DPR: Rantai Pasok Baterai Harus Terintegrasi dari Hulu ke Hilir

Ketua Fraksi PAN DPR RI Putri Zulkifli Hasan
Ketua Fraksi PAN DPR RI Putri Zulkifli Hasan

 Ketua Tim Kunjungan Kerja Komisi XII DPR RI, Putri Zulkifli Hasan, menegaskan pengembangan industri baterai nasional menjadi agenda strategis pemerintah dalam mendukung transisi energi bersih dan memperkuat ekonomi rendah karbon.

Hal tersebut disampaikan Putri saat meninjau proyek ekosistem baterai kendaraan listrik di Karawang, Jawa Barat Jumat 17 April 2026.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Menurut Putri, kebijakan hilirisasi mineral yang dijalankan pemerintah kini tidak lagi hanya berfokus pada peningkatan nilai tambah sumber daya alam, tetapi juga diarahkan untuk membangun rantai pasok industri yang terintegrasi dari sektor pertambangan hingga manufaktur.

“Melalui kebijakan hilirisasi, pemerintah mendorong terbentuknya rantai pasok yang terintegrasi dari sektor hulu pertambangan hingga hilir industri manufaktur baterai. Hal ini menjadikan keterkaitan antara sektor energi, minerba, dan industri semakin erat dan strategis,” kata Putri dalam keterangan resminya, Sabtu 18 April 2026.

Ia menjelaskan bahwa transformasi industri berbasis energi bersih kini menjadi salah satu prioritas nasional. Menurutnya, pengembangan ekosistem baterai di dalam negeri dapat menjadi fondasi penting untuk meningkatkan daya saing Indonesia di tengah perubahan industri global.

Putri menilai Indonesia memiliki peluang besar karena didukung cadangan mineral strategis seperti nikel, kobalt, mangan, hingga tembaga yang dibutuhkan sebagai bahan baku utama baterai. Potensi tersebut dinilai harus dimanfaatkan melalui industrialisasi agar manfaat ekonominya dapat dirasakan lebih luas.

Selain memperkuat industri, pengembangan ekosistem baterai juga dinilai dapat membuka lapangan kerja baru, meningkatkan kemampuan teknologi nasional, dan memperbesar peluang Indonesia masuk dalam rantai pasok global industri baterai.

Pada kesempatan yang sama, Direktur Utama Indonesia Battery Corporation (IBC) Aditya Farhan Arif menyampaikan fasilitas produksi baterai di Karawang ini ditargetkan mulai beroperasi secara komersial pada awal kuartal tiga tahun ini. 

"IBC sebagai Anggota Grup MIND ID berkomitmen untuk memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global baterai sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi yang kuat, yang sesuai dengan mandat dari Asta Cita Presiden," sebutnya.

Aditya menyampaikan fasilitas produksi baterai ini memproduksi baterai ion lithium dengan komposisi kimia NMC (nickel manganese cobalt) dan LFP (lithium ferro phosphate), yang mana kedua tipe ini dibutuhkan untuk mendukung agenda transisi energi nasional. 

Saat ini, pasar baterai LFP di dunia dan Indonesia sudah terbentuk namun untuk pasar baterai NMC masih dalam tahap pertumbuhan. Oleh karena itu, IBC konsisten mendukung pemerintah untuk terus menstimulasi pengembangan pasar baterai nikel.

Berdasarkan data yang dihimpun oleh IBC, mobil listrik yang menggunakan baterai jenis NMC di dunia telah mencapai 40%, namun di Indonesia pasar baterai NMC baru berkisar 4%. 

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Hal itu juga terlihat dari data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (GAIKINDO) yang baru-baru ini dirilis. Tahun lalu penjualan mobil listrik di Tanah Air telah mencapai lebih dari 10.930 unit, dengan rincian yang menggunakan baterai jenis LFP sebanyak 99.613 unit sementara baterai jenis NMC hanya 4.317 unit.

“Kami mendukung pemerintah dan legislatif untuk membuat kebijakan bagi penguatan pasar domestik bagi kendaraan baterai berbasis nikel, guna memperkuat daya tawar Indonesia di pasar global, sehingga pada akhirnya akan semakin memperkuat keunggulan kompetitif nasional," pungkasnya.