Dua mantan perdana Menteri Israel, Naftali Bennett dan Yair Lapid, rival politik terbesar Benjamin Netanyahu menyatakan akan Bersatu membentuk koalisi untuk menantangnya dalam pemilu yang diperkirakan akan digelar pada akhir tahun ini.

Keduanya mengumumkan penggabungan partai mereka yakni Bennett 2026 dan There is a Future menjadi Together. Aliansi ini dibentuk untuk menyatukan kubu oposisi yang terpecah, yang tampaknya tidak memiliki banyak kesamaan selain sama-sama menentang Netanyahu.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

“Saya dengan senang hati mengumumkan bahwa malam ini, bersama sahabat saya Yair Lapid, kami mengambil langkah paling Zionis dan paling patriotik yang pernah kami lakukan untuk negara kami,” kata Bennett dalam pernyataannya seperti dikutip dari laman Al Jazeerah, Senin 27 April 2026.

Dalam kesempatan yang sama, Lapid mengatakan,  langkah ini bertujuan menyatukan blok, mengakhiri perpecahan internal, dan memfokuskan seluruh upaya untuk memenangkan pemilu yang akan dating serta membawa Israel melangkah maju ke masa depan. 

Bennett juga menyatakan bahwa jika terpilih, ia akan membentuk komisi penyelidikan nasional terkait serangan Hamas 7 Oktober 2023 lalu yang ditolak oleh pemerintahan Netanyahu.

Sebagai informasi, Lapid dan Bennett selama ini dikenal sebagai pengkritik keras cara Netanyahu menangani konflik sejak serangan tersebut. Lapid bahkan menyebut gencatan senjata dua minggu dengan Iran sebagai 'bencana politik'.

Bennett dan Lapid sebelumnya juga pernah bekerja sama pada pemilu 2021. Keduanya 

berhasil mengakhiri kekuasaan Netanyahu yang telah berlangsung selama 12 tahun berturut-turut. 

Namun, koalisi yang mereka bentuk hanya bertahan sekitar 18 bulan. Sebelumnya, pada 2013, mereka juga masuk ke dalam pemerintahan koalisi Netanyahu, yang saat itu membuat sekutu tradisional Netanyahu dari kelompok ultra-Ortodoks tersisih.

Netanyahu, menjadi perdana menteri terlama dalam sejarah Israel, kembali berkuasa setelah memenangkan pemilu November 2022 dan membentuk pemerintahan paling sayap kanan dalam sejarah negara itu.

Namun, serangan Hamas pada Oktober 2023 di Israel selatan yang dibalas Israel dengan perang besar di Gaza serta serangkaian serangan ke beberapa negara tetangga dalam beberapa tahun terakhir, membuat citra keamanan Netanyahu terpukul. Sejak itu, berbagai survei menunjukkan ia berpotensi kalah dalam pemilu berikutnya yang dijadwalkan paling lambat akhir Oktober.

Sementara itu Bennett merupakan mantan komando militer yang kemudian menjadi jutawan di bidang teknologi, dalam sejumlah survei masih berada di bawah Netanyahu. Survei N12 News Israel pada 23 April menunjukkan Bennett meraih 21 kursi di parlemen (Knesset) yang berjumlah 120 kursi, sementara Netanyahu melalui partai Likud memperoleh 25 kursi.

Survei tersebut juga mencatat partai Lapid hanya meraih tujuh kursi, turun jauh dari 24 kursi yang saat ini dimilikinya.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Hasil ini sejalan dengan berbagai survei sebelumnya dari lembaga akademik dan media Israel lainnya yang menempatkan Bennett sebagai penantang utama Netanyahu.

Sedangkan Lapid, mantan pembawa berita televisi, mengklaim mewakili kelas menengah sekuler Israel, yang belakangan semakin geram terhadap apa yang mereka anggap sebagai beban pajak dan kewajiban militer yang tidak adil.