Makna Filosofi Detail Prewedding Jennifer Coppen dan Justin Hubner, dari Paes hingga Cunduk Mentul

Baru-baru ini kabar bahagia datang dari pesepakbola andalan timnas Indonesia, Justin Hubner, yang membagikan momen spesial bersama pasangannya, Jennifer Coppen.
Melalui sesi foto prewedding bernuansa adat Jawa klasik, keduanya tampil anggun dan sarat makna, memadukan keindahan visual dengan filosofi kehidupan yang dalam.
Unggahan tersebut langsung mencuri perhatian publik. Di mana artis sekaligus konten kreator itu tampil berbeda dengan riasan paes dan sanggul khas Jawa yang memancarkan aura elegan sekaligus ketefuhan. Sedangkan pemain Fortuna Sittard hadir gagah dalam balutan busana tradisional yang memperkuat kesan sakral.
“Dua hati, satu perjalanan. Dalam balutan tradisi, kami memulai kisah abadi,” tulis Jennifer Coppen dalam unggahannya di Instagram.
Sentuhan Tradisi dalam Balutan Elegansi
Pengamat sekaligus profesional make up artist asal Surabaya, Ratih Lestiowardani, menilai tampilan Jennifer Coppen dalam sesi tersebut sangat kental dengan pakem adat Jawa klasik.
“Yang jelas dari kebaya nya bludru pendek. Model kartini, simple ga banyak bordir. aksesories nya juga classic sesuai pakem,” ujar MUA yang biasa disapa Tea itu kepada Kompas.com.
Menurutnya, kesederhanaan justru menjadi kekuatan utama. Tidak berlebihan, tapi tetap memancarkan keanggunan khas pengantin Jawa.
Lebih dari sekadar estetika, setiap elemen yang dikenakan memiliki makna filosofis mendalam. Ia menjelaskan bahwa aksesori yang digunakan bukan hanya pelengkap, melainkan simbol doa dan harapan dalam kehidupan rumah tangga.
“7 (pitu-dalam bahasa Jawa) kembang goyang/cunduk mentul dipasang sebagai simbol diharapkan banyak pitulungan (pertolongan) dalam menghadapi tantangan berumahtangga nantinya,” tutur Ratih Lestiowardani.
Tidak hanya itu, ada pula centhung yang melambangkan kesiapan seorang perempuan memasuki fase baru sebagai istri.
“Sepasang centhung yg melambangkan seorang siap memasuki gerbang pernikahan dan menjadi seorang istri.”
“Cunduk jungkat atau wulan tumanggal yang berbentuk bulan sabit yang menegaskan bahwa kehidupan di dunia sepenuhnya diserahkan pada Tuhan YME, jd seorang istri harus pandai2 ber-tawakal,” imbuhnya.
Foto prewedding Justin Hubner dan Jennifer Coppen.
Paes dan Riasan yang Sarat Makna
Salah satu elemen paling mencolok adalah paes khas Solo Putri yang dikenakan Jennifer Coppen. Bentuknya yang khas memperkuat identitas budaya sekaligus menyimpan nilai filosofis mendalam.
“Berbentuk U tumpul (gajahan), kalo adat Jogja lebih runcing. Maknanya sama melambangkan keagungan Tuhan. Overall bentuk paes juga merupakan simbol dari keanggunan, kebijaksanaan, dan pengendalian diri seorang istri,” tutur perempuan yang mulai terjun di MUA sejak 2017 itu.
Dimana riasan wajah pun dibuat mengikuti pakem klasik Jawa, dengan sentuhan warna hangat yang lembut namun tegas.
“Untuk riasan juga klasik pakem Jawa, foundation kekuningan (warm tone), eyeshadow coklat dan lipstick merah. Peletakan countour dan blush juga mengikuti gaya klasik,” sambungnya.
Harmoni Budaya dalam Busana Pengantin
Tak hanya Jennifer Coppen, penampilan Justin Hubner juga tidak kalah menarik. Ia mengenakan beskap Langenharjan yang memiliki nilai sejarah panjang sebagai hasil akulturasi budaya.
“Untuk yang laki-laki groom-nya mengenakan beskap Langenharjan yang merupakan alkulturasi budaya Jawa dan Eropa yang memang di dalam keraton Pura Mangkunegaran Surakarta menggunakan yg seperti itu sejak abad 19,” ujar Ratih.
Sehingga kombinasi busana keduanya menciptakan harmoni yang memperkuat pesan bahwa pernikahan bukan hanya tentang dua individu, tetapi juga pertemuan nilai, tradisi, dan harapan.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang