Tragis! Rekor Fantastis Hansi Flick Berakhir di Camp Nou
Kekalahan 0-2 dari Atletico Madrid di leg pertama perempat final Liga Champions UEFA meninggalkan luka mendalam bagi Barcelona. Lebih dari sekadar hasil, laga ini juga mencatat rekor buruk pertama bagi pelatih Hansi Flick.
Untuk pertama kalinya sepanjang kariernya di fase gugur Liga Champions, tim asuhan Flick gagal mencetak gol. Sebelumnya, dalam 17 laga knockout saat menangani Bayern Munchen maupun Barcelona, timnya selalu mampu menjebol gawang lawan.
Malam kelam di Camp Nou itu semakin terasa pahit setelah Blaugrana mengalami momen krusial hanya dalam waktu dua menit jelang turun minum. Bek muda Pau Cubarsi diganjar kartu merah pada menit ke-44 usai pelanggaran keras terhadap Giuliano Simeone yang ditinjau VAR.
Belum sempat bangkit, Barcelona kembali terpukul. Julian Alvarez sukses mengeksekusi tendangan bebas menjadi gol pembuka untuk Atletico.
Di babak kedua, meski bermain dengan 10 orang, Barcelona tetap mencoba memberikan perlawanan. Namun rapatnya pertahanan Atletico membuat upaya Lamine Yamal dan kawan-kawan selalu kandas.
Alih-alih menyamakan skor, gawang Barcelona justru kembali bobol. Alexander Sorloth memastikan kemenangan tim tamu lewat gol di menit ke-70.
Hasil ini membuat Barcelona berada di ujung tanduk. Mereka wajib menang minimal dua gol saat bertandang ke markas Atletico di Riyadh Air Metropolitano pada leg kedua jika ingin menjaga asa ke semifinal.
Jika mampu membalikkan keadaan, Barcelona akan menghadapi pemenang duel antara Arsenal melawan Sporting CP, di mana Arsenal unggul 1-0 pada leg pertama berkat gol telat Kai Havertz.
Meski baru saja mencatat hasil buruk, rekam jejak Flick di Liga Champions tetap impresif. Ia pernah membawa Bayern Munchen menjuarai Liga Champions musim 2019/2020, termasuk kemenangan ikonik 8-2 atas Barcelona di perempat final, sebelum mengalahkan Paris Saint-Germain di final.
Bersama Barcelona musim lalu, Flick juga sukses menembus semifinal sebelum disingkirkan Inter Milan dalam duel dramatis.
Kini, tantangan besar menanti Flick. Selain harus mengejar defisit di Liga Champions, Barcelona juga tengah bersaing di papan atas LaLiga dan bersiap menghadapi derby kontra Espanyol.
Tekanan jelas meningkat, namun peluang belum sepenuhnya tertutup. Barcelona masih punya satu kesempatan terakhir untuk membalikkan keadaan—dan menjaga mimpi Eropa tetap hidup.